Kepercayaan Lokal Komunitas Towani Tolotang di Sidenreng Rappang

914
Towani Tolotang
Anggota komunitas Towani Tolotang. (Foto: Zulfikarnain/Okezone)

1001indonesia.net – Di Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappang), terdapat sebuah komunitas yang menganut kepercayaan asli setempat. Komunitas tersebut bernama Towani Tolotang.

Komunitas ini berpusat di Kelurahan Amparita lama, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan. Dari ibukota kabupaten, Pangkajene, Amparita hanya berjarak sekira 8 kilometer.

Dilihat dari penampilan, tak ada ciri khusus yang membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar. Mereka juga tetap menegaskan identitas diri mereka selaku orang Bugis.

Namun, sementara mayoritas warga lain menganut Islam, mereka memiliki kepercayaan yang berbeda. Komunitas Towani Tolotang percaya kepada Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Kuasa). Seperti agama-agama lokal Nusantara lainnya, mereka juga memiliki ritus penghormatan terhadap leluhur.

Masalah timbul pada 1966, ketika pemerintah tidak mengakui agama yang dipeluk komunitas ini. Saat itu, pemerintah hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.

Pemerintah kemudian memberi tiga pilihan ke warga Tolotang; secara administratif, apakah mereka akan dikategorikan ke dalam Islam, Kristen, atau Hindu. Menurut pemerintah, tiga agama tersebut dekat dengan kepercayaan Tolotang.

Berdasarkan hasil kesepakatan, dipilihlah Hindu. Sejak itu, secara resmi komunitas ini menganut Hindu. Namun, pada praktiknya, mereka tetap melaksanakan adat istiadat dan memeluk keyakinan yang telah mereka warisi secara turun-temurun.

Pada masa sebelumnya, penganut agama lokal suku Bugis ini juga pernah mengalami nasib yang tragis. Mereka dikejar-kejar oleh para pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar. Para pemberontak memaksa banyak pendahulu Tolotang untuk keluar dari keyakinan mereka. Tidak sedikit di antara mereka yang mati dibunuh.

Baca juga: Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

Dan jauh sebelum itu, pemeluk Tolotang terusir dari tanah kelahirannya di daerah Wani, Wajo, karena Islam telah menjadi agama resmi kerajaan. Upaya mencari daerah baru yang mau menerimanya tersendat karena saat terusir itu justru terjadi perpecahan di antara mereka.

Segolongan orang dipimpin oleh I Goliga, yang akhirnya tiba di wilayah Bacukiki Parepare. Dan kelompok lain berada di bawah kuasa I Pabbere di Amparita, Sidrap.

Berkat Perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi, penguasa Sidenreng Rappang kala itu, penganut Tolotang bisa menetap di Amparita hingga sekarang.

Sebutan Towani kemudian disematkan karena mereka berasal dari daerah bernama Wani di Kabupaten Wajo. Towani bebarti orang-orang dari Wani. Sementara Tolotang berarti orang-orang dari selatan, karena wilayah Wani berada di sebelah selatan Amparita.

Penganut Tolotang memiliki beberapa kewajiban dan ritual (Molalaleng) yang harus mereka jalankan. Seperti penganut agama-agama lokal di Nusantara lainnya, mereka wajib menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Dilarang keras merusak alam atau membunuh binatang tanpa sebab.

Sementara ritual yang harus mereka jalankan antara lain Mappeanre Inanre, yakni persembahan sesaji ke Rumah Uwa dan Uwatta; ritual Tudang Sipulung, yakni duduk berkumpul bersama melakukan ritual pada waktu tertentu, guna meminta keselamatan pada Dewata; dan Sipulung, yaitu berkumpul sekali setahun untuk melaksanakan ritual di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Ritual-ritual tersebut biasanya dilakukan setelah panen sawah tadah hujan.

Pengaunut Tolotang juga percaya bahwa tubuh manusia (watangkale) terjadi dari empat unsur utama, yakni tanah, air, api, dan angin. Dalam ritual adat, keempat unsur tersebut disimbolkan dengan jenis makanan yang disebut Sokko Patanrupa (nasi ketan empat macam).

Nasi ketan putih menjadi simbol air air, nasi ketan merah menjadi simbol api, nasi ketan kuning menjadi simbol angin, dan nasi ketan hitam menjadi simbol tanah. Sokko Patanrupa selalu menjadi bagian utama dalam sesaji upacara Mappeanre atau Mappano Bulu.

Selain tubuh jasmani yang tampak (tubukasara), manusia juga memiliki tubuh yang tidak tampak (tubuhalusu), yaitu jiwa atau roh. Perpaduan tubuhkasara dan tubuhalusu itulah yang disebut tau (manusia) yang dapat berkomunikasi dengan sesama manusia, dengan makhluk lain, dan juga dengan Dewata SuwaE (Andi Nirwana, 2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.