Pacu Jawi, Pacuan Sapi Khas Minang yang Mendunia

302
Pacu Jawi, Pacuan Sapi Khas Minang yang Mendunia
Foto: Quentin K/Flickr

1001indonesia.net – Pacu jawi merupakan atraksi pacuan sapi yang dilombakan di Kabupaten Tanah Datar, khususnya di empat kecamatan, yaitu Sungai Tarab, Rambatan, Limo Kaum, dan Pariangan. Perhelatan olahraga tradisional khas Minangkabau tersebut dilaksanakan selama empat minggu secara bergiliran di empat kecamatan itu.

Jika dilihat sekilas, pacu jawi mirip dengan karapan sapi di Madura. Keduanya, sama-sama merupakan pacuan sepasang sapi yang dikendalikan oleh seorang joki. Di Sumatra Barat, sapi biasa disebut dengan jawi. 

Pada pacuan khas Minang itu, sepasang sapi yang telah dipasangkan bingkai bajak (terbuat dari kayu yang digunakan untuk membajak sawah) dipacu oleh seorang joki dengan berpijak di kedua ujung bingkai bajak tersebut sambil memegang kedua ekor sapi.

Namun, pacu jawi memiliki sejumlah perbedaan dengan karapan sapi. Arena lomba yang digunakan keduanya berbeda. Jika karapan sapi diadakan di sawah yang kering, pacu jawi menggunakan sawah sehabis panen yang masih berlumpur. Selain itu, untuk mempercepat lari sapi, joki pacu jawi tidak menggunakan tongkat seperti karapan sapi. Mereka biasanya menggigit ekor sapi.

Ada beberapa kriteria sawah yang bisa digunakan sebagai arena. Pertama, tentu saja sawah tersebut harus berlumpur dan berair. Dengan demikian, diperlukan adanya saluran irigasi yang bisa mengairi sawah. Kedua, sawah tersebut harus cukup luas dan lurus dengan panjang sekitar 100 meter. Ketiga, tanahnya tidak lengket (seperti tanah liat) dan tidak berpasir/berkerikil.

Di samping itu, di sisi arena pacu harus ada petak sawah berlumpur, tempat jalan sapi dari tempat menambatkan sapi ke area start di arena pacu. Petak sawah tempat itu juga berfungsi untuk menjaga agar kaki sapi tidak cidera ketika berlari melenceng dari arena pacu.

Jumlah sapi yang ikut dalam kegiatan pacu jawi bisa mencapai 300 hingga 800 ekor. Untuk itu diperlukan beberapa petak sawah kering sebagai tempat menambatkan sapi.

Pacuan sapi khas Sumatra Barat ini telah ada sejak ratusan tahun lalu. Awalnya, pacu jawi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para petani sehabis musim panen untuk mengisi waktu luang sambil menunggu masa tanam berikutnya. Permainan tersebut menjadi sarana hiburan bagi masyarakat setempat dan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang didapat.

Perhelatan olahraga tradisional ini paling ditunggu oleh fotografer, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa foto pacu jawi banyak yang memenangkan lomba fotografi, baik tingkat nasional maupun internasional.

Selain sebagai sarana hiburan dan pariwisata, perhelatan pacu jawi juga berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Saat persiapan, warga bergotong royong membersihkan arena dan melancarkan saluran irigasi. Begitu juga setelah selesai kegiatan pacu jawi, warga bergotong royong meratakan lumpur dan membersihkan petak-petak sawah sehingga siap untuk ditanam kembali.

Ibu-ibu dari nagari tuan rumah juga tidak ketinggalan turut berpartisipasi. Mereka bergotong royong membuat makanan khas daerah yang kemudian dikemas dalam dulang yang dibungkus dengan kain berwarna-warni.

Makanan itu dibawa dengan ditaruh di atas kepala. Mereka kemudian berjalan ke lokasi dengan berarak-arak bersama ninik mamak tuan rumah dan sapi-sapi yang sudah dirias. Selanjutnya makanan ini disajikan untuk para ninik mamak dan tokoh masyarakat yang datang dari keempat kecamatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + two =