Kompleks Candi Penataran, Jejak Kejayaan Masa Lalu di Lereng Kelud

147
Kompleks Candi Penataran
Kompleks Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Blitar. (Foto: blitarkab.go.id)

1001indonesia.net – Kompleks Candi Penataran berada di ketinggian 450 meter di atas permukaan laut, di lereng barat daya Gunung Kelud. Letaknya sekitar 12 kilometer ke arah utara dari Kota Blitar.

Secara administratif, Kompleks Candi Penataran berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Gugus candi ini merupakan kompleks candi terluas di Jawa Timur. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan kuno yang berjajar dari barat-laut ke timur kemudian berlanjut ke tenggara, menempati lahan seluas 12.946 meter persegi.

Setelah lama tertimbun, Kompleks Candi Panataran ditemukan kembali pada 1815 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di Nusantara pada waktu itu. Bersama Dr. Horsfield seorang ahli ilmu alam, Raffles mengadakan kunjungan ke Komplek Candi Penataran.

Para peneliti kemudian berdatangan untuk melakukan penyelidikan dan pencatatan benda purbakala di kawasan ini. Pada 1867, Andre de la Porte dan J. Knebel juga mengadakan penelitian di kawasan Candi Penataran. Hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1900 dengan judul De ruines van Panataran.

Candi Palah

Dalam kitab Nagarakretagama, Candi Penataran disebut dengan nama Candi Palah. Diceritakan bahwa Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit sering mengunjungi Palah untuk memuja Sang Hyang Acalapati, atau yang dikenal sebagai Girindra (berarti raja gunung) dalam kepercayaan Syiwa.

Oleh karena itu, jelas bahwa Candi Palah sengaja dibangun di kawasan dengan latar belakang Gunung Kelud, karena memang dimaksudkan sebagai tempat untuk memuja gunung. Pemujaan terhadap Gunung Kelud bertujuan untuk menangkal bahaya dan menghindarkan diri dari petaka yang dapat ditimbulkan oleh gunung tersebut.

Berdasarkan tulisan pada prasasti yang terletak sisi selatan bangunan utamanya, diduga bahwa Candi Palah dibangun pada awal abad ke-12 M, atas perintah Raja Srengga dari Kediri. Meski demikian, Kompleks Candi Penataran terus mengalami pengembangan dan perbaikan sampai setelah masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Dugaan tersebut didasarkan pada berbagai angka tahun yang tertulis pada berbagai tempat di candi ini yang berkisar antara tahun 1197 sampai tahun 1454 M. Seluruh areal Penataran, kecuali halaman yang berada di bagian tenggara, terbagi oleh dua jalur dinding yang melintang dari utara ke selatan menjadi tiga bagian.

Arca Dwarapala di Kompleks Candi Penataran
Arca Dwarapala penjaga gerbang Kompleks Candi Penataran. (Foto: Wikipedia)

Gerbang masuk ke areal candi terletak sisi barat. Dari pintu masuk terdapat tangga turun ke pelataran seluas sekitar 6 meter persegi. Di pelataran ini terdapat dua buah arca raksasa penjaga pintu (dwarapala). Pada tatakan arca tertera tulisan tahun 1242 Saka (1320 M) dalam huruf Jawa kuno.

Berdasarkan tulisan angka tahun tersebut para pakar menduga bahwa Kompleks Candi Penataran baru diresmikan sebagai tempat suci milik kerajaan pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, yang memerintah Majapahit tahun 1309-1328 M.

Di sisi belakang emperan, di antara kedua arca Dwaraphala tersebut, terdapat tangga naik menuju ke pelataran depan. Di puncak tangga masih terdapat sisa-sisa pintu gerbang dari bahan batu bata merah.

Susunan bangunan di Kompleks Candi Penataran memang menarik karena letak bangunan yang satu dengan yang lainnya berhadap-hadapan, berjajar dari depan ke belakang. Susunan bangunan semacam ini mirip dengan susunan pura di Bali. Dalam susunan seperti ini, bangunan yang paling suci terletak di pelataran paling dalam atau paling belakang, yaitu yang paling dekat dengan gunung.

Di pelataran depan terdapat sekitar 6 buah bekas bangunan, 2 buah di antaranya tidak dapat dikenali lagi bentuk aslinya. Salah satu bangunan yang penting adalah Bale Agung, yang terletak di sisi barat-laut pelataran depan, agak menjorok ke barat (ke depan).

Bale Agung

Bale Agung digunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau penanda, seperti pura di Bali. Bangunannya yang berbentuk seperti panggung persegi panjang berukuran 37 X 18,84 meter persegi dengan lantai setinggi 1,44 meter. Dinding dan atap bangunan sudah tak bersisa. Hanya lantainya yang masih utuh.

Pada lantai Bale Agung terdapat beberapa umpak batu yang diperkirakan berfungsi sebagai penumpu tiang-tiang kayu penyangga atap. Seluruh lantai terbuat dari batu, dihiasi pahatan naga yang melilit di sekeliling dinding lantai dan kepalanya menyembul di setiap sudut lantai. Di pertengahan setiap sisi terdapat tangga diapit dua buah arca Mahakala. Semua arca Mahakala masih berada di tempatnya kecuali yang berada di sisi timur.

Sejajar dengan Bale Agung, terletak di sisi utara, terdapat bangunan yang dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal pendeta. Seluruh bangunan itu sudah hancur, hanya menyisakan tatanan umpak.

Bale Agung di Kompleks Candi Penataran
Bale Agung di Kompleks Candi Penataran (Foto: johanesbrain/Flickr)

Batur Pendapa

Di sebelah tenggara Bale Agung, tepat di belakang tempat tinggal para pendeta, terdapat bangunan yang disebut Batur Pendapa. Sebagaimana halnya dengan Bale Agung, yang masih tersisa dari bangunan ini hanyalah lantai yang terbuat dari batu, seluas 29,05 X 9,22 meter persegi dengan tinggi 1,5 meter.

Sekeliling dinding lantai Batur Pendapa dihiasi dengan relief cerita-cerita. Diduga bangunan Batur Pendapa ini dahulu berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sesajian dalam upacara keagamaan.

Tangga untuk naik ke lantai pendapa hanya terdapat di sisi barat atau bagian depan. Terdapat dua buah tangga, di kiri dan di kanan. Pada masing-masing tangga tersebut diapit oleh sepasang arca raksasa kecil bersayap, bertumpu pada salah satu lututnya dan salah satu tangannya memegang gada. Pipi atau dinding pembatas tangga berbentuk gelung dengan hiasan tumpal yang indah pada puncaknya.

Pada pelipit atas sisi timur dinding lantai, tersembunyi di antara pahatan hiasan sulur dan dedaunan, terdapat pahatan angka tahun yang menunjukkan bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi.

Batur Pendapa ini juga dihiasi dengan pahatan naga-naga yang saling membelakangi, melilit di sekeliling dinding lantai. Ekor kedua naga yang saling membelakangi tersebut saling membelit, sedangkan kepalanya yang mendongak keatas, memakai kalung dan berjambul menyembul ke atas di antara pilar-pilar bangunan.

Selain itu, dua bekas bangunan lainnya hanya tinggal fondasinya yang terbuat dari bata merah. Melihat banyaknya umpak batu yang tersisa di pelataran depan, diduga dahulu terdapat bangunan-bangunan yang menggunakan tiang kayu seperti yang dijumpai pada pura-pura di Bali. Banyaknya bangunan yang menggunakan tiang-tiang kayu belum diketahui secara pasti.

Sekitar 8 m di timur atau di belakang Batur Pendapa, terdapat bekas dinding batu bata yang melintang dari utara ke selatan, yang membatasi pelataran depan dengan pelataran tengah.

Di ujung selatan perbatasan, segaris dengan gerbang depan, terdapat bekas pintu gerbang yang di depannya dijaga oleh sepasang Arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil daripada yang terdapat di gerbang depan. Pada tatakan salah satu arca tertera angka tahun 1214 Saka (1319 M). Belum diketahui peristiwa apa yang dikaitkan dengan angka tahun ini.

Di pelataran tengah ini masih dapat disaksikan sekitar 7 bekas bangunan, baik yang terbuat dari bahan batu bata merah maupun yang dibuat dari bahan batu andesit. Dari ketujuh bekas bangunan tersebut enam di antaranya sudah tidak dapat dikenali bentuknya.

Candi Angka Tahun

Sekitar 20 m di sebelah timur Batur Pendapa terdapat bangunan Candi Angka Tahun. Bangunan ini seluruhnya terbuat dari batu andesit. Disebut Candi Angka Tahun karena di atas ambang pintu masuk terpahat dengan jelas angka tahun 1291 Saka (1369 M).

Masyarakat setempat lebih mengenal Candi Angka Tahun dengan sebutan Candi Brawijaya, karena bangunan ini digunakan sebagai lambang Kodam Brawijaya. Sebagian orang menyebutnya Candi Ganesha, karena di dalam bilik candi terdapat sebuah arca Ganesha. Bentuk Candi Angka Tahun ini sangat dikenal masyarakat, sehingga seakan-akan mewakili seluruh candi di Kompleks Candi Penataran.

Candi Angka Tahun di Kompleks Candi Penataran
Candi Angka Tahun disebut juga Candi Brawijaya karena bangunan ini digunakan sebagai lambang Kodam Brawijaya. (Foto: Istimewa)

Candi Angka tahun menghadap ke barat karena pintu candi terletak di sisi barat. Di halaman depan, di kiri dan kanan bangunan candi, terdapat sepasang arca.

Kaki candi cukup tinggi, sehingga untuk mencapai pintu dibuat tangga batu dengan pipi tangga berbentuk ukel (gelung) besar dengan hiasan tumpal berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Dalam tubuh candi terdapat bilik (garba grha). Di dalamnya terdapat arca Ganesha.

Sebagaimana candi lainnya, di atas ambang pintu terdapat hiasan kalamakara. Tepat di bawahnya, tertera angka tahun yang telah dijelaskan di atas.

Pada dinding di ketiga sisi lainnya terdapat relung yang menyerupai pintu semu, yang juga dihiasi dengan kalamakara di atasnya. Kala di atas ambang pintu dan relung candi dimaksudkan untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak berani masuk ke lingkungan candi.

Atap candi dipenuhi dengan hiasan yang meriah, dengan puncak berbentuk persegi. Di bagian atas bilik candi pada batu penutup sungkup terdapat relief Surya, yakni lingkaran yang dikelilingi oleh pancaran sinar berupa garis-garis bersusun vertikal membentuk beberapa buah segitiga sama kaki. Relief Surya yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit ini juga ditemukan di beberapa candi lain di Jawa Timur dalam bentuk yang sedikit bervariasi.

Candi Naga

Bangunan ini di sebut Candi Naga karena sekeliling tubuhnya dililit oleh pahatan berwujud naga. Bangunan candi seluas 4,83 X 6,57 meter dengan tinggi 4,70 meter, letaknya di pelataran tengah.

Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit. Seperti Candi Angka Tahun, pintu masuk ke bilik candi terletak di sisi barat. Kaki candi cukup tinggi sehingga untuk mencapai pintu dibuatkan tangga. Pipi tangga berbentuk ukel berhiaskan tumpal. Di kanan kiri kaki tangga terdapat arca raksasa membawa gada yang saat ini hanya tinggal satu.

Bangunan yang ada saat ini merupakan hasil pemugaran tahun 1917-1918. Yang berhasil dikembalikan ke bentuk aslinya hanya bagian kaki dan tubuh candi. Bagian atap yang kemungkinan dibuat dari bahan yang tidak tahan lama telah runtuh.

Pada dinding tubuh candi terdapat pahatan sembilan tokoh yang berdiri di kiri dan kanan pintu masuk, di setiap sudut, dan di tengah ketiga dinding lainnya. Kesembilan tokoh ini digambarkan dalam busana kerajaan yang mewah dan dilatarbelakangi oleh prabha (tempat bersandar yang dihiasi dengan sinar kedewaan).

Salah satu tangannya memegang genta, sedang tangan yang lain menyangga tubuh naga yang melingkari bagian atas bangunan. Di antara pahatan tokoh-tokoh tersebut terdapat pahatan bermotif bulatan (medalion). Dalam motif tersebut terdapat kombinasi relief daun-daunan atau bunga-bungaan dan berbagai jenis binatang. Di antara bulatan-bulatan tersebut terdapat relief cerita binatang dalam ukuran yang lebih kecil. Sayang cerita yang digambarkan dalam relief ini belum dapat diungkapkan.

Candi Naga di Kompleks Candi Penataran
Candi Naga di Kompleks Candi Penataran (Foto: situsbudaya.id)

Halaman terakhir di Kompleks Candi Penataran adalah pelataran dalam yang semula juga dibatasi dengan dinding yang melintang arah utara-selatan. Di selatan juga terdapat bekas pintu gerbang yang dijaga oleh sepasang arca dwarapala.

Di pelataran ini terdapat sekurangnya 9 bangunan, 2 buah yang sudah dapat dikenali adalah candi induk dan susunan percobaan bangunan tubuhnya. Ketujuh bangunan lainnya tinggal reruntuhan yang masih belum terungkapkan bentuk dan fungsinya.

Candi Induk

Candi Induk merupakan bangunan yang terbesar di antara seluruh bangunan di Kompleks Candi Penataran. Lokasi bangunan terletak di pelataran paling belakang (timur), yang dianggap sebagai bagian yang suci. Bangunan candi terdiri atas tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19 m.

Teras pertama berbentuk empat persegi dengan diameter 30,06 meter untuk arah timur barat. Di pertengahan keempat sisinya terdapat bagian yang menjorok keluar sekitar 3 m. Untuk naik ke teras pertama, terdapat dua buah tangga di kiri dan kanan sisi barat. Pada masing-masing sisi kedua tangga terdapat arca dwarapala yang pada tatakannya terpahat angka tahun 1269 Saka (1347 M). Sepanjang dinding teras pertama dipenuhi pahatan relief cerita.

Candi Induk di Kompleks Candi Penataran
Candi Induk di Kompleks Candi Penataran (Foto: candi1001.blogspot.com)

Teras kedua berukuran lebih kecil dibandingkan dengan teras pertama, karena pada bagian yang menjorok keluar di teras pertama justru sedikit menjorok ke dalam di teras kedua.

Perbedaan ukuran antara teras pertama dan teras kedua membentuk selasar di lantai teras pertama, yang memungkinkan orang berjalan mengelilingi bangunan sambil menyaksikan adegan-adegan yang digambarkan dalam relief cerita yang terpahat di sepanjang dinding. Pada dinding di teras pertama dan kedua berjajar panil pahatan cerita Ramayana dan dan Krisnayana diselingi dengan hiasan motif medalion.

Pada teras kedua terdapat sebuah tangga naik yang letaknya hampir di pertengahan dinding. Tangga naik ini bersambung dengan tangga yang berada di teras ketiga. Teras ketiga berbentuk hampir bujur sangkar.

Dindingnya berpahatkan naga bersayap dengan kepala yang sedikit mendongak ke depan dan singa bersayap dengan kaki belakang dalam posisi berjongkok sedangkan kaki depannya terangkat ke atas. Pahatan-pahatan pada dinding teras ketiga ini selain untuk mengisi bidang yang kosong juga berfungsi sebagai pilar bangunan.

Pada waktu dilakukan pembongkaran lantai teras ketiga, dalam rangka pemugaran, didapati bahwa bagian tengah lantai terbuat dari bata merah. Nampak jelas denah bangunan yang berbentuk persegi empat dengan bagian-bagian yang menjorok ke depan.

Berdasarkan temuan tersebut, timbul dugaan bahwa bangunan asli Candi Panataran dibuat dari bata merah. Dalam kurun waktu berikutnya Panataran mengalami perluasan dengan cara menutupi bangunan aslinya menggunakan batu andesit. Perluasan itu diperkirakan terjadi pada zaman Majapahit.

Teras ketiga merupakan emperan kosong. Di tempat itu seharusnya berdiri tubuh candi yang sampai saat ini belum berhasil dikembalikan ke wujud aslinya karena belum semua bagian bangunan berhasil ditemukan. Sebagian dari tubuh candi induk ini telah disusun dalam susunan percobaan di halaman candi.

Prasasti Palah

Di selatan candi utama masih berdiri tegak sebuah batu prasasti. Menilik besarnya ukuran batu prasasti, para ahli menduga sejak semula batu tersebut memang terletak di tempat itu.

Prasasti Palah di Kompleks Candi Penataran

Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno tersebut berangka tahun 1119 Saka (1197 M), dibuat atas perintah Raja Srengga dari Kerajaan Kediri.

Isi prasasti yang menyebutkan tentang peresmian sebuah tanah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah, mendasari dugaan bahwa yang dimaksud dengan Palah tidak lain adalah Kompleks Candi Penataran.

Andaikata benar bahwa Palah adalah Kompleks Candi Penataran, maka embangunan candi ini mengalami perjalanan panjang, yaitu dari tahun 1197, zaman kerajaan Kediri, sampai pada tahun 1454, zaman kerajaan Majapahit.

Hampir semua bangunan yang masih dapat disaksikan sekarang berasal dari masa pemerintahan raja-raja Majapahit. Barangkali bangunan-bangunan yang lebih tua (dari zaman Kediri) telah lama runtuh.

Masih ada dua buah bangunan lain yang letaknya di luar areal Kompleks Candi Penataran, tetapi masih ada hubungannya dengan Candi Penataran, yaitu sebuah kolam berangka tahun 1337 Saka (1415 M) yang terletak di sebelah tenggara dan sebuah petirtaan (tempat mandi) yang terletak kira-kira 200 meter di timur-laut areal candi.

Baca juga: Gugus Candi Prambanan, Mahakarya Peradaban Hindu di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.