Menumbai, Keterampilan Memanen Madu Suku Petalangan

77
Menumbai Madu Sialang di Pelalawan
Sarang lebah di pohon sialang. (Foto: bilikkreatif.com)

1001indonesia.net – Masyarakat suku Petalangan memiliki caranya sendiri dalam mengambil madu dari sarang lebah yang disebut menumbai. Cara pengambilan madu disertai ritual untuk berkomunikasi dengan lebah ini menggambarkan kedekatan manusia dengan alam.

Menurut UU Hamidy, sudah cukup lama lebah menjadi bagian dari kebudayaan suku Melayu di pantai timur Pulau Sumatra, tak terkecuali suku Petalangan yang merupakan hasil asimilasi dari berbagai puak Melayu. Masyarakat setempat menjuluki lebah sebagai lalat putih Sri Majnun. Dalam cerita rakyat, dikatakan binatang ini berasal dari gua batu di Makkah.

Diceritakan turun-temurun, salah satu leluhur suku Petalangan bernama Datuk Demang Serail telah membawa bibit pohon kayu sialang dari jenis sulur batang ke daerah petalangan sekarang ini, di samping tumbuhan rasau yang dapat dijadikan bahan anyaman.

Cerita itu memberi petunjuk bahwa pendatang pertama ke daerah petalangan telah mengenal pentingnya madu dan bahan anyaman bagi kehidupan manusia. Itu sebabnya, masyarakat suku Petalangan telah mengembangkan keterampilan memanen madu yang mereka sebut menumbai.

Menumbai adalah cara mengambil madu dari sarang lebah dengan menggunakan timba dan tali disertai dengan pembacaan mantra dan pantun. Keterampilan ini dilakukan oleh orang Petalangan yang tinggal pada pohon Sialang di kawasan hutan tanah ulayat, Pelalawan.

Istilah menumbai berasal dari kata tumbai atau umbai yang berarti turun atau menurunkan dengan menggunakan alat maumbaian (menurunkan) berupa tali dan bakul. Kata ini menggambarkan gerak menurunkan sarang lebah dengan menggunakan timbo (timba) yang diturunkan dengan tali.

Menumbai juga bisa berarti aktivitas mengambil madu dengan menggunakan mantra dan pantun-pantun. Aktivitas itu disebut juga sebagai ”memikat lebah dengan nyanyian”.

Prosesi manumbai berlangsung di hutan tanah ulayat, tempat pohon sialang tumbuh. Jenis lebah yang bersarang pada pohon tersebut adalah Apis dorsata, yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Dalam bahasa Jawa disebut tawon gong, sedang orang Sunda menyebutnya odeng. Lebah ini panjangnya ada sekitar 1,9 Cm, merupakan jenis lebah yang terbesar.

Di Pelalawan, lebah menyukai pohon sialang sebagai tempat bersarang. Besar pohon sialang bisa mencapai dua kali pelukan orang dewasa. Pohonnya pun tinggi dan licin sehingga tidak mudah untuk mengambil madu yang dihasilkan lebah di pohon tersebut. Oleh karena itu, tradisi menumbai madu menjadi hal yang istimewa dan diakui sebagai warisan budaya tak benda nasional.

Ritual menumbai disertai pembacaan mantra dilakukan agar orang yang memanen madu tidak disengat. Yang bisa melakukannya adalah seorang spesialis yang disebut juagan (juragan) atau lazim juga disebut sebagai dukun lebah.

Juagan akan ”membujuk” lebah-lebah dengan menyanyikan mantra berupa pantun. Fungsinya adalah sebagai bentuk komunikasi antara juagan dan lebah sehingga proses pengambilan madu berjalan dengan aman.

Masing-masing juagan mungkin memiliki pantun yang berbeda susunan dan pemakaian kata-katanya, tetapi maksudnya sama. Adanya perbedaan masing-masing pelaku yang demikian ini khas dalam tradisi lisan.

Menumbai dilakukan ketika didapati pohon sialang dengan sarang lebah liar telah sarat madu. Rangkaian prosesi berlangsung sejak petang hari. Prosesi intinya, yaitu pengambilan madu, dilakukan malam hari saat bulan gelap.

Menurut orang Petalangan, cahaya akan membuat lebah marah. Sebagai penerang hanya dipakai tunam, sejenis suluh dari sabut kelapa, yang juga berfungsi untuk mengasapi lebah.

Kegiatan Menumbai dipimpin juagan tuo dan dibantu oleh beberapa juagan mudo (juru panjat) dan tukang sambut. Pembagian tugasnya sebagai berikut:

  • Juagan tuo adalah orang yang telah berprofesi lama, banyak pengalaman dan telah menguasai ilmu menumbai luar dalam. Ia bertanggung jawab atas keberhasilan dan keselamatan para pembantunya. Tugasnya melakukan penyemahan lokasi menumbai agar terhindar dari makhluk gaib dan binatang hutan.
  • Juagan mudo terdiri dari seorang atau beberapa orang yang bertugas membantu juagan tuo, menyiapkan segala keperluan menumbai, menebas dan membersihkan pangkal pohon sialang, serta membuat para-para tempat memeras sarang lebah. Ia juga menyiapkan tali dan ember tempat madu. Tugas utamanya adalah memanjat dan menurunkan madu.
  • Tukang sambut terdiri dari beberapa orang yang bertugas menyambut timba berisi madu dan kemudian memeras sarang lebah hingga mendapatkan madu.

Beberapa perlengkapan yang dibutuhkan saat menumbai adalah timbo atau timba yang diberi tali, semangkat (tangga bersambung untuk memanjat), ubo atau tempat untuk memeras sarang lebah, serta tunam (suluh yang terbuat dari seludang kelapa yang kering). Tunam merupakan satu-satunya penerang yang digunakan dalam menumbai.

Menumbai dimulai dengan pelangkahan atau pembacaan mantra yang dilakukan sebelum berangkat menuju pohon sialang.

Bagi orang Petalangan, pohon sialang dianggap sebagai pohon sakti, dimiliki dan dihuni oleh makhluk gaib, seperti mambang kayu, jembalang tanah, bahkan juga orang bunian.

Setibanya di depan pohon Sialang, juagan tuo kembali melantunkan mantra sebagai bentuk penghormatan dan permintaan izin pada para roh halus penunggu pohon. Kegiatan ini disebut menuo sialang.

Selanjutnya, juagan tuo lalu menepuk-nepuk pangkal pohon sebagi isyarat kepada para lebah bahwa mereka telah tiba untuk bertamu. Jika terdengar dengungan, artinya para lebah telah mengetahui kehadiran para pemanen. Jika dengungan tidak juga terdengar, kegiatan menumbai akan ditunda.

Tahap selanjutnya adalah pasu atau melenakan atau menghipnotis para lebah dengan pembacaan mantra khusus. Hal ini dilakukan agar para lebah terbang dan tidak menyengat.

Seusai melakukan pasu, juagan mudo akan memanjat sambil membaca mantra khusus dan mendekatkan obor ke arah sarang yang masih banyak lebahnya.

Sarang yang telah berhasil didapatkan diturunkan dengan menggunakan timba dan diambil oleh tukang sambut yang telah bersiap di bawah pohon. Jika proses panen telah selesai, juagan tuo lalu melepas pasu atau melepas hipnotis untuk menyadarkan para lebah.

Memanen sarang lebah dengan teknik manumbai memiliki banyak tantangan. Pohon yang tinggi dan penerangan yang minim menjadi tantangan bagi para juagan. Selain itu, dalam satu pohon tidak selalu terdapat sarang yang siap panen.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, menumbai hanya dilakukan 2 sampai 3 kali dalam setahun. Menurut orang Petalangan, lebah hanya empat kali bersarang di pohon Sialang, yaitu saat musim bunga jagung, musim bunga padi, selepas menuai, dan semasa menebang menepas ladang. Dari keempat musim tersebut, madu yang paling diminati adalah madu putih yang berasal dari musim bunga padi.

Menumbai madu sialang di Pelalawan masih bertahan hingga saat ini. Tradisi meminta izin ketika ingin memanen madu ini menggambarkan bagaimana seharusnya manusia menghargai alam. Kehidupan manusia bergantung pada alam. Sebab itu, manusia harus memperlakukan alam dengan baik.

Baca juga: Lebah Raksasa Wallace, Penemuan Kembali Lebah Terbesar di Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.