Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan

866

Data Buku

  • Judul: Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan
  • Penulis: Yudi Latif
  • Penerbit: Mizan
  • Tahun Terbit: 2014
  • Halaman: 650 + xxii

Sinopsis

Buku Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan ini digagas untuk merespons keluhan banyak orang tentang krisis keteladanan serta kesulitan untuk mengajarkan dan menyosialisasikan moral Pancasila bagi kalangan pelajar, penyelenggara negara, para politisi, dan aktivis kemasyarakatan, serta masyarakat umum. Buku-buku yang ada dianggap terlalu normatif-legalistik, dengan tekanan yang berlebihan pada aspek kognitif. Berbeda dari kejamakan, buku ini lebih menekankan aspek afektif dan konatif (tindakan). Oleh karena itu, betapa pun aspek validitas data kesejarahan telah dilakukan seoptimal mungkin, tujuan utama buku ini bukanlah untuk menghadirkan “presisi” (ketepatan), melainkan “impresi” (kesan yang menggugah penghayatan dan pengamalan).

Cara kerja buku ini dimulai dengan merumuskan kandungan ide (nilai) pokok setiap sila. Para perumus penataran Pancasila semasa orde baru sesungguhnya telah melakukan hal ini, dengan menyebutkan sebagai “butir-butir” Pancasila. Tanpa mengurangi rasa hormat atas jerih payah mereka, penulis berpandangan bahwa rumusan ide (nilai) pokoknya terlalu banyak (36 butir, bahkan belakangan menjadi 45 butir). Padahal dalam merumuskan nilai pokok dari falsafah suatu institusi, katakanlah dalam rumusan corporate culture, terdapat kesepahaman umum bahwa jumlahnya tidak boleh terlalu banyak yang membuatnya sulit untuk diingat. Selain jumlahnya banyak, butir-butir dalam suatu sila pun tidak dirumuskan secara ketat sehingga banyak yang tumpang tindih. Lagi pula, dalam penyusunan butir-butir tersebut, ada kecenderungan untuk mengarah pada moral perseorangan, kurang menekankan moralitas publik.

Dalam penyusunan buku ini, jumlah butirnya disesuaikan dengan nilai simbolik angka “lima” (5) dalam Pancasila. Tiap sila Pancasila memiliki empat (4) butir nilai intrinsik sila tersebut, sedangkan satu (1) butir lagi bersifat ekstrinsik, yakni mengandaikan keterkaitan butir-butir dalam sila tersebut dengan butir-butir nilai di sila-sila lainnya. Formula ini tidak terpikirkan sejak awal, melainkan saya temukan dalam proses penulisan. Ternyata, empat butir (ide pokok) setiap sila berhasil mengandung semangat pokok dari sila tersebut. Urutan butir-butir setiap sila disusun secara sequential; bahwa suatu butir (pokok pikiran) dengan sendirinya secara logis akan diikuti oleh butir lain sebagai konsekuensinya. Dengan demikian, formula ini akan memudahkan pembaca untuk memahami dan mengingatnya, tanpa perlu bersusah payah menghafalnya.

Setelah itu, tiap butir (ide pokok) dalam setiap sila diuraikan dengan kisah-kisah keteladanan, baik dari masa lampau maupun masa kini. Tokoh-tokoh teladan yang dikisahkan dalam buku ini diusahakan sebisa mungkin mewakili segala keragaman Indonesia, baik dari segi agama, etnis, kelas sosial, jenis kelamin, maupun wilayah. Dengan demikian, segala keragaman diharapkan merasa terlibat dalam usaha pengisian dan pengamalan terhadap Pancasila. Maka itu, beberapa tokoh perorangan atau kelembagaan yang sesungguhnya pantas dikisahkan karena keteladanannya terpaksa tidak masuk dalam buku ini, karena representasi dari kategori (golongan) tertentu dianggap sudah terwakili.

Karena kepedulian buku ini adalah soal keteladanan, maka tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam buku ini hanya dilihat sisi baiknya. Sudah barang tentu, setiap orang memiliki sifat buruk. Oleh karena itu, buku ini tidak ingin mengajak pembaca untuk melakukan pemujaan (pengultusan) kepada tokoh tertentu. Yang diperlukan adalah meneladani sisi baiknya, seraya menghindari sisi buruknya.

Sumber:

Yudi Latif, “Kata Pengantar”, dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan, Jakarta: Mizan, 2014.

LEAVE A REPLY

1 × 5 =