Karapan Sapi, Tradisi Madura yang Terus Dipelihara

oleh Ach. Fadil

1409
Karapan Sapi Madura
Karapan sapi merupakan tradisi perlombaan sapi khas Pulau Madura yang terkenal hingga mancanegara. (Foto: farm4.staticflickr.com)

1001indonesia.net – Karapan sapi (bisa ditulis “kerapan sapi”) merupakan tradisi balapan sapi khas Pulau Madura yang terkenal hingga mancanegara. Tradisi ini begitu melekat dalam kebudayaan masyarakat Madura. Meskipun terdapat pro dan kontra atas pelaksanaannya yang dinilai mengandur unsur mistik dan kekerasan terhadap sapi, tradisi balapan ini tetap dipelihara sampai sekarang.

Sosok Ikonik dalam Sejarah

Tidak begitu jelas asal mula tradisi keraban sape (karapan sapi) di Madura. Namun, beberapa sumber mengklaim ada sosok ikonik yang diyakini sebagai pemula tradisi pacuan tersebut. Adalah Pangeran Katandhur, dikenal juga dengan nama Kiai Ahmad Baidawi, yang disebut sebagai sosok yang pertama kali mentradisikan karapan sapi.

Katandhur, menurut sejarah yang diyakini, adalah seorang ulama utusan Sunan Kudus untuk berdakwah di Madura pada sekitar abad ke-15 M. Oleh Sunan, dia hanya dibekali dengan jhenggel jhegung (tongkol jagung) sebanyak dua buah. Mula-mula yang ia lakukan saat sampai di Madura (Sepudi, Sumenep) adalah mengajarkan cara bercocok tanam jagung kepada masyarakat. Konon, jagung itu ajaib. Hanya memerlukan waktu satu hari untuk dipanen setelah biji jagung ditanam.

Masyarakat Madura kemudian berduyun-duyun mendatangi Katandhur untuk belajar bercocok tanam semacam itu. Namun, Katandhur hanya akan bersedia mengajari mereka dengan beberapa syarat berikut: saat mau melubangi tanah, harus membaca kalimat basmalah; saat memasukkan biji jagung ke lubang tadi, harus membaca dua kalimat syahadat; dan saat memanennya harus pula membaca kalimat hamdalah. Melalui medium bercocok tanam inilah, nilai-nilai keislaman ditanamkan ke dalam hati sanubari masyarakat Madura.

Pada perkembangan selanjutnya, tidak begitu jelas alasan Katandhur, dia bermunajat kepada Tuhan untuk mengubah masa panen tanam jagung itu menjadi seratus hari. Permintaan pun dikabulkan, dan masa panen jagung tersebut benar-benar sesuai dengan harapan Katandhur.

Sebagai tokoh yang mula-mula mengajarkan cara bercocok tanam jagung, Katandhur mulai berpikir bahwa menanam jagung yang hanya memakai tenaga manusia semata dinilai kurang efektif. Maka dia mencari cara lain untuk menyiasatinya, yaitu dengan menggunakan tenaga hewan untuk membantu kerja manusia.

Dipilihlah sepasang sapi sebagai medium yang dinilai kuat untuk melakukan pekerjaan itu.
Sepasang sapi tadi kemudian dilengkapi dengan beberapa peralatan utamanya, yaitu pangonong dan nanggeleh. Lalu si petani mengikuti dari belakang untuk membajak (nyakak/ananggele) ladang/sawah (teggel, sabhe) yang akan ditanami jagung. Cara ini tambah digemari masyarakat Madura karena pekerjaan mereka menjadi lebih mudah dan cepat.

Kemudian, Katandhur menjadikan pekerjaan ini lebih menyenangkan dengan mengadakan “pesta panen”, yakni dengan mengadakan perlombaan adu balap sapi sesaat setelah musim panen jagung dengan iringan musik tradisional.

Perhelatan lomba ini sebenarnya tidak lepas dari misi keislaman yang ingin didakwahkan oleh Katandhur. Sehingga, pada saat perhelatan itu, juga dijadikan momentum untuk berzakat kepada orang-orang fakir dan miskin yang dikenal dengan kaum mustahiqqin (mereka yang berhak menerima zakat) dalam terminologi Islam.

Transformasi Karapan Sapi

Sejak ditradisikan Katandhur, karapan sapi kemudian menjadi sebuah tradisi-ikonik masyarakat Madura yang diwariskan secara turun-temurun dan sampai saat ini masih terus dipelihara. Sehingga ketika menyebut karapan sapi, asosiasi pikir seseorang selalu tertuju kepada tradisi yang muncul dan bertahan di pulau garam itu.

Lambat laun, karapan sapi tidak hanya menjadi sekadar bentuk perayaan “pesta panen”, tetapi bertransformasi menjadi tradisi yang memiliki nilai-nilai filosofis yang multi-makna. Pada saat tertentu, karapan sapi kemudian menjadi sebuah tradisi yang diperagakan untuk menunjukkan kekayaan, kebanggaandan gengsi (prestige) pemiliknya, terutama ketika saat memenangi perlombaan.

Alasannya utamanya, karena sape kerab (sapi yang dilombakan dalam ajang lomba karapan sapi) setelah menjadi juara, harganya akan sangat mahal. Pemiliknya mendapat hadiah dari lomba yang dimenanginya, apalagi saat memenangi lomba karapan sapi (gubeng) se-Madura untuk memperebutkan piala bergilir Presiden Cup.

Tradisi yang kini masih bertahan ini, kemudian melibatkan banyak aspek dan sangat kompleks. Misalnya, yang awalnya hanya menggunakan peralatan sederhana (nangghele dan pangonong), lambat laun mengalami modifikasi dan penambahan. Salah satu alatnya, nangghele (berguna untuk membajak tanah), dimodifikasi menjadi kaleles (bentuknya mirip dengan tangga bambu yang tak berfungsi membajak tanah). Sapi pun diberi dandanan khas yang menghias seperti ambhin (pakaian kebesaran sapi), obhit (hiasan kepala) dan anjar (helai kain yang menghiasi kaleles).

Sementara tokang tongkok-nya (joki) adalah orang pilihan. Biasanya usianya masih muda (sekitar lima belas tahun) dan berperawakan kecil. Hal ini penting sebab joki itu akan menunggangi kaleles yang akan dibawa lari oleh sapi yang sedang dikerap (dipacu). Tempat karapannya pun tidak lagi di sawah, tetapi di lapangan khusus yang halus.

Selain itu, ada hal-hal lain yang juga sangat mendukung agar sape kerab menang di perlombaan, antara lain paraksa (perawat sapi), dhukon (dukun), dan saronen (musik tradisional yang biasa dipakai untuk mengiringi karapan sapi).

Persiapan dan Pelaksanaan

Pada umumnya, lomba karapan sapi di Madura bisa dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu formal dan non-formal. Karapan sapi formal biasanya memiliki kepanitiaan khusus yang ditetapkan pemerintah daerah, dan pemenangnya diberi hadiah.

Sementara yang non-formal biasanya diselenggarakan oleh pihak mana saja, misalnya karena ada nadzar atau yang sejenisnya. Akan tetapi, karapan ini tetap melibatkan aparat keamanan seperti dalam lomba formal, sekalipun pemenangnya tidak mendapat hadiah.

Sebelum lomba karapan sapi dihelat, pemilik sape kerab menyiapkan segala sesuatunya. Paraksa bertugas merawat sapi semaksimal mungkin. Misalnya sepasang sapi jantan yang akan dilombakan dimandikan, dipanaskan di bawah terik matahari, dipijat, dan deberi jamu-jamuan khusus, agar sapi sehat dan kuat. Lalu dilatih berlari di lapangan secara rutin, agar terbiasa berlari santa’ (kencang). Tentu saja, biaya perawatannya mahal, bahkan melebihi perawatan manusia.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kontribusi dukhon (dukun, orang pintar) yang siap menjaga agar sapi tetap berlari kencang dan terarah atau untuk menjaga sepasang sapi dari serangan gaib pihak lawan. Dalam hal ini, masyarakat Madura memiliki adagium “makke santa’ gi’ belum tanto bisa juara, mun ta’ esseh lowar dalem” (sekalipun sapi larinya kencang, belum tentu menang, kalau tidak berisi luar dan dalamnya). Karena itu, keberadaan dhukon sangat dibutuhkan.

Pada saat perlombaan, sape kerab dibuat menggila dan marah. Misalnya dengan mengolesi balsem atau lombok yang sudah ditumbuk pada seluruh tubuhnya, bahkan di bagian pantat sapi dilukai dengan paku-paku (rekeng), lalu disiram dengan lombok dan balsem. Kesemuanya dimaksudkan agar sapi berlari kencang.

Masyarakat Madura yang mengalami islamisasi begitu kuat, beberapa di antara mereka menilai dan menghukumi haram kerapan sapi, karena adanya unsur-unsur mistik dan kekerasan (penyiksaan) terhadap sapi. Pro-kontra pun mencuat. Tetapi karena begitu melekat dan mendarah-dagingnya tradisi ikonik tersebut pada masyarakat Madura, keyataannya sampai saat ini tradisi karapan sapi tersebut masih terus dipelihara dan dijaga.

Sumber:

  • Rosida, Madura: Kebudayaan dan Mata Pencaharian Rakyatnya, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.
  • Edi Purwanto, “Karapan Sapi di Madura,” dalam Kompas, 24/08/2005.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + eight =