Ki Timbul Hadiprayitno, Dalang yang Kukuh Mempertahankan Pakem

Chandra Saputra Purnama

2946

1001indonesia.net – Ki Timbul Hadiprayitno adalah seorang dalang legendaris. Pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang kelahiran Purwadadi, Purworejo pada 24 September 1934 ini tidak pernah sepi dari penonton.

Ki Timbul yang mendapat gelar KMT Cermo Manggolo juga terkenal sebagai dalang yang kukuh mempertahankan pakem wayang. Sebagai sosok penjaga tradisi budaya Jawa, ia menolak mencampurkan wayang dengan tontonan campursari dan lawakan, sebuah hal yang biasa dilakukan oleh dalang lainnya untuk menarik penonton.

Bagi Ki Timbul, pakem dalam dunia pewayangan merupakan gugusan simbol yang mengandung makna yang sangat kaya dan mendalam. Pakem merupakan kitab pengetahuan mengenai spiritualitas dan filosofi hidup orang Jawa. Karena nilainya tersebut, pakem perlu dijaga dan dirawat.

Ki Timbul Hadiprayitno jelas bukan sembarang dalang. Ia masuk dalam kategori dalang yang mumpuni sebagai dalang ruwat. Ia pertama kali menerima tugas sebagai dalang ruwat pada tahun 1970-an di dusun Mancasan, Gamping, Sleman.

Saat itu, sebelum memimpin upacara ruwatan, ia menyalin buku tuntunan ruwatan yang berhuruf jawa milik pamannya yang juga seorang dalang. Proses penyalinan dilakukan selama sepuluh hari di gua Langse sambil berpuasa. (Mengenai peran Ki Timbul Hadiprayitno sebagai dalang ruwat bisa dibaca buku Ruwatan Sukerta & Ki Timbul Hadiprayitno karya Sri Teddy Rusdy)

Dalang yang meninggal dunia pada 9 Mei 2011 di usia 81 tahun ini hidup dengan kesederhanaan, bahkan saat ia sudah menjadi dalang terkenal sekalipun. Semasa hidupnya, ia menekuni profesi dalang secara total. Ibarat kata, hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk wayang.

Dalam mendalang, ia tidak memasang tarif untuk dirinya sendiri. Yang terpenting krunya, yaitu pengrawit dan pesindhen, mendapat bayaran yang cukup. Sisanya, baru untuk dirinya. Baginya, menjadi dalang adalah pilihan hidup yang harus ia jalani sepenuhnya. Mendalang adalah menjalani darmaning dalang. Prinsip ini ia pegang bahkan setelah ia menjadi dalang terkenal.

Selama menjadi dalang, Ki Timbul Hadiprayitno kukuh mempertahankan pakem pewayangan. Ia menolak mengikuti dalang-dalang lain yang banyak melakukan improvisasi dalam pagelaran mereka.

Improvisasi banyak dilakukan para dalang untuk membuat pertunjukan wayang menjadi lebih menarik sehingga minat masyarakat terhadap wayang tidak hilang. Tentu hal ini sah-sah saja mengingat sumber penghasilan mereka dari mendalang. Lagi pula, improvisasi ini juga berfungsi untuk menjaga kelanggengan seni pewayangan. Jika tidak ingin mati, pagelaran wayang juga harus mengikuti zaman.

Namun, Ki Timbul punya pendapat lain. Ia tidak mau mengorbankan pakem demi menarik minat penonton.

Pilihannya untuk mempertahankan pakem bukan berarti ia dalang yang kolot, tak mau mengikuti perubahan zaman. Hal ini terlihat dari sikapnya yang tidak anti perkembangan teknologi. Ia termasuk generasi awal dalang yang pagelarannya direkam oleh RRI untuk disiarkan melalui radio.

Pendirian Ki Timbul untuk tetap mempertahankan pakem adalah karena ia paham betul, pagelaran wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi sebagai sarana pewarisan ajaran dan nilai-nilai luhur.

Wayang kulit berikut semua unsur-unsurnya merupakan suatu sistem simbol yang begitu kaya yang merangkum sikap hidup orang Jawa. Pagelaran wayang kulit adalah sarana untuk menyampaikan tuntunan luhur ini. Ki Timbul ingin agar sistem simbol yang begitu kaya ini tetap terawat dan tidak hilang oleh gerusan waktu.

Bukan berarti Ki Timbul Hadiprayitno tidak paham akan tantangan wayang ke depan, bahwa wayang kulit bakal kalah populer dibanding hiburan-hiburan lain yang lebih modern. Namun, alih-alih membuat improvisasi atas pakem wayang, Ki Timbul menjawab dengan kualitas pagelarannya.

Mungkin penolakan Ki Timbul akan improvisasi pegelaran wayang dengan menambahkan lawakan atau lagu campursari tampaknya juga merupakan cerminan dari pribadinya yang sederhana.

Wong kuwi opo anane, ora perlu werna-werna” (orang itu sebaiknya apa adanya, tidak perlu macam-macam).” Ungkapan itu, tak hanya menjadi prinsip hidupnya dalam keseharian, tetapi juga menjadi dasar profesionalitasnya dalam dunia pewayangan.

Semasa hidupnya, Ki Timbul menggeluti dan mendalami dunia pewayangan secara penuh. Dalam setiap penampilannya, ia pun selalu total. Oleh karena itu, meskipun tidak aneh-aneh, pada zamannya, ia tetap menjadi dalang yang paling populer. Pertunjukannya selalu dinanti.

Jika dalang-dalang lain ditinggal penontonnya setelah adegan gara-gara yang ada bintang tamunya—karena inilah pertunjukan klimaksnya sebagai adegan yang paling menarik dan ditunggu—Ki Timbul tidak. Ia mampu membuat sebagian besar penontonnya tetap menyaksikan pertunjukan yang amat panjang itu sampai selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.