Kumpe, Kain Kulit Kayu Suku Kulawi di Sulawesi Tengah

400
Pakaian Kulit Kayu dari Sulawesi Tengah
Kebiasaan membuat pakaian dari kulit kayu sudah ada sejak masa prasejarah di wilayah Sulawesi Tengah. (Foto: Indonesia.com)

1001indonesia.net – Pembuatan pakaian kulit kayu di Sulawesi Tengah kayu sudah dimulai sejak zaman neolitikum. Ini terbukti dari penemuan pemukul kulit kayu yang biasa disebut batu ike pada situs arkeologi di Kabupaten Poso dan Donggala.

Sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu masyarakat di Sulawesi Tengah telah mengembangkan teknik pembuatan kain kulit kayu. di Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi serta Kecamatan Lore Kabupaten Poso.

Tradisi ini terutama berkembang di kalangan masyarakat yang tinggal di Lembah Bada Kecamatan di Lore Selatan, Lembah Behoa Kecamatan Lore Tengah, Lembah Napu Kecamatan Lore Utara, dan Lembah Kulawi Kecamatan Kulawi.

Penyebaran pembuatan kain kulit kayu merata di keempat lembah dan daerah-daerah sekitarnya. Empat lembah tersebut yang dihuni oleh suku Lore dan suku Kulawi dengan beberapa subetnis.

Mereka mengolah dan mengembangkan pembuatan kain kulit kayu yang biasa disebut vuya atau kumpe menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi dan kehidupan keseharian mereka.

Di Kulawi, kain kulit kayu biasa juga disebut kumpe atau mbesa (kain adat), di Bada disebut ranta, di Napu disebut hampi, dan di Besoa disebut inodo. Sebutan vuya mulai diperkenalkan pada zaman pendudukan Jepang dan masih populer hingga kini.

Kualitas dan tekstur vuya yang dihasilkan di empat lembah itu berbeda-beda dan sangat khas. Di Bada misalnya, serat-serat kain antarsambungan relatif lebih rapat dan menghasilkan kain yang halus. Sedangkan di Kulawi, serat kain antarsambungan terlihat jarang sehingga terkesan agak kasar dan kurang rapi.

Dulu kain kulit kayu dipakai di seluruh lembah-lembah untuk selimut dan pemisah ruangan, sebagai pakaian pria dan wanita, dan bahkan dibuat menjadi pelana kuda.

Tidak ada informasi ataupun kapan tepatnya produksi kain dari kulit kayu ini dimulai. Masayarakat Kulawi, misalnya, memercayai bahwa kerajinan pembuatan Vuya berasal dari daerah mereka.

Konon nenek moyang orang Kulawi mengembara untuk berburu dan mencari lokasi pertanian sembari menjajakan kain Vuya sampai ke lembah Bada. Kain-kain tersebut dipertukarkan dengan kerbau untuk di bawa pulang.

Sementara masyarakat lembah Bada punya versi mitos yang lain. Konon, sebelum kain kulit kayu tidak digunakan sebagai bahan pakaian (baju), tetapi hanya untuk menutup bagian bawah tubuh (aurat) yang mereka sebut Pewe. Baru kemudian, masyarakat mulai membuat Komo, semacam selimut untuk tidur. Waktu itu masyarakat belum mengenal baju.

Tradisi berbaju baru masuk bersamaan dengan datangnya pedagang Portugis ke daerah ini, tradisi baju yang diperkenalkan kepada Portugis inilah yang mengilhami masyarakat membuat baju dari kain kulit kayu.

Baju adat masyarakat Lembah Bada yang sangat kental dengan nuansa Portugis terlihat dari bentuk baju dan rok yang menyerupai gaun dengan renda-renda.

Pembuatan pakaian kulit kayu

Tidak semua jenis pohon bisa digunakan kulitnya untuk membuat kain. Yang digunakan sebagai pembuatan kain adalah kulit kayu dari pohon nunu (pohon beringin), pohon ivo, dan pohon mao/malo. Tangkai-tangkai pohon dengan ukuran 110-130 cm diambil lalu dikeluarkan serat-seratnya yang terdapat antara tulang dalam dan kulit luarnya.

Setelah itu, dimasak lalu frementasikan, kemudian dipukul-pukul hingga merata menggunakan batu ike. Pewarnaan kain kulit kayu diambil dari bahan-bahan alami, seperti direndam dilumpur untuk menghasilkan warna cokelat. Untuk menghasilkan berbagai warna lain, kain direndam bunga.

Kain kulit kayu juga memiliki aneka jenis motif, seperti, tanduk, tumpal, bunga dan belah ketupat. Aneka jenis motif ini mengandung makna keberanian, kebangsawanan, keramahtamahan dan persatuan.

Baca juga: Bidai, Tikar Rotan khas Kalimantan Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.