Osob Kiwalan atau Bahasa Walikan, Identitas Percakapan Khas Arek Malang

oleh Ach. Fadil

573

1001indonesia.net – Indonesia terdiri atas suku-suku yang sangat beragam. Salah satu hal yang bisa dijadikan sarana untuk mengidentifikasi suku tertentu adalah bahasa (juga dialek) yang digunakan masyarakatnya. Seseorang bisa diketahui apakah berasal dari suku Jawa, Madura, atau Batak dari bahasa dan dialek yang ia pakai. Di sisi lain, bahasa juga bisa digunakan sebagai alat untuk memperkuat “ke-kami-an”, solidaritas atau nasionalisme etnisitas dari suku yang ada.

Osob Kiwalan adalah satu contoh paling konkret. Osob Kiwalan yang berasal dari bahasa Jawa Boso Walikan (Osob: Boso atau bahasa; Kiwalan: Walikan atau dibalik) yang memiliki arti bahasa yang dibalik. Bahasa yang berasal dari Malang Jawa Timur ini menjadi semacam bahasa pemersatu sekaligus pengenal identitas ke-Malang-an dari para Arek Malang (sebutan untuk orang-orang asli, orang luar yang berdomisili, atau orang-orang yang memiliki ikatan emosional dengan Kota Apel itu).

Bagi mereka, pemakaian bahasa ini juga menandakan adanya keakraban antara satu orang dengan yang lainnya. Penggunanya pun lintas usia, dari yang muda sampai yang tua. Hanya saja, sekalipun orangtua bisa menggunakannya kepada anaknya, tetapi tidak sebaliknya. Ini menyangkut masalah etika dan sopan santun. Sebab, Osob Kiwalan menjadi semacam bahasa gaul anak muda yang setingkat dengan boso ngoko dalam bahasa Jawa.

Bahasa ini memiliki beberapa sebutan lain seperti Boso Walikan, Osob Ngalam, Boso Malang, Osob Kera Ngalam, dan Bahasa Malang-an. Osob Kiwalan mirip dengan bahasa slang yang banyak digemari anak muda. Bedanya, jika pada umumnya bahasa slang redup bahkan hilang seiring waktu, tidak demikian dengan Osob Kiwalan. Ia tetap eksis dari masa ke masa karena bahasa ini dipakai terus-menerus. Bahkan di tengah gempuran arus globalisasi, bahasa ini masih tetap eksis sebagai bahasa percakapan sehari-hari arek Malang.

Pada Mulanya

Menurut catatan sejarah, bahasa ini dicipta dan digunakan sebagai bahasa kode untuk mengelabuhi pihak lawan saat masa-masa perang gerilya melawan Belanda di Kota Malang oleh para pejuang yang menyebut dirinya dengan Gerilya Rakyat Kota (GKR).

Yang perlu dicatat, perang gerilya ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Belanda menginjakkan kakinya di Malang sekitar tahun 1767. Perang masih terjadi bahkan setelah Indonesia sudah dinyatakan merdeka tahun 1945. Beberapa tahun pasca-proklamasi, Belanda datang lagi untuk menjajah kembali Indonesia yang dikenal dengan perisriwa Agresi Militer Belanda I dan II.

Pada saat itu, banyak penyusup yang sekaligus mata-mata berasal dari kalangan pribumi lokal berbahasa Jawa untuk memburu sisa pejuang, simpatisan, dan pendukung Mayor Hamid Rusdi (pimpinan perang Gerilya Rakyat Kota). Beliau gugur pada Meret 1949 saat bertempur melawan Belanda di Dukuh Sekarputih (sekarang Wonokoyo).

Kenyataan seperti itu dinilai akan membahayakan penduduk lokal karena strategi perang yang disusun akan bocor dan sampai ke telinga Belanda. Atas dasar ini, Suyudi Raharno berinisiatif untuk mencipta bahasa kode. Bahasa ini selain berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menjaga kerahasiaan gerilya, juga sebagai pengenal identitas kawan dan lawan.

Jasa Suyudi pada saat itu sangat besar dalam menyiasati situasi yang membahayakan itu. Rencana-rencana dan strategi atau siasat perang mereka tak mudah bocor ke pihak lawan.

Namun nahas, Suyudi  tewas disergap Belanda di pagi-pagi buta pada September 1949 di Gunukwatu (sekarang Purwantoro). Padahal saat itu sedang terjadi genjatan senjata.

Sementara seminggu sebelum kejadian itu, Wasito, orang yang ikut menggagas Osob Kiwalan, juga terbunuh saat bertempur melawan penjajah di Gandongan (sekarang Pandanwangi).

Perkembangan Saat Ini

Pada perkembangan selanjutnya, bahasa ini tidak lagi berfungsi sebagai bahasa kode sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, melainkan menjadi bahasa identitas arek Malang. Bahasa ini sudah menjadi pola komunikasi tetap untuk menunjukkan kedekatan emosional antar sesama orang Malang.

Karena itu, ketika berjumpa saudara sedaerah terutama saat berada di perantauan, bahasa itu tetap dipergunakan. Mereka lebih memilih Osob Kiwalan dari pada Bahasa Inggris, Bahasa Arab, bahasa gaul Jakarta, atau yang lainnya, sebagai bahasa obrolan yang dinamis.

Menggunakan Osob Kiwalan

Kosa kata dalam “kamus” Osob Kiwalan tidak pernah mengenal aturan (pakem) dalam proses pembentukannya. Osob Kiwalan hanya mengenal satu cara, yaitu membalik kata (yang awalnya dibaca dari kiri ke kanan, menjadi dari kanan ke kiri).

Sebagai contoh, orang Malang sering kali menggunakan kata “tahes” untuk mengatakan “sehat”; “kadit” untuk mengatakan “tidak”; “ayas” untuk mengatakan “saya”; “soak” untuk mengatakan “kaos”; dan seterusnya.

Namun, tidak semua kata bisa dibalik sedemikian rupa. Ada pertimbangan khusus yang mesti diperhatikan, yaitu kemudahan dalam pengucapan. Jika dirasa sulit, maka dicari pengucapan yang mudah dengan pola umum (membalik) tadi. Misalnya, kata “Ngalam” dipakai untuk mengatakan “Malang”; “itreng” untuk mengatakan “ngerti”, “unyap” untuk mengatakan “punya”; dan seterusnya.

Dengan demikian, proses pembentukan Osob Kiwalan tidak bisa seenaknya dibentuk sendiri. Satu kosa kata polanya terbentuk dalam kesepakatan percakapan sehari-hari. Sehingga orang yang tidak mengikuti perkembangan bahasa ini, akan kebingungan dengan kosa kata baru yang dipergunakan.

Jika sebelumnya bahasa ini banyak didominasi oleh bahasa Jawa dan Indonesia, maka karena derasnya arus informasi dan globalisasi, pembentukan Osob Kiwalan tidak lagi dari bahasa lokal (Jawa atau Indonesia), tetapi juga dari bahasa-bahasa asing, seperti kata “woles” untuk mengatakan “slow” (lambat) yang diambil dari bahasa Inggris.

Di dalam percakapan yang berkembang saat ini, biasanya tidak semua kata dalam kalimat dibalik. Terkadang hanya beberapa kata saja, selebihnya menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia pada umumnya. Seperti percakapan berikut:

Wah nek ngene, awak kadit unyap ojir. Lha adapes-adapes rotom iku podho kadit rayab blas nek parkir nang kene (Wah, kalau begini, aku tidak punya uang. Lha sepeda-sepeda motor itu kalau parkir di sini tidak ada yang bayar).”

Sumber:

  • Dari makalah DeAndré A. Espree-Conaway, Osob Kiwalan: Bahasa Walikan di Masyarakat Malang.
  • Doea, Djilid, Dukut Imam Widodo, dkk., Malang Tempo Doeloe, Bayumedia: Malang, 2006.
  • http://www.kratonpedia.com/article-detail/2015/3/2/400/Boso.Walikan,.Bahasa.Unik.Arek.Malangan.html
  • http://mediamalang.com/mengenal-sejarah-boso-walikan-khas-arema/
  • http://www.jurnalmalang.com/2013/12/bahasa-walikan-bahasa-malangan.html

LEAVE A REPLY

3 × five =