Ketinting, Perahu Khas Lampung yang Unik

1215
Perahu Tradisional Ketinting
Dengan bentuknya yang ramping dan dilengkapi cadik (katir) penyeimbang, perahu ketinting mampu meluncur dengan cepat menerjang ombak dan angin di lautan. (Foto: indonesiakaya.com)

1001indonesia.net – Ukuran perahu ketinting tidaklah besar. Namun, dengan bentuknya yang unik dan ramping dilengkapi cadik (katir) penyeimbang, ketinting┬ámampu meluncur dengan lincah menerjang ombak dan angin di lautan. Perahu tradisional ini memiliki bentuk mirip mahkota siger khas Lampung dengan kedua ujung lancip melengkung indah.

Mahkota Siger khas Lampung

Ada juga yang menyebut perahu tradisional ini sebagai jukung Lampung atau jung. Perahu sejenis juga dapat ditemui di beberapa daerah lain di Nusantara, seperti di Banjar (Kalimantan Selatan), Sulawesi, Madura, Bali, dan pesisir Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung.

Ketinting merupakan perahu tradisional nelayan Lampung yang telah lama digunakan untuk melaut mencari ikan. Nelayan di Teluk Kiluan tidak saja pandai memburu ikan dengan perahu lincah ini, tapi juga mahir membuat perahu dengan bahan kayu lumas atau kayu tabo yang ada di sekitar mereka.

Menariknya, mirip seperti perahu sandeq, bahan yang digunakan untuk membuat perahu ketinting adalah gelondongan kayu utuh. Kayu tersebut dilubangi atau diserut untuk membuat lambung perahu.

Ketinting biasanya dibuat oleh keluarga nelayan pesisir Lampung dengan lama pembuatan hingga tiga bulan. Ukuran panjang perahu ini sekitar 11 meter dengan lebar 60 cm. Makin panjang perahu, harganya akan semakin mahal.

Dahulu, perahu ini digerakkan oleh angin dengan tiang layar dan dayung yang melengkapinya. Namun, sekarang lebih banyak di Lampung menempelkan mesin motor sebagai penggeraknya.

Batang kayu lumas atau kayu tabu setelah ditebang akan dikeringkan selama dua bulan agar awet sebelum memasuki proses pembentukan badan perahu. Setelah proses pengeringan selesai, barulah perahu dibentuk, dihaluskan, kemudian diberi papan sebagai pelapisnya.

tahap akhir adalah proses pengecatan dengan warna yang biasanya mencolok, seperti hijau, kuning merah, atau biru. Rata-rata panjang perahu ini 8-10 meter dengan kapasitas angkut 4 sampai 6 orang.

Setelah selesai pengecatan, perahu akan dilengkapi cadik penyeimbang dari bambu atau sering pula disebut katir. Cadik bambu ini akan menjadi penangkal ombak besar dan menyeimbangkan perahu agar tetap melaju kencang.

Ketinting yang digunakan di sekitar rawa biasanya tidak ditempeli cadik demi memudahkannya menerobos hutan bakau. Sedangkan untuk perahu yang digunakan untuk berlayar di laut tentunya lebih aman dengan cadik penyeimbang.

Nelayan pemilik ketinting akan rajin merawat ketinting agar awet dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Cara lain adalah cat ulang agar dapat bertahan lama. Dengan perawatan rutin, biasanya perahu ketinting mampu bertahan dengan penggunaan aktif selama 7 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × five =