Nujuh Jerami, Wujud Rasa Syukur atas Panen yang Melimpah

87
Upacara Adat Nujuh Jerami
Ketua adat menumbuk padi tujuh kali saat upacara adat Nujuh Jerami di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

1001indonesia.net – Sebagai ungkapan rasa syukur atas panen padi yang melimpah, komunitas orang Lom di Pulau Bangka mengadakan upacara adat Nujuh Jerami. Dilaksanakan setiap tahun, ritual ini sudah ada sejak dulu.

Upacara Nujuh Jerami dilaksanakan oleh komunitas orang Lom di Dusun Aik Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Upacara panen ini diselenggarakan setiap tahun berdasarkan penanggalan China, yaitu pada hari ke-13 bulan ke-3 yang bertepatan dengan bulan purnama.

Nujuh Jerami merupakan upacara terbesar bagi orang Lom sebagai ungkapan rasa syukur atas panen padi (beras merah). Dalam upacara ini juga terkandung harapan pada Tuhan dan para leluhur agar pada musim berikutnya juga mendapatkan hasil yang melimpah.

Menurut cerita turun-temurun, upacara Nujuh Jerami bermula dari mimpi salah seorang leluhur mereka agar mengorbankan kedua anaknya. Perintah itu pun dilaksanakan. Satu anak dibuang ke laut, dan satu anak lainnya di buang ke daratan, sebagai tumbal.

Tumbal anak yang dibuang ke laut dipercaya menjelma sebagai ikan dan yang di daratan menjadi tanaman padi. Dalam pemahaman masyarakat Lom ikan dan padi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Sejak saat itu masyarakat Lom menyelenggarakan ritual persembahan sebagai ucapan rasa syukur yang mereka sebut sedekah Gebong atau sedekah kampung dalam upacara adat Nujuh Jerami.

Prosesi Nujuh Jerami terbilang sangat unik. Seluruh lapisan masyarakat Lom datang berbondong-bondong untuk melihat rumah adat yang dibuat sebelum hari perayaan. Rumah adat itu diisi dengan berbagai macam alat-alat pertanian, penumbuk padi, alu, lesung, batok kelapa, julang, keruntung, serta alat-alat memasak.

Salah satu bagian inti dari prosesi upacara adalah ritual menumbuk padi sebanyak tujuh kali yang dipimpin oleh tetua adat. Setelah ritual menumbuk padi selesai, hasil tumbukan yang berupa beras merah diberi doa atau mantra sebelum diserahkan kepada para tamu undangan, khususnya para pemimpin.

Pemberian beras merah kepada para tamu undangan tersebut merupakan simbol harapan agar mereka dapat memimpin masyarakat dengan penuh rasa peduli dan melayani demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Prosesi pelaksanaan ritual Nujuh Jerami disertai juga dengan kegiatan tarian campak, pencak silat, dan musik dambus. Setelah itu dilanjutkan dengan silaturahmi antarwarga Lom dan masyarakat sekitarnya.

Baca juga: Penti, Ungkap Syukur Masyarakat Manggarai atas Hasil Panen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.