Masjid Tua Patimburak, Masjid Bersejarah yang Menjadi Simbol Kerukunan

192
Masjid Tua Patimburak
Masjid Wertuer atau Masjid Tua Patimburak diperkirakan dibangun tahun 1870. Masjid ini menjadi saksi penyebaran agama Islam di Papua. (Foto: Dadang Lesmana/ACI/DETIK.COM)

1001indonesia.net – Menurut perkiraan, Masjid Tua Patimburak berdiri sejak tahun 1870. Bangunan berusia satu setengah abad ini mungkin merupakan masjid tertua di Papua. Masjid ini menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Bumi Cendrawasih.

Meski sudah berusia tua, bangunan masjid yang terletak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat ini masih tampak kokoh. Awalnya, masjid ini bernama Masjid Al Yasin, didirikan oleh seorang imam bernama Abuhari Kilian. Ia mendapat tugas dari Kesultanan Ternate untuk menyebarkan agama Islam di Papua.

Arsitekturnya unik, perpaduan antara gaya Jawa dan Eropa. Itu sebabnya, jika dilihat sekilas dari luar, bangunan ini mirip dengan gereja di Eropa masa lampau. Sementara interior masjid ini mirip dengan bangunan khas Jawa.

Bangunan Masjid Tua Patimburak ditunjang oleh 4 tiang utama seperti struktur bangunan Jawa. Sampai sekarang, tiang-tiang kayu penyangga masjid ini masih asli dan kondisinya masih kokoh.

Bangunan masjid berbentuk segi enam, melambangkan rukun iman sebagai fondasi dalam beragama. Alas kubahnya bersegi delapan, melambangkan 8 arah mata angin. Salah satu arah mata angin ditandai sebagai Mihrab, merujuk pada kiblat sebagai arah shalat.

Masjid Tua Patimburak pernah beberapa kali renovasi. Namun, perbaikan yang dilakukan tidak mengubah bentuk asli bangunan yang juga dikenal dengan nama Masjid Wertuer. Bedug penanda waktu shalat yang pertama dimiliki masjid ini juga masih ada.

Keberadaan Masjid Tua Patimburak menjadi simbol kerukunan dan toleransi masyarakat Papua. Konon, masjid tua ini dibangun secara bergotong royong, baik oleh kaum Muslim maupun Nasrani. Masjid Tua Patimburak menjadi wujud dari filosofi masyarakat Papua, “satu tungku tiga batu.”

“Satu tungku tiga batu” merujuk pada hubungan antarumat beragama di Papua. Untuk dapat digunakan, tiga batu yang digunakan sebagai tungku harus dalam keadaan seimbang atau berukuran sama. Tiga batu tersebut melambangkan tiga agama yang ada di sana, yaitu Islam, Protestan, dan Katolik.

Semboyan tersebut merupakan pandangan masyarakat setempat dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman. Di sana, tidak jarang kita temui ada keluarga besar yang anggotanya menganut agama yang berbeda-beda. Namun, perbedaan itu tidak menjadi masalah. Toleransi menjadi napas keseharian masyarakat Fakfak.

Baca juga: Satu Tungku Tiga Batu, Semboyan Orang Papua dalam Menjaga Kedamaian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 + seventeen =