Masihkah Wayang Kulit Diminati?

263
Wayang Kulit Purwa, Cabang Kesenian Tradisional yang Paling Lengkap
Pagelaran Wayang Kulit Purwa (Sumber: youtube.com)

1001indonesia.net – Pada 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Sejak saat itu setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Dunia. Pada 2018, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal yang sama sebagai Hari Wayang Nasional.

Dunia telah mengakui wayang kulit purwa sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai adiluhung yang meresap dalam jiwa dan menjadi pedoman nilai-nilai moral orang Jawa. Namun, pertanyaannya, apakah saat ini wayang masih diminati masyarakat? Atau apakah wayang masih menjadi karya budaya yang nilai-nilainya masih hidup dan mewarnai kehidupan orang Jawa?

Sebab, tanpa diminati dan menjadi bagian dalam kehidupan konkret masyarakat, wayang hanya akan menjadi “warisan” yang semata dirawat dan dilestarikan, tetapi posisinya persis seperti benda-benda di museum: hanya untuk dikenang bahwa kita pernah punya budaya yang begitu indah dan agung.

Baca juga: Wayang Kulit Purwa, Cabang Kesenian Tradisional yang Paling Lengkap

Saya ingat cerita dari seorang kawan. Suatu kali ia pernah berbicara kepada orang asing tentang betapa megahnya Candi Borobudur, dan betapa bangganya dia menjadi bagian dari orang Indonesia yang mampu menghasilkan mahakarya tersebut.

Setelah dengan sabar mendengar penuturan kawan saya, si orang asing bertanya, pernahkah kawan saya menyaksikan langsung kemegahan Candi Borobudur?

Saat itu, kawan saya menjawab tidak. Ia memang belum pernah datang langsung menyaksikan Candi Borobudur yang saat itu begitu ia banggakan. Ia bahkan belum memiliki niat untuk mengunjunginya.

Kata kawan saya, setelah orang asing itu mendengar jawabannya, ia terdiam. Setelah itu, ia menjadi tidak lagi peduli dengan cerita kawan saya itu. Tampaknya, ia menganggap kebanggaan kawan saya akan kemegahan Candi Borobudur sebagai omong kosong belaka.

Baca juga: Gugus Candi Borobudur, Kekayaan Simbolisme, Arsitektur, dan Seni Nusantara

Ya kita pasti senang ketika mendengar ketika dunia mengakui keagungan budaya dan keindahan alam kita. Apalagi dapat diakui UNESCO sebagai warisan dunia yang memiliki peran penting dalam kemajuan peradaban manusia. Tapi, meski kita senang dengan pujian itu, apakah kita benar-benar mencintai budaya dan alam kita sendiri? Belum tentu. Ini juga terjadi terhadap wayang.

Wayang memang masih dipergelarkan dan ditonton masyarakat sampai sekarang. Beberapa dalang bahkan berhasil menarik generasi muda untuk mengenal dan menyukai kesenian tradisional ini. Tapi seberapa persenkah orang yang menyaksikan wayang benar-benar karena ingin melihat wayang?

Sebab ketika orang-orang menonton wayang, yang menjadi pusat perhatian mereka biasanya adalah adegan “limbukan” dan “gara-gara“. Dalam dua adegan tersebut, dalang berkreasi dengan bebas untuk menghadirkan dialog yang lucu dan menghadirkan bintang tamu.

Saat ini, keberadaan bintang tamu menjadi semakin penting dalam pertunjukan wayang, bahkan melebihi cerita wayang itu sendiri. Jika seorang dalang ingin mendapatkan penonton yang banyak maka mau tak mau, ia harus mendatangkan bintang tamu.

Dengan kata lain, banyak orang menonton wayang tanpa menonton wayang. Sebab, yang sebenarnya mereka tonton adalah lawakan bintang tamu, dan bukan pertunjukan wayangnya.

Ini sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak dari saya kecil, ketika saya masih sering menonton pertunjukan wayang yang digelar di kampung saya, adegan gara-gara selalu yang ditunggu-tunggu penonton. Setelah adegan itu usai, sebagian besar penonton bubar, menyisakan segelintir orang yang setia menyaksikan wayang sampai selesai.

Tentu saja kita boleh bersyukur, di tengah derasnya hiburan asing dan modern membanjiri negeri kita, wayang masih diminati. Tapi pertunjukan wayang bukan sekadar adegan gara-gara. Wayang bahkan bukan sekadar sebagai media penceritaan epos Ramayana dan Mahabharata atau epos-epos lainnya, meski cerita itulah yang dikisahkan dalam wayang.

Seperti yang diungkapkan Nawa Tunggal, “Wayang merupakan bayang-bayang kehidupan kita, bayang-bayang keinginan kita, bayang-bayang dari setiap risiko pilihan sikap hidup kita.” Dengan demikian, pada hakikatnya, wayang merupakan sarana bagi kita untuk berkaca diri sehingga kita lebih mengenal diri kita sendiri.

Tapi mungkin, dengan fungsi wayang sebagai sarana untuk berkaca diri inilah kita bisa mengerti bagaimana posisi wayang di mata masyarakat sekarang. Tampaknya wayang, seperti juga tontonan kesenian lainnya, diminati semata sebagai hiburan. Ketika menonton wayang, yang diharapkan kebanyakan orang adalah mendapatkan hiburan, dan bukan pelajaran mengenai kehidupan.

Tapi ini sebenarnya juga bukan persoalan baru. Penonton serius wayang, yang menjadikan wayang sebagai sarana untuk menilik diri pribadi atau menjadikannya sebagai sarana untuk mengolah rasa, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang yang menontonnya untuk hiburan. Ini terjadi kapan pun, di mana pun, dan pada jenis tontonan kesenian apa pun.

Untuk itu, pengembangan pertunjukan seni-budaya memang butuh orang-orang yang mampu berpikir kreatif sekaligus mendalam. Seniman yang mampu menciptakan karya yang disukai sekaligus memiliki kedalaman makna. Yang membuat para penonton mampu tertawa dan teraduk emosinya, sekaligus memberi pelajaran dan bahan perenungan.

Baca juga: Ki Timbul Hadiprayitno, Dalang yang Kukuh Mempertahankan Pakem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

six + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.