Mebuug-buugan, Tradisi Mandi Lumpur Setelah Perayaan Nyepi

212
Tradisi Mebuug-buugan
Warga Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, menggelar tradisi Mebuug-buugan (mandi lumpur), bertempat di hutan Mangrove dan pantai Kedongan di Jalan Pura Dalem Kedonganan. (Foto: Kompas.com)

1001indonesia.net – Salah satu tradisi unik yang dilakukan umat Hindu di Bali usai merayakan Nyepi adalah Mebuug-buugan atau mandi lumpur. Tujuannya sebagai pembersihan diri dan sebagai ungkapan syukur pada alam sebagai sumber kehidupan manusia.

Mebuug-buugan berasal dari kata buug yang berarti kotor atau lumpur. Tradisi yang bersifat sakral ini dilaksanakan pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Pelaksanaan Mebuug-buugan melibatkan ratusan penduduk, mulai anak-anak hingga orang tua. Sebelum melakukan mandi lumpur bersama-sama, warga umat hindu berkumpul di Pura Bale Agung di Kedonganan untuk melakukan persembahyangan agar diberi keselamatan saat mengikuti jalannya acara.

Setelah doa-doa dan nyanyian selesai dijalankan, ratusan warga berjalan bersama-sama tanpa alas kaki menuju hutan bakau. Semua warga turut serta, tua, remaja, hingga anak-anak.

Warga mengolesi tubuh bersama-sama dalam kegembiraan. Mereka bersenda gurau mengolesi lumpur ke punggung, dada, wajah, hingga kepala.

Setelah itu, warga secara beriringan berjalan melalui jalan utama menuju pantai Kedongan. Tiba di pantai, warga melakukan beberapa permainan tradisional.

Menjelang akhir ritual, semua warga berlarian secara bergantian ke arah pantai untuk membersihkan dan membasuh badan dari balutan lumpur.

Tradisi Mebuug-mebugan merupakan sarana pembersihan diri, baik jasmani maupun rohani. Dalam prosesinya, badan yang kotor dengan lumpur dibersihkan dengan air laut dan diperciki tirta pembersihan.

Kekuatan Bhuta dalam buana alit (badan kasar manusia) dibersihkan. Untuk itu, manusia memohon kepada kekuatan laut (Segara) sebagai penyempurnaan (Pemarisudha).

Selain sebagai pembersihan diri, tradisi ini juga berfungsi sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu pertiwi karena telah memberikan penghidupan, baik dari hasil laut maupun lahan yang ada di Kedonganan.

Melumuri seluruh tubuh dengan lumpur melambangkan penyatuan diri dengan ibu pertiwi.

Baca juga: Omed-omedan, Budaya Bali yang Unik untuk Menjalin Keakraban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.