Mappadendang, Tradisi Sambut Musim Panen Masyarakat Suku Bugis

128
Tradisi Mappadendang
Foto: kabarmakassar.com

1001indonesia.net – Mappadendang merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh suku Bugis saat menyambut maupun usai panen padi. Tradisi yang dikenal juga dengan nama pesta tani ini digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen padi yang melimpah.

Mappadendang dilakukan oleh beberapa wanita dan laki-laki yang mengenakan pakaian adat bernama baju bodo. Secara bergantian mereka memukul lesung menggunakan alu.

Pukulan alu pada lesung akan menciptakan irama yang teratur. Sambil memukul, mereka kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan kegiatan yang mereka kerjakan.

Alat yang digunakan adalah sebuah lesung yang besar dan panjang yang dilengkapi dengan beberapa alu. Alat ini digunakan untuk menumbuk padi oleh warga yang terlibat dalam acara ini.

Alat pada Mappadendang
Alu dan lesung digunakan sebagai alat dalam tradisi Mappadendang. (Foto: rakyatbugis.com)

Bagi masyarakat Bugis, tradisi Mapadendang juga berfungsi sebagai upacara penyucian.  Gabah yang masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah diproses menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusia. Dengan kata lain, upacara ini adalah untuk memohon berkah bagi beras yang nantinya akan dimakan manusia.

Berbagai sesajian, seperti nasi ketan 7 warna, dipersembahkan kepada dewi padi atau Dewi Sri yang dipercaya petani sebagai dewi pembawa berkah agar hasil panen petani lebih melimpah tahun ini.

Tradisi ini telah dilakukan sejak dahulu, diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang suku Bugis. Mappadendang biasanya digelar selama dua hari dua malam di lapangan terbuka. Para warga dari kampung sebelah biasanya turut hadir menyaksikan acara ini.

Upacara adat ini dimulai setelah maghrib atau malam hari. Acara diawali dengan pembacaan doa keselamatan bagi seluruh warga kampung oleh seorang tokoh adat. Saat sang tokoh adat memimpin upacara atau doa bersama, perwakilan tokoh adat lainnya dari dusun tetangga ikut mengaminkan ritual suci tersebut.

Sejumlah makanan digelar di nampan atau baki yang terdiri dari beras ketan (sokko’), pisang, ayam, dan menu makanan lainnya. Semua ini dipersembahkan untuk Sang Dewi Sri agar ia bermurah hati, memberi berkah dan kelancaran sehingga hasil panen petani tahun ini melimpah.

Di masa silam, upacara adat ini dilakukan hampir di seluruh wilayah di Sulawesi Selatan setiap musim panen raya. Namun sekarang, tradisi ini seakan ditinggalkan. Hanya beberapa daerah saja yang masih melakukannya. Itu pun hanya segelintir.

Baca juga: Lom Plai, Ritual Pesta Panen Suku Dayak Wehea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.