Lamut, Seni Tutur Masyarakat Banjar yang Makin Terpinggirkan

61
Seni Tutur Lamut
Seni tutur lamut khas Banjar. (Foto: Rembangbicara.pikiran-rakyat.com)

1001indonesia.net – Provinsi Kalimantan Selatan memiliki kekayaan sastra daerah yang beraneka ragam. Salah satunya adalah sastra daerah Banjar bernama lamut.

Lamut adalah sebuah tradisi berkisah. Cerita yang dibawakan mengandung pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya Banjar. Pertunjukan kesenian bertutur ini diiringi dengan alat musik terbang berukuran besar.

Pertunjukan lamut atau balamut biasanya dilakukan pada malam hari, mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Penceritanya disebut palamutan. Nama kesenian ini diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yakni Paman Lamut.

Saat pertunjukan, palamutan dengan membawa terbang yang diletakkan di pangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi para pendengarnya. Khusus untuk pendengar perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.

Baca juga: Hadrah, Kesenian Rebana Terbangan

Sejarah

Lamut berasal dari negeri China. Bahasanya pun semula menggunakan bahasa Tionghoa kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Banjar. Diperkirakan seni berkisah ini datang di tanah Banjar pada 1816. Lamut dibawa oleh para pedagang Tionghoa ke Banjar hingga ke Amuntai.

Konon orang-orang dulu sangat menyukai lamut. Ceritanya sangat banyak, berkisah tentang pengalaman di banyak negeri yang disampaikan secara bertutur.

Perkembangan lamut berawal ketika Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay di Amuntai. Dari pedagang itulah ia pertama kali mendengar alunan syair China. Dalam pertemuan enam bulan kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut.

Raden Ngabe kemudian mempelajari dan melantunkannya. Mulanya tanpa iringan terbang. Lamut mulai berkembang setelah warga minta dimainkan setiap kali panen padi berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, lamut mendapat iringan terbang.

Seiring dengan pesatnya penyebaran agama Islam, kesenian Islam sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan kesenian Banjar. Syair-syair dan pantun hidup dan berkembang dalam masyarakat. Tak hanya dipengaruhi oleh kesenian Islam, Lamut juga mendapat tempat yang strategis dalam penyebaran Islam di masyarakat Banjar.

Ketika Sultan Suriansyah masuk Islam, banyak kebudayaan dan kesenian Jawa, khususnya dari Demak, Jawa Tengah, berbaur dalam kebudayaan dan kesenian Banjar. Maka tak heran lamut mendapat pengaruh juga dari Wayang Kulit yaitu dialognya mirip dialek wayang.

Seni bertutur ini disebut lamut karasmin karena menjadi hiburan pada perkawinan, hari besar keagamaan, maupun acara nasional. Lamut juga digunakan dalam proses batatamba (penyembuhan penyakit).

Orang yang punya hajat dan terkabul biasanya juga mengundang palamutan. Kata lamut konon berasal dari bahasa Arab laamauta (ﻻﻤﻭﺕ) yang artinya tidak mati.

Sejak penghapusan kerajaan Banjar oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1860, balamut semakin meluas memasuki wilayah perkotaan. Sampai tahun 1900-an, balamut masih bertahan. Akan tetapi, memasuki tahun 1926, kesenian tradisional ini menjadi terdesak dan terpuruk karena film dan gramophone merambah kemasyarakatan umum.

Beberapa tahun kemudian, kesenian balamut mulai muncul kepermukaan lagi dan mencapai puncak kejayaannya sekitar tahun 1960–1970-an.

Baca juga: Madihin, Kekayaan Seni Tutur dari Banjarmasin Kalimantan Selatan

Pertunjukan

Pertunjukan kesenian tutur ini termasuk sederhana. Materi cerita disampaikan oleh satu-satunya seniman yang dikenal sebagai palamutan.

Umumnya pertunjukan pada malam hari sebagai hiburan masyarakat Banjar pada acara perkawinan, manyampir yaitu berkaitan dengan tradisi keluarga, dan perayaan hari-hari besar atau daerah.

Semakin terpinggirkan

Setelah sekitar satu dekade mencapai kejayaannya, pada 1972 keberadaan lamut kembali menurun dikarenakan masuknya tayangan televisi. Saat ini keberadaannya kian terdesak oleh kesenian modern yang makin membanjir sejak adanya jaringan internet.

Selain itu, minat generasi muda terhadap sastra lisan khas Banjar ini juga rendah sehingga regenerasi tidak berjalan dengan baik. Sedangkan satu per satu pelamutan meninggal dunia. Ini membuat keadaan seni tradisional ini semakin mengkhawatirkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 + sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.