Masjid Menara Kudus, Dakwah dan Akulturasi Budaya

1279
Menara Masjid Kudus Pada masa silam, Masjid Menara Kudus merupakan merupakan pusat dakwah Sunan Kudus pada era Demak, Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Pada masa silam, Masjid Menara Kudus merupakan merupakan pusat dakwah Sunan Kudus pada era Kesultanan Demak, Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. (Foto: Dewan Masjid Indonesia)

1001indonesia.net –  Pada masa lalu, Masjid Menara Kudus atau Masjid Al Manar (nama resminya adalah Masjid Al Aqsa Manarat Qudus) merupakan pusat dakwah Sunan Kudus, salah satu anggota Wali Sanga di era kerajaan Demak Bintara.

Pada bangunan menaranya, kita dapat melihat adanya pertautan antara budaya Islam dengan budaya Jawa-Hindu. Keunikan menara masjid tersebut membuat Masjid Menara Kudus memiliki ciri khas yang berbeda dengan masjid lain pada umumnya.

Masjid Menara Kudus menggambarkan bagaimana seni dan budaya menjadi medium dakwah para penyebar Islam pertama di Pulau Jawa. Pendekatan kultural digunakan Wali Sanga dalam menyampaikan ajaran Islam. Saat itu, masyarakat Jawa masih dipengaruhi ajaran Hindu-Buddha. Dengan cara dakwah seperti ini, ajaran Islam berkembang pesat di tanah Jawa.

Masjid kuno yang melambangkan hubungan harmoni antara budaya Islam dengan budaya Jawa-Hindu ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Sekarang, masjid yang dibangun pada era Kerajaan Demak ini kini menjadi salah satu tempat bersejarah penting bagi umat Islam di Jawa.

Masjid Menara Kudus dibangun pada 19 Rajab 956 Hijriyah atau sekitar tahun 1549 dengan nama Masjid Al-Aqsa. Namanya diambil dari nama masjid di Kota Lama Yerusalem yang disucikan oleh umat Islam.

Konon, Ja’far Sodiq yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis (Yerusalem). Batu tersebut digunakan sebagai batu pertama pendirian masjid yang kemudian diberi nama Masjid Al-Aqsa.

Belakangan masjid tersebut populer dengan sebutan Masjid Menara Kudus. Hal ini lantaran bangunan menara masjidnya yang dipengaruhi secara kuat oleh budaya Hindu-Jawa. Menara tersebut terbuat dari batu bata bersusun serupa candi bercorak Hindu-Jawa. Tingginya sekitar 18 meter dengan luas 100 meter persegi di bagian dasar. Kaki menaranya menyerupai Candi Jago di Malang, Jawa Timur. Candi itu dibuat pada masa kerajaan Singasari.

Menara Masjid Kudus (Foto: wikipedia)
Menara Masjid Kudus (Foto: wikipedia)

Di dalam menara, terdapat tangga dari kayu jati untuk naik ke puncak menara. Dulu saat teknologi pengeras suara belum dikenal, seruan azan dikumandangkan dari atas menara ini.

Pada bagian puncak atap tajuk terdapat mustaka seperti yang banyak dijumpai di masjid-masjid kuno di Jawa.

Bangunan-bangunan bersejarah di kompleks Masjid Menara Kudus ini tak hanya pada bagian menara, tetapi juga tampak dari gapura dan pagar tembok yang mengelilinginya.

Kini, ada masjid dengan kubah yang dibangun belakangan untuk melengkapi menara Masjid Kudus. Menurut pengurus masjid, bangunan masjid baru itu dibangun untuk membuktikan bahwa Masjid Menara Kudus terbuka bagi semua kelompok.

Masjid ini banyak dikunjungi oleh para peziarah. Mereka datang menziarahi makam Syeh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus yang berada di bagian belakang kompleks Masjid Menara Kudus. Jajaran makam tua di sana diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15. Para pengunjung duduk dekat di pelataran makam dan berdoa.

Nuansa sakral terasa ketika memasuki areal makam Sunan Kudus yang berada di dalam cungkup tersendiri dengan kelambu putih yang menyelubungi. Makam tersebut berada di dalam sebuah sebuah bangunan khusus dengan atap kayu dan dinding kayu penuh ukiran. Bangunan itu dilengkapi sebuah pintu yang selalu ditutup. Para peziarah duduk mengelilingi bangunan berkelambu putih itu. Mereka berdoa dengan ritmis yang teratur.

Pada setiap tanggal 10 Muharam (10 Asyuro atau Suro) kelambu putih yang menyelubungi makam Sunan Kudus diganti dalam suatu upacara yang dinamakan buka luwur. Dalam upacara ini, warga mengantre berkat, yakni bungkusan nasi dan lauk-pauk sebagai bagian dari upacara. Berkat itu dibagikan setelah luwur diganti. Siapa saja bisa mengantre berkat.

Di kalangan Wali Sanga, Sunan Kudus dikenal sebagai penjaga syariat. Ia tak hanya mendirikan masjid, tetapi juga Nagari Kudus yang multietnis dan multireligi. Hal itu ditunjukkan dengan larangan memotong sapi di daerah itu. Pasalnya, masyarakat setempat ketika itu banyak yang menganut Hindu. Bagi mereka, sapi adalah hewan yang sangat dihormati. Sebagai gantinya, warga memotong kerbau. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi dan keberagaman dijunjung tinggi di kota ini. Karena memang sejak dari dulu, Kudus merupakan wilayah yang multietnis.

Mengingat pentingnya sejarah Sunan Kudus bagi informasi perkembangan Islam di Indonesia, kompleks Masjid Menara Kudus dilengkapi pula dengan museum. Ke depannya, museum ini diharapkan menjadi pusat informasi berkaitan dengan perjuangan Sunan Kudus serta benda-benda peninggalan sejarah lainnya.

*) Diolah dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 4 =