Pesanggrahan Ambarketawang, Keraton Pertama Kesultanan Yogyakarta

162
Pesanggrahan Ambarketawang, Keraton Pertama Kesultanan Ngayogyakarta
Foto: navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/

1001indonesia.net – Pesanggrahan Ambarketawang merupakan tempat peristirahatan yang dibangun oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan tersebut memiliki sejarah yang penting karena digunakan sebagai keraton pertama oleh Kasultanan Ngayogyakarta selama setahun, tepatnya dari 9 Oktober 1755 hingga 7 Oktober 1756.

Saat itu, sambil menunggu dibangunnya Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana I menempati Pesanggrahan Ambarketawang sebagai keraton sementara. Sebab itu, pesanggrahan ini juga disebut sebagai Petilasan Kraton Ambarketawang.

Pesanggrahan Ambarketawang terletak di sebelah barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya dekat dengan Cagar Alam Gunung Gamping.

Desa Ambarketawang di mana pesanggrahan tersebut berada terbentuk berdasarkan Maklumat Pemerintah Provinsi Yogyakarta pada 1946 yang menggabungkan empat desa, yakni Desa Gamping, Desa Mejing, Desa Bodeh, dan Desa Kalimanjung, menjadi satu desa. Desa hasil gabungan tersebut kemudian dinamakan Desa Ambarketawang untuk mengabadikan nama pesanggarahan peninggalan Keraton Ngayogyakarta itu.

Ambarketawang sendiri berasal dari kata ambar (harum atau wangi) dan ketawang atau tawang (langit atau tempat yang tinggi). Jadi Ambarketawang berarti bau harum yang memenuhi angkasa.

Bekakak

Setiap Bulan Sapar (bulan kedua dalam penanggalan Jawa), di tempat ini diadakan perayaan ritual penyembelihan bekakak. Bekakak adalah sepasang boneka dari tanah liat/gerabah berisi beras ketan dan gula jawa. Ritual ini untuk memperingati jasa-jasa abdi dalem keraton bernama Ki Wirosuto, yang wafat di Gunung Gamping saat membantu Pangeran Mangkubumi membangun Keraton Yogyakarta.

Akibat dari Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton Mataram dibagi menjadi 2, yaitu Surakarta Hadiningrat dang Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat itu, Kasultanan Ngayogyakarta belum memiliki keraton sebagai pusat pemerintahan.

Sebab itu, Pangeran Mangkubumi dibantu 3 penasihatnya, yaitu Ki Wirodrono, Ki Wirojombo, dan Ki Wirosuto, memerintahkan Adipati Jayaningrat untuk membangun pesanggrahan keraton sementara di wilayah Gamping Ambarketawang. Dulu, di wilayah ini terdapat perbukitan batu gamping. Batu gamping adalah bahan campuran untuk dinding rumah (semen di masa itu).

Saat membantu proses pembangunan di lokasi penggalian di gunung gamping Ambarketawang terjadilah kecelakaan yang menimpa Ki Wirosuto. Ki Wirosuto beserta keluarganya terkubur hidup-hidup di gua penggalian batu gamping.

Meninggalnya Ki Wirosuto beserta keluarga membuat Pangeran Mangkubumi sangat bersedih. Ia meminta digelar ritual sesaji berupa bekakak beserta uborampe kembang sebagai penghormatan terhadap tewasnya Abdi Dalem Ki Wirosuto.

Kini ritual tahunan setiap bulan Sapar ini diperingati warga dan Pemerintah Sleman. Puncak ritual adalah penyembelihan Boneka Bekakak untuk mengenang pengorbanan Ki Wirosuto beserta keluarga yang tewas di bukit gamping ini.

Saat ini gunung gamping sudah tidak ada, telah berubah menjadi pemukiman warga. Yang tersisa hanya sebongkah batu besar sisa gunung gamping. Tempat ini dikeramatkan atau dianggap sakral oleh masyarakat sekitar, dan sering dikunjungi peziarah dari berbagai kota.

Tinggal Reuntuhan

Saat ini, Pesanggrahan Ambarketawang hanya tersisa puing-puing, nyaris tak berbentuk lagi. Itu sebabnya, pesanggrahan yang berada ditengah pemukiman warga tersebut lebih dikenal sebagai Petilasan Kraton Ambarketawang.

Tembok besar yang kondisinya sudah tidak utuh di depan rumah tinggal warga diperkirakan merupakan tembok paling depan dari pesanggrahan ini. Sedangkan tanah kosong yang berada di sebelah timur tembok itu diyakini merupakan pintu gerbang menuju bagian dalam pesanggrahan.

Di sebelah selatan tembok terdapat pekarangan yang kini ditumbuhi pohon-pohon besar. Diperkirakan, pekarangan tersebut merupakan bekas alun-alun pesanggrahan. Sementara tembok yang berada di sebelah selatan pekarangan tersebut merupakan bekas kandang kuda.

Hal yang menarik di tempat itu adalah keberadaan sumur kuno yang diyakini bertuah. Air dari sumur yang berusia sama dengan Pesanggrahan Ambarketawang ini dipercaya mengandung berkah dan mampu menyembuhkan beragam penyakit. Hingga kini, air sumur itu masih digunakan warga setempat, terutama bila ada anggota keluarga yang menderita sakit.

Bangunan berlantai semen yang telah berlumut di sekitar kawasan tersebut diyakini merupakan bagian dari bangunan lantai atas pesanggrahan ini. Bangunan itu merupakan satu-satunya bangunan lantai atas istana yang masih bisa dijumpai sebab bangunan lantai atas lainnya telah hilang dan bangunan lantai bawahnya hingga kini tertimbun tanah.

Sebagai tempat wisata, Pesanggrahan Ambarketawang memang kurang menarik karena hanya tersisa puing-puing saja.Pada umumnya, pengunjung yang datang ke tempat ini bukan untuk berwisata, melainkan untuk melakukan penelitian tentang situs bersejarah ini. Sebagian lain sekadar penasaran dan ingin melihat langsung petilasan Sultan Hamengkubowono I tersebut.

LEAVE A REPLY

10 − one =