Mamaca, Menengok Tradisi Sastra Lisan di Madura

oleh Ach. Fadil

707
Tradisi Mamaca di Pulau Madura
Tradisi Mamaca di Pulau Madura (Foto: Syarwini Syair/KOMPASIANA)

1001indonesia.net – Setiap karya seni tradisional, termasuk sastra di dalamnya, biasanya memiliki dimensi filosofis dan sosiologis tertentu. Meski di antara karya-karya sastra itu tidak murni lahir dari daerah setempat, tapi paling tidak ia berfungsi secara didaktis menjadi pedoman moral bagi masyarakatnya. Hal ini terjadi pada seni tradisi mamaca yang hingga saat ini masih bertahan di Madura, terutama di daerah Sumenep dan Pamekasan.

Sastra lisan ini memang tidak lahir dari rahim masyarakat Madura sendiri. Akar geneologisnya bisa kita lacak pada tradisi macapat yang ada di Jawa yang sudah eksis sejak era Kerajaan Mataram. Tradisi macapat sendiri berasal dari tradisi Hindu-Jawa.

Lambat laun, nilai-nilai kesusastraannya yang animistik mengalami perubahan ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa. Pada akhirnya, dimensi filosofis-transendental khas Islam (seperti ajaran keagamaan, anjuran membenahi ilmu pengetahuan, dan memperbaiki moral) menjadi core values dalam mamaca dan menjadi tata acuan bagi masyarakat dalam rangka mengarungi dramaturgi kehidupan.

Nilai-nilai itu semula diinternalisasikan ke dalam macapat yang berbahasa Jawa Kuno halus (kromo inggil)—yang juga dipertahankan dalam tradisi mamaca—oleh beberapa pujangga Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Dalam mendakwahkan Islam, mereka menggunakan medium kebudayaan yang sudah akrab dengan masyarakat Nusantara pada waktu itu, khususnya kesenian seperti wayang dan tembang (nyanyian bermusik).

Mamaca merupakan bagian dari tradisi tembang, dilantunkan menggunakan alat-alat musik seperti seruling dan gambang. Namun, suara alat-alat musik itu mengalun lirih, tidak lebih keras dari suara dan nada mamaca yang dilantunkan. Barangkali di situlah suara yang sarat nilai itu akan memiliki kekuatan tanpa kehilangan unsur estetis pendukungnya.

Mamaca yang secara etimologis berasal dari pembentukan kata dasar Madura maca (baca), segera bisa dikenali maknanya sebagai “membaca”.  Setidaknya ada tiga aspek dalam tradisi memaca, yaitu teks yang dibaca (kitab atau layang), pembaca (pamaos), dan penerjemah (panegghes).

Jenis naskah tembang yang biasa dibacakan antara lain Tembang Pucung, Tembang Pangkur, Tembang Senom, Tembang Maskumambang, Tembang Durma, dan lain-lain. Dari tembang-tembang tersebut, ada tiga tembang yang sangat terkenal atau sering disenandungkan, yaitu Tembang Nurbuwat, Tembang Yusuf, dan Tembang Pandhaba.

Tembang-tembang tersebut memiliki karakter sendiri-sendiri sehingga disenandungkan dalam acara-acara yang berbeda. Misalnya naskah Tembang Nurbuwat—yang memuat kisah-kisah tentang nabi-nabi, sebagian besar kisah Nabi Muhammad—biasanya dibacakan saat acara perayaan peristiwa Isra’ Mi’raj dalam sejarah Islam.

Tembang Yusuf biasanya disenandungkan pada saat upacara tujuh bulanan dari kehamilan seorang ibu, dengan harapan agar anak yang dikandungnya memiliki muka yang rupawan layaknya Nabi Yusuf. Demikian juga dengan tembang-tembang yang lain, masing-masing karakter yang sesuai dengan maksud tertentu. Biasanya, semua tembang dibaca sepanjang malam.

Dalam sejarahnya, pembacaan cerita-cerita klasik-sastrawi di Madura itu tidak selalu memuat unsur-unsur Islam seperti disebut di atas. Tak jarang tembang-tembang berisi hikayat-hikayat yang berasal dari tradisi lama Hindu, seperti kisah Ramayana, Mahabharata, Arjunawiwaha, dan cerita panji yang berasal dari kitab-kitab karya Mpu Sedah, Mpu Panuluh, dan Mpu Kanwa.

Naskah-naskah tersebut dibaca atau ditembangkan oleh seorang pembaca (pamaos) yang sudah sangat menguasai bahasa Jawa Klasik—terutama kromo ingggil. Pamaos ini akan membacakan pusparagam tembang mamaca dalam bahasa aslinya tersebut. Juru tembang ini perannya cukup vital karena ia yang terutama berkontribusi dalam menjaga kemurnian naskah dan tradisi.

Namun, bagi masyarakat Madura, hal itu tak akan ada artinya tanpa adanya seorang panegghes (juru makna) atau disebut juga dengan tokang tegghes. Perannya sangat vital, melebihi pamaos. Ia bertugas menerjemahkan apa yang dilantunkan pamaos ke dalam bahasa Madura.

Dengan demikian, ujaran tembang tersebut bisa dimengerti dan pesan-pesan moril-profetiknya bisa sampai ke jiwa-jiwa masyarakat Madura. Sebab itu, seorang panegghes harus menguasai bahasa kromo inggil sekaligus bahasa Madura halus.

Dalam pelaksanaannya, teks tembang biasanya diletakkan di atas bantal. Pamaos dan panegghes duduk bersila melingkari teks tersebut. Mereka secara bergilir membaca serta menerjemahkan.

Alunan musik senantiasa memperindah senandung tembang macapat tersebut. Alat-alat musik itu, kadang-kadang dimainkan secara bergantian dengan suara pamaos dan panegghes, tetapi tak jarang dimainkan secara serentak beriringan.

Senandung tembang mamaca memiliki kekhasan tersendiri. Juru tembang biasanya melagukan teks sastra itu dengan gaya cengkok-vibratif yang diembat-embat. Kalau kita mendengarkan mamaca, seolah-olah pamaos dan panegghes tak pernah putus melagukan teks dengan gaya seperti itu. Antara satu lirik dan lirik lainnya selalu berkesinambungan. Kadang melambat dan tak jarang agak cepat.

Hal penting lainnya, ketika mamaca diadakan untuk pelaksanaan upacara kegamaan atau tradisi setempat, pihak yang mengundang (tuan rumah) meletakkan semacam sesajen di tengah-tengah lingkaran para peserta mamaca. Tetapi pada umumnya, tuan rumah hanya menyediakan kopi, rokok, serta makanan secukupnya yang dinikmati sesaat sebelum tembang disenandungkan atau ketika sedang istirahat.

Pada saat istirahat inilah, penonton biasanya meminta ramalan (oghem). Ramalan kemudian diambil secara acak dari naskah yang sedang dibacakan saat itu. Lalu pamaos membaca naskah yang diterjemahkan oleh panegghes.

Sebenarnya, kebiasaan ini tidak dimaksudkan hanya untuk meramal semata, tetapi lebih sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah yang mengundang dan penonton. Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung tidak hanya didominasi oleh pelantun mamaca saja, tetapi juga melibatkan pihak lain.

Sekalipun tembang mamaca termasuk dari seni pertunjukan, ia hanya ditonton oleh kalangan terbatas. Ia jauh dari ingar-bingar layaknya seni pertunjukan lainnya seperti wayang dan ludruk. Seni mamaca biasanya ditonton oleh pihak yang mengundang (tuan rumah) dan tetangga sekitar.

Sumber:

  • Tjiptoatmodjo, F. A. S. Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura Abad XVII sampai Medio Abad XIX. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1983.
  • Pamusuk Eneste, dalam “Catatan-Catatan Seorang Penyair.” Horison (Kakilangit). Vol. 47 (Desember, 2000).
  • http://www.lontarmadura.com/tembangmacapatmaduradansejarahpengembangannya/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × three =