Penti, Ungkap Syukur Masyarakat Manggarai atas Hasil Panen

106
Mbaru Gendang
Dua rumah adat tradisional Manggarai berdiri kokoh di Kampung Adat Mbaru Gendang. (Foto: Markus Makur/Kompas.com)

1001indonesia.net – Masyarakat Manggarai menyelenggarakan Penti atau lengkapnya Penti Weki Peso Beo Reca Rangga Wali Ntaung sebagai upacara syukuran kepada Tuhan dan roh-roh leluhur atas berkah lindungan dan keselamatan serta hasil panen yang melimpah pada musim tanam sebelumnya.

Upacara ini juga dilaksanakan untuk memohon berkat lindungan dan keselamatan serta hasil panen yang melimpah pada musim tanam berikutnya. Selain sebagai syukuran atas panen yang telah didapatkan, upacara ini juga untuk mengawali musim tanam berikutnya.

Dalam adat dan tradisi suku Manggarai, Penti merupakan pesta tahun baru. Upacara ini menjadi ungkapan rasa syukur dari penduduk desa kepada Tuhan dan para leluhur karena telah mengganti tahun, telah melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru.

Penti Weki Peso Beo Reca Rangga Wali Ntaung berdasarkan pada filosofi yang dimiliki masyarakat Manggarai, yakni gendang one lingko pe’ang.

Filosofi itu menekankan pentingnya hubungan yang selaras, baik dengan roh-roh nenek moyang, sesama manusia, dan juga dengan alam. Sumber dari filosofi tersebut adalah Wujud Tertinggi, yaitu Mori Karaeng atau Tuhan Yang Mahaesa sebagai asal dan tujuan akhir setiap makhluk hidup.

Penti biasanya dilaksanakan pada akhir musim kemarau untuk mengawali musim tanam. Pelaksanaannya dipimpin oleh kepala kampung atau tu’a golo. Rangkaian acaranya berlangsung selama 4 sampai 7 hari, tergantung tradisi yang berlaku di komunitas penyelenggara.

Pelaksanaan upacara

Pelaksanaan Penti Weki Peso Beo Reca Rangga Wali Ntaung dimulai dengan berjalan kaki dari mbaru gendang atau rumah adat menuju pusat kebun atau Lingko untuk melangsungkan acara Barong Lodok.

Baca juga: Mbaru Gendang Ruteng Puu, Pesona Kampung Adat di Flores Barat

Barong lodok merupakan upacara mengundang penjaga kebun di pusat Lengko untuk menghadiri penyelenggaraan upacara Penti.

Pemimpin adat terlebih dahulu melakukan cepa, yaitu memakan sirih, pinang dan kapur, lalu menyiram tuak dari dalam bambu ke tanah yang disebut acara Pau Tuak. Upacara Barong lodok dilaksanakan di pusat kebun yang ditandai dengan kayu atau teno.

Baca juga: Sirih-Pinang dan Filosofi Keselarasan Masyarakat Nusantara

Kemudian dilanjutkan dengan prosesi menyembelih seekor babi untuk dipersembahkan kepada roh para leluhur. Tujuannya, agar roh para leluhur memberkahi tanah, memberikan penghasilan, dan menjauhkan dari malapetaka. Para peserta pun mulai melantunkan lagu pujian yang diulangi sebanyak lima kali yang disebut Sanda Lima.

Setelah itu, rombongan kembali ke rumah adat sambil menyanyikan lagu. Syair dari lagu itu menceritakan kegembiraan dan penghormatan terhadap padi yang telah memberikan kehidupan.

Ritual Barong Lodok yang pertama ini dilakukan keluarga besar yang berasal dari rumah adat Gendang. Upacara serupa juga dilakukan keluarga besar dari rumah adat Tambor. Keduanya dipercaya sebagai cikal bakal suku Manggarai.

Sebenarnya, ritual Barong Lodok juga disimbolkan untuk membagi tanah ulayat kepada seluruh anggota keluarga. Luas tanah yang bakal dibagikan itu tidak sama, tergantung status sosial. Pembagiannya disimbolkan dengan Moso, yakni sektor dalam Lingko yang diukur dengan jari tangan.

Tanah tersebut dibagi berdasarkan garis yang mirip dengan jaring laba-laba. Tua Teno adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas membagi tanah tersebut.

Upacara kemudian dilanjutkan ke ritual Barong Wae, yakni upacara mengundang roh para leluhur penunggu mata air. Kurban yang dipersembahkan adalah seerkor ayam dan sebutir telur.

Ritual Barong Wae dimaksudkan agar air selalu melimpah untuk menyuburkan tanaman padi. Dalam upacara ini juga disampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang menciptakan mata air bagi kehidupan semua makhluk, teristimewa seluruh warga Manggarai.

Baca juga: Grebeg Tengger Tirto Aji, Memuliakan Air sebagai Sumber Kehidupan

Tahap selanjutnya adalah ritual Barong Compang, yakni acara mengunjukkan persembahan yang diletakkan dalam tempat yang dinamakan Compang. Tempat khusus berbentuk bulat itu letaknya di tengah kampung. Roh Penjaga kampung dan roh yang berdiam di Compang juga diundang untuk mengikuti upacara.

Suku Manggarai mempercayai, roh kampung yang disebut Naga Galo selama ini berdiam di Compang. Bagi suku Manggarai, peranan Naga Galo sangat penting dan amat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Naga Galo melindungi kampung dari berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana yang ditimbulkan oleh manusia.

Setelah ritual Barong Compang, rombongan masuk ke rumah adat untuk melakukan upacara Wisi Loce. Di sana, mereka menggelar tikar, agar semua roh yang diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti.

Keluarga dari rumah adat Gendang dan Tambor melanjutkan acara Libur Kilo. Prosesi yang satu itu bertujuan mensyukuri kesejahteraan keluarga dari masing-masing rumah adat. Upacara ini dipercaya sebagai upaya membarui kehidupan seluruh anggota keluarga. Dalam upacara itu, warga yang bermasalah, dapat membangun kembali hubungan keluarga supaya menjadi baik lagi.

Puncak acara Penti ditandai dengan berkumpulnya kepala adat kampung, ketua sub klan, kepala adat yang membagi tanah, kepala keluarga, dan undangan dari kampung lain. Mereka berdiskusi membahas berbagai persoalan berikut jalan keluarnya.

Semua tahapan dalam Penti dengan rangkaian ritual yang ada di dalamnya dilaksanakan secara gotong royong atau bersama-sama dengan melibatkan semua warga desa.

Baca juga: Tari Caci, Atraksi Uji Ketangkasan Masyarakat Flores

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.