Mandau, Senjata Tradisional Suku Dayak

oleh Siti Muniroh

775
Mandau, Senjata Tradisional Suku Dayak
Foto: Wikipedia/Tropenmuseum

1001indonesia.net – Suku Dayak di pedalaman Kalimantan memiliki senjata tradisional. Senjata tajam ini mirip dengan parang. Bentuknya indah, lengkap dengan pisau kecil pengasahnya. Senjata yang terkenal hingga ke luar negeri ini bernama mandau.

Istilah “mandau” berasal dari dua kata dalam bahasa China, yakni “Man” dan “dao”. “Man” adalah salah satu suku di China bagian selatan, dan “dao” adalah golok dalam bahasa China. Suku Dayak mengartikannya secara berbeda; “man” artinya keberanian, “dau” artinya senjata. Kata yang dianut suku Tionghoa pedalaman.

Pada beberapa suku Dayak, mandau disebut secara berbeda-beda. Dayak Bidayuh, Iban, dan Penan memanggilnya parang ilang. Dayak Kayan memanggilnya malat, baeing bagi Dayak Kenyah, dongt bagi Dayak Tanjung, ekeq bagi Dayak Benoaq, edog/baliuu bagi Dayak Bahau, loboq bagi Dayak Tanjung dan Benoaq.

Senjata tajam ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Dayak. Tak sekadar fungsional, senjata ini sudah menjadi semacam harga diri dan kehormatan seseorang sebagaimana seorang Jawa dengan keris yang melekat di pinggangnya.

Masyarakat Dayak tradisional mempercayai mandau memiliki unsur magis. Senjata ini dipakai untuk berperang. Mandau juga digunakan sebagai perlengkapan upacara dan tarian adat.

Suku Dayak, seperti masyarakat tradisional Nusantara lainnya, dekat dengan alam. Mereka menganggap alam sebagai ibu di mana mereka bergantung kepadanya. Hal ini mereka hayati sejak masa leluhur mereka. Hubungan mereka dengan alam yang harmonis inilah kiranya yang menjadi sumber dari kekuatan magis mandau.

Rupa 

Mandau memiliki tiga bagian, yaitu isin/loneng, pulang/hulu, dan sarukngIsin/loneng adalah batang mandau. Panjangnya sekitar 50 cm, lebar pangkal 2 cm, dan lebar ujung sekitar 5 cm. Adapun beratnya sekitar 335 gram. Isin/loneng terdiri dari dua sisi utama, bagian punggung yang tumpul dan bagian bawah yang sangat tajam. Isin semakin ke ujung akan semakin lebar dan pada pangkalnya dipasangi pulang (ukiran indah).

Pulang memiliki lubang-lubang sering ditutupi dengan lapisan dari tembaga ataupun kuningan. Hal ini dimaksudkan untuk memperindah rupa mandau. Bentuk-bentuk ukiran pada Mandau pun berbeda-beda pada banyak suku. Biasanya didasarkan kepada ukiran yang khas dari daerah masing-masing (sub-suku  Dayak) dan menjadi pembeda antar satu sama lain.

Adapun hulu mempunyai dua nilai penting, yakni sebagai pegangan atau tangkai senjata dan  juga sebagai karakter senjata itu sendiri. Bentuk dasar hulu biasanya menyerupai binatang berkaki empat, burung ataupun binatang lainnya. Dari hulu ini pulalah nilai sejarah suatu suku dipatrikan. Oleh karenanya, seorang dayak memiliki kebanggaan terhadap mandau yang dimilikinya.

Aksesori

Sarukng (sarung) mandau disebut juga kumpang. Terbuat dari kayu dan dilapisi tanduk rusa. Biasanya ia diberi ukiran pula. Selain itu, kumpang diberi tempuser undang, yakni tali ikat yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Tali ini akan diikatkan di pinggang sang pemilik. Turut diikat pula pada kumpang sebuah sarung berisi pisau raut penajam mandau. Sarung ini terbuat dari kulit kayu dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Adapun pisau raut ini bernama langgei puai (anak mandau).

Bahan Baku 

Literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, mengatakan bahwa bahan baku mandau adalah besi (Sanaman) Mantikei. Bahan ini terdapat di hulu sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Sanaman Matikei, Katingan. Besinya lentur sehingga dapat dibengkokkan.

Bahannya yang spesial membuat harga senjata ini tidak murah. Mandau asli yang paling murah sekitar 1 juta rupiah. Bila ia berusia tua dan besinya amat kuat, harganya dapat mencapai 20 juta.

Selain besi Mantikei, bahan bakunya dapat pula menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan batang besi lain.

Perangkat Kerja Pembuatan 

Alat yang dipakai untuk pembuatan senjata ini terutama adalah palu, betel, dan sepasang besi runcing yang digunakan untuk membuat hiasan. Digunakan pula pengembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakai untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya.

Cendera Mata

Untuk menekan harga mandau sehingga terjangkau untuk dijadikan cendera mata, beberapa penyesuaian dilakukan. Gagangnya dibuat dari kayu. Besi yang digunakan sebagai bahan adalah besi biasa, bukan besi Mantikei.

Mandau yang digunakan sebagai cendera mata disebut ambang. Orang yang tidak terbiasa melihat ataupun memegang mandau, akan sulit membedakan antara yang asli dengan ambang karena secara kasat mata, keduanya hampir sama.

Namun bila sudah mengenalinya, terlihatlah perbedaannya. Pada mandau, ukirannya bertatahkan emas, tembaga, atau perak. Ia dirasakan lebih kuat namun lentur karena terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa.

Harga ambang berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 300.000, tergantung dari besi yang digunakan.

Unsur Magis

Mandau asli mempunyai penyang (ilmu kesaktian suku Dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang). Penyang akan membuat orang yang memegangnya menjadi sakti, kuat, dan kebal dalam menghadapi musuh. Mandau dan penyang adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun-temurun dari leluhur.

 

LEAVE A REPLY

20 − ten =