Ki Hadi Sugito, Setia pada Pekeliran Gaya Yogyakarta

140
Ki Hadi Sugito
Foto: Kabarno.com

1001indonesia.net- Ki Hadi Sugito (1942-2008) adalah maestro dalang gagrak Yogyakarta. Namun, tak hanya berpegang teguh pada apa yang dinamainya sebagai pola pakeliran gaya Yogyakarta, Ki Hadi Sugito juga dikenal kreatif menciptakan lakon-lakon carangan berbasis Mahabharata.

Dalang kelahiran 10 April 1942 ini juga termasuk pionir dalam menggunakan bahasa sehari-hari pada pertunjukannya. Dengan penggunaan bahasa yang mudah dimengerti khalayak itu, ia menjadi dalang yang dicintai masyarakat, terutama generasi muda.

Ki Hadi Sugito juga mahir dalam membangun dialog-dialog yang segar dan lucu. Guyonannya orisinal, dan tidak hanya ia sampaikan pada bagian “gara-gara” saja, tetapi dari awal hingga akhir pertunjukan pada tempat-tempat yang pas. Ini membuat pagelaran wayang yang dia sajikan menjadi semakin menarik secara keseluruhan.

Dalang Ki Purbo Asmoro dalam kesaksiannya yang dimuat di buku Ki Hadi Sugito: Guru yang Tidang Menggurui (2011) menyebut betapa hidupnya permainan wayang Ki Hadi Sugito. “Adegan apa saja pasti hidup, lucu dan semu, nganyeloken, dan menimbulkan rasa untuk selalu mengikuti. Lakon apa pun, lakon sederhana pun pasti enak didengar, enak dipandang,” ungkapnya.

Ketika masih muda, Ki Hadi Sugito dianggap memiliki keberanian untuk mendobrak gaya pagelaran wayang yang terlalu kaku, terutama wayang dari gagrak Jogjakarta, menjadi pagelaran yang lebih akrab dengan penonton.

Ki Hadi Sugito membuat sanggit (tatanan penyajian) yang membuat pertunjukannya dapat dinikmati dengan mudah dan menarik karena mengangkat percakapan dan situasi masyarakat sehari-hari. Sesekali pada saat yang pas, dia bahkan memunculkan segi humor pada tokoh-tokoh serius, seperti Puntodewo dan Werkudoro.

Yang lebih menarik, dengan cara mentertawakan diri sendiri, Ki Hadi Sugito dapat membuat sajian lawak yang orisinil, kreatif, dan tidak tidak ada yang merasa tersakiti atau tersinggung oleh guyonannya.

Di sisi lain, dengan segala kreativitas dan kecairannya dalam mendalang, Ki Hadi Sugito juga termasuk dalang yang berpegang teguh pada pekem. Umar Kayam menyebut, dalam pertunjukannya, Ki Hadi Sugito setia pada apa yang disebut sebagai gaya pekeliran Yogyakarta.

Setidaknya sampai saat ia melakukan penelitian, yang kemudian dibukukan dengan judul Kelir Tanpa Batas (2001), Umar Kayam melihat bahwa Ki Hadi Sugito tidak mengikuti kecenderungan banyak dalang saat itu yang menggunakan gaya campuran Yogya-Solo dan musik campuran tradisi-modern.

Kalaupun dengan serba sedikit ia memasukkan ke dalam pertunjukan-pertunkukannya beberapa bentuk wayang Surakarta, Banyumas, dan lain-lain, semua itu ia lakukan dalam kerangka pakeliran gaya Yogyakarta.

Ki Hadi Sugito bahkan mengecam keras kecenderungan seni pertunjukan wayang kulit yang mengizinkan sinden berdiri atau berada di posisi lebih tinggi dari dalang. Suatu hal yang sangat umum dilakukan pada pertunjukan wayang kulit purwo saat ini.

Baca juga: Ki Timbul Hadiprayitno, Dalang yang Kukuh Mempertahankan Pakem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + 20 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.