Mengenal Tradisi Malamang Masyarakat Sumatra Barat

165
Tradisi Malamang Sumatra Barat
Seorang ibu sedang membuat lemang. (Foto: infosumbar.net)

1001indonesia.net – Warga Sumatra Barat memiliki tradisi kuliner yang unik, yaitu Malamang atau membuat penganan lemang. Tradisi ini dilakukan ketika ada acara penting, seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, Idul Adha, untuk menyambut Ramadhan, dan saat hajatan.

Lemang terbuat dari beras ketan. Penyajiannya menjadi wujud penghormatan tuan rumah kepada tamu yang datang. Menjelang puasa, warga Minang menggunakan lemang untuk manjalang mintuo (mengunjungi mertua) untuk mengikat silaturahmi.

Proses pembuatan lemang dimulai dengan mencuci sipuluik atau beras ketan. Setelah bersih, beras ketan dikeringkan lalu dimasukkan ke dalam bambu sepanjang 60 sentimeter yang telah di beri alas daun pisang muda. Setelah itu, diberi santan, garam, dan vanila secukupnya kemudian dimasak di atas tungku menggunakan kayu bakar.

Tradisi Malamang Sumatra Barat
Lemang dalam wadah bambu dimasak menggunakan kayu bakar. (Foto: blogkulo.com)

Proses membuat lemang hingga matang bisa memakan waktu sekitar lima jam dengan api kecil atau tiga jam dengan api yang besar. Menggunakan api kecil lebih baik karena bambu tidak akan cepat hitam.

Lemang yang dimasak ada beberapa jenis. Ada lemang luo yang terbuat dari beras ketan putih. Di tengah-tengahnya diberi gula merah bercampur dengan kelapa yang sudah diparut.

Lalu ada lemang pisang yang berbahan beras ketan putih, dan di tengah-tengahnya dikasih buah pisang. Kemudian lemang hitam yang terbuat dari beras ketan hitam, lemang putih dari ketan putih, dan lemang merah dari ketan merah.

Sejarah

Tradisi Malamang sangat erat kaitannya dengan sejarah syiar agama Islam yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Ulama terkenal tersebut datang ke wilayah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di daerah Ulakan, Pariaman.

Dalam Tambo (kisah tentang asal-usul dan kejadian masa lalu di Minangkabau), diceritakan Syekh Burhanuddin sering berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturahmi dan menyiarkan agama Islam.

Sudah menjadi kebiasaan penduduk untuk menjamu tamu yang datang ke rumah mereka. Namun, Syekh Burhanuddin meragukan kehalalan hidangan yang disajikan oleh warga. Sebab itu, ulama itu menyarankan kepada penduduk yang dikunjunginya untuk mencari bambu dan mengalasinya dengan daun pisang muda.

Diisilah bambu tersebut dengan beras ketan putih dicampur santan dan kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar. Dari sini, kebiasaan membuat penganan yang disebut lemang ini menjadi tradisi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + 20 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.