Upacara Adat Keboan, Ritus Magis Masyarakat Using Aliyan

oleh Ach. Fadil

505
Upacara adat keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi
Upacara adat keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

1001indonesia.net – Dalam menyikapi hasil panen, masyarakat agraris Nusantara mempunyai ekspresi-ekspresi budaya yang beraneka. Salah satunya, masyarakat Using yang bertempat di Banyuwangi, tepatnya di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, memiliki kebiasaan menggelar upacara Keboan yang terkenal magis dan mistis.

Desa ini—di samping Desa Alas Malang—adalah desa yang masih kekeuh mempertahankan tradisi lama mereka hingga saat ini. Mempertahankan Keboan bagi masyarakat Using, berarti melanggengkan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang dipandang memiliki nilai sakral yang adihulung.

Sementara di desa-desa yang lain, tradisi Keboan sudah bermetamorfosa dan mengalami transformasi yang cukup radikal, dari yang awalnya Keboan mistis dan magis, menjadi slametan yang begitu islami yang didalamnya diwarnai dengan bacaan-bacaan kalimah toyyibah dan adzan.

Keboan, tampak masih mempertahankan tradisi lama, yaitu animisme dan hinduisme, di mana masyarakat Using telah mewarisinya dari leluhur mereka sejak sekian lama.

Disebut dengan Keboan karena di dalamnya ada ritus yang mendandani sebagian warga mirip dengan kebo (kerbau) yang dilengkapi tanduk buatan dan lonceng di lehernya sebagaimana ada pada hewan yang sering kali menjadi mitra petani itu.

Agar tampak mirip dengan kerbau, mereka juga dilumuri dengan oli dan arang, sehingga warna kulitnya menghitam layaknya kerbau.

Latar Historis Keboan

Narasi historis tradisi Keboan cukup mudah dilacak. Selain sumber tertulis yang cukup banyak, hikayat tradisi ini masih ditransmisikan melalui lisan dari mulut ke mulut secara turun-temurun bersamaan dengan pagelaran ritusnya.

Tradisi ini dilatarbelakangi oleh satu kondisi yang mengkhawatirkan akibat musibah yang mereka alami yang sudah berlangsung bertahun-tahun pada kisaran abad ke-18. Hama menyerang lahan pertanian sehingga tanaman mereka rusak dan terkadang sampai gagal panen. Bahkan di desa Alas Malang, malapetaka itu tidak hanya menyerang tanaman, tetapi juga menjadi wabah penyakit bagi masyarakatnya.

Menyikapi hal itu, sesepuh masyarakat Aliyan, Buyut Wongso Kenongo, melakukan meditasi. Dari proses meditasi itu, Sang Buyut mendapat wangsit agar anaknya, Joko Pekik, ikut serta bersamanya melakukan hal yang serupa. Namun tak disangka, Pekik malah kesurupan dan berguling-guling di lumpur layaknya kerbau.

Ajaibnya, setelah kejadian itu, penyakit yang menimpa tanaman mereka lenyap seketika. Maka dari kejadian historis itu, sesepuh desa bersama masyarakat Using mulai menggelar ritus Keboan.

Ritus yang pada awalnya dimaksudkan sebagai bentuk upaya menghilangkan hama tanaman dan sebagai perayaan atas hasil panen mereka yang melimpah, lambat laun dimaksudkan juga sebagai sesuatu tindakan yang sifatnya preventif (pencegahan), yaitu untuk tetap menjaga keselamatan dan menangkal marabahaya yang acap kali mengintai mereka.

Uniknya, orang-orang yang akan didandani mirip kerbau bukan orang-orang sembarangan. Biasanya yang bertubuh tambun. Namun, tambun saja tidak cukup. Sebab di desa Aliyan, para leluhurlah yang memilih mereka. Yang terpilih tidak punya pilihan lain. Begitu para leluhur merasuki tubuh, mereka menjadi kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau.

Kalau dilihat dari jumlah pemainnya, ritus Keboan sangat lentur, bisa banyak atau sedikit. Hal ini berbeda dengan tradisi serupa Kebo-keboan, tradisi serupa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Alas Malang yang jumlahnya sudah ditetapkan, yaitu sekitar 18 orang.

Tampaknya jumlah peserta yang tidak tetap dalam tradisi Keboan Desa Aliyan disebabkan karena jumlah orang yang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau tergantung dari “kehendak” para leluhur.

Arak-arakan

Tradisi ini dilakukan setahun sekali, tepatnya di bulan Suro (menurut kalender Jawa) pada hari Minggu antara tanggal 1 sampai 10. Tanggal-tanggal tersebut dinilai sebagai tanggal keramat yang memungkinkan ritus itu digelar. Karena di luar tanggal itu, ritus Keboan dinilai tidak akan memiliki dampak apa-apa.

Pelaksanaan Keboan dimulai dengan mendirikan gapura dari bambu yang dihias dengan hasil panen dan ditempatkan di berbagai gang yang ada di desa. Hiasan ini menjadi simbol kesuburan tanah yang mereka pakai untuk bertani dan bercocok tanam. Lalu di empat penjuru desa diadakan slametan (sedekah desa) yang dipimpin sesepuh mereka. Doa dihaturkan kepada Yang Kuasa dan kepada leluhur, Buyut Wongso. Baru setelah proses itu, arak-arakan kerbau jadi-jadian dimulai.

Saat diarak, para kerbau jadi-jadian ini seperti sedang membajak sawah. Ada yang mengiringi dan ada pula wanita yang bertugas sebagai penabur benih.

Uniknya, masyarakat Using mempercayai bahwa benih yang ditabur pada saat itu memiliki fungsi menyuburkan lahan pertanian di ladang sendiri. Jadi, siapa saja yang mendapatkan benih itu (sedikit atau banyak), akan berdampak positif pada lahan pertaniannya.

Singkatnya, jika di sawah mereka menaman padi, jagung, atau lainnya, maka tanaman-tanaman itu akan tumbuh subur, dan pada saat panen kelak, hasilnya akan melimpah.

Para kebo manusia ini bergerak kesana kemari. Namun, percaya atau tidak, para kerbau jadi-jadian ini biasanya selalu kesurupan dan berlaku seperti kerbau asli. Menyeruduk warga dan mencari kubangan lumpur. Mereka bermain lumpur. Orang-orang yang terkena percikan lumpur, atau malah dipaksa terjun ke lumpur, tidak boleh emosi dan amarah.

Kerbau jadi-jadian yang tadinya kesurupan, diarahkan ke Balai Desa Aliyan untuk berkubang di lumpur yang telah disediakan. Mereka mengendus-ngendus ke penonton yang ada, meminta wewangian semacam dupa, kemenyan atau minyak wangi. Para keluarganya sudah menyiapkan air untuk menyiram muka mereka.

Selanjutnya kalau masih tidak sadar juga, mereka dibawa pulang untuk segera disadarkan. Pada saat seperti itu, tingkah laku mereka dikendalikan oleh roh leluhur yang merasuki tubuh mereka.

Sumber:

  • Ahmad Kholil, “Kebo-Keboan dan Ider Bumi Suku Using: Potret Inklusivisme Islam di Masyarakat Using Banyuwangi,” www.researchgate.net
  • http://www.banyuwangibagus.com/2014/11/tradisi-kebo-keboan-suku-osing.html

1 Komentar

  1. Bagus sekali article ini. Jadi tradisi leluhur ini mengajarkan kepada penduduk supaya mengerti bahwa hidup mereka juga tergantung kepada binatang-binatang yang khusus datang/diciptakan untuk membantu dan memudahkan pekerjaan mereka..!

LEAVE A REPLY

one × one =