Kampung Laweyan Solo, Kampung Batik Tertua di Indonesia

907
Kampung Laweyan Solo
Proses pembuatan batik di Kampung Laweyan Solo. (Foto: www.batikjirolupat.com)

1001indonesia.net – Kampung Laweyan merupakan kampung batik tertua. Kampung batik ini terletak di Solo, Jawa Tengah, tak jauh dari pusat kota. Dari Keraton Kasunanan Surakarta di Gladak, Laweyan hanya berjarak sekitar 5 kilometer.

Kerajinan batik di kampung Laweyan telah berusia ratusan tahun. Selama itu, kerajinan batik mampu Laweyan bertahan bahkan pernah mengalami masa berjaya dengan menjadi pusat industri dan perdagangan batik di Pulau Jawa. Meski mengalami pasang surut, usaha kerajinan batik di kampung ini terbukti mampu menghidupi masyarakatnya dan menjadi mata pencaharian utama.

Selain sebagai pusat industri dan perdagangan batik, Kampung Batik Laweyan juga terkenal akan wisata batiknya. Terdapat sekitar 87 pengusaha batik yang mempunyai etalase atau ruang pamer yang menjual kain dan baju-baju batik juga beragam suvenir batik.

Para pengunjung juga dapat melihat-lihat proses pembuatan batik di rumah-rumah produksi, baik batik tulis maupun batik cap. Dengan demikian, para pengunjung dapat belajar bagaimana batik dibuat. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang berharga.

Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Sejak 2010, kampung yang banyak memiliki bangunan kuno ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur Jawa dan Eropa masih terawat dengan baik di kampung ini. Setiap perempatan kampung dibangun jalan berpaving dan terpasang plakat-plakat bertuliskan Kampoeng Batik Laweyan dengan corak batik.

Sebagian tempat tinggal para penduduk Laweyan merupakan bangunan kuno yang sudah berumur ratusan tahun. Arsitekturnya khas dan bersejarah. Atap bangunannya menggunakan atap limasan, bukan joglo. [Baca: Rumah Adat Jawa (Rumah Kampung, Limasan, dan Joglo)]

Corak bangunan di Laweyan juga banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa dan Islam, sehingga banyak bermunculan bangunan bergaya arsitektur Indis (Jawa-Eropa) dan model ”gedong”.

Sejarah Batik di Kampung Laweyan

Sejarah batik Laweyan memang tak bisa dipisahkan dari Desa Lawean dan Kiai Ageng Henis yang hidup pada masa Kerajaan Pajang. Sampai sekitar abad ke-16, Pasar Lawean dikenal sebagai pusat perdagangan sandang yang ramai, terutama untuk bahan baku kapas dan kain. Nama ”lawean” diambil dari kata lawe yang artinya kain tenun.

Pasar Lawean berada di tepi Sungai Kabanaran. Pedagang asal Lawean membawa barang dagangannya ke Bandar Nusupan yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo.

Kiai Ageng Henis kemudian menawarkan alternatif usaha baru bagi masyarakat Laweyan tahun 1546. Sebagai keturunan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, ia terbiasa dengan pembuatan batik di lingkungan istana. Kakek buyut Sutawijaya, raja pertama Mataram Islam, itu lantas mengajari masyarakat cara membatik menggunakan canting.

Perlahan, Desa Laweyan berubah rupa. Keuntungan berdagang lebih baik membuat banyak pembuat mori banting setir menjadi pengusaha batik. Peninggalan fisik berupa rumah dengan tembok tinggi dan besar serta berarsitektur bergaya kolonial, menjadi saksi kejayaan Laweyan.

Perjalanan Kampung Laweyan sebagai pusat produksi dan perdagangan batik tidak terlepas dari pasang surut. Abad ke-17 sampai abad ke-19 merupakan masa-masa jayanya Kampung Laweyan sebagai pusat perdagangan batik. Sampai 1960-an, mayoritas penduduk di Laweyan bekerja di bidang batik. Industri batik di kampung ini merupakan industri kerajinan rumah tangga yang dilakukan oleh kaum wanita. Wanita yang menjadi juragan batik di kampung ini dipanggil mbok mase.

Namun pada 1970-an, usaha batik Laweyan mengalami kemunduran. Batik Laweyan bahkan pernah mengalami “mati suri” akibat berkembangnya batik dengan teknologi printing. Dibanding batik tulis maupun batik cap, batik printing memiliki beberapa keunggulan: harganya lebih murah serta bisa diproduksi secara massal dalam waktu yang sangat singkat. Sejak itulah, eksistensi pengusaha batik tulis dan cap mulai surut. Hampir tidak ada lagi generasi muda Laweyan yang melanjutkan usaha batik milik keluarganya.

Setelah mengalami “mati suri”, pada 2000-an batik Laweyan bangkit kembali. Hal ini didorong oleh kesadaran akan tingginya nilai-nilai budaya tradisional Indonesia, termasuk di dalamnya seni batik. Muncul gagasan dari para pengusaha batik, masyarakat, dan generasi
muda Laweyan untuk menjadikan Laweyan seperti pada masa kejayaan dulu.

Pada 25 September 2004, Pemerintah Surakarta mencanangkan Laweyan sebagai Kampung Batik yang mampu bangkit kembali dari kevakuman dengan mayoritas penduduk di kampung tersebut sebagai pengrajin dan pengusaha batik.

Kini Laweyan semakin berkembang. Tak hanya sebagai pusat industri dan perdagangan batik, Laweyan juga menawarkan wisata batik. Para wisatawan tak hanya datang untuk berbelanja batik. Mereka sekaligus juga dapat belajar membatik, serta menikmati bangunan-bangunan bersejarah peninggalan masa lalu.

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan

Bukti kejayaan itu juga terpatri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kiai Haji Samanhudi, yang dulu dikenal sebagai saudagar paling dihormati di Laweyan, jadi motornya. Ia mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Laweyan pada 1905 (disahkan oleh pemerintah Belanda pada 1912). Pada awalnya, SDI merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Organisasi ini kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam dan berkembang menjadi organisasi massa yang besar.

Selain sebagai pendiri SDI, Kiai Haji Samanhudi juga dikenal sebagai penyandang dana bagi usaha kemerdekaan. Pemerintah Belanda yang mengetahui hal ini segera mengambil tindakan. Dengan tujuan untuk memutus mata rantai ekonomi saudagar batik, pesawat tempur Belanda pernah membombardir kawasan Laweyan. Meski sejumlah rumah hancur, semangat perjuangan tidak surut.

Tak diketahui pasti berapa banyak uang dan harta benda yang disumbangkan Haji Samanhudi dan teman-temannya dalam membantu perjuangan Indonesia agar diakui sebagai negara merdeka. Namun, dari cerita yang beredar di kalangan pembatik, hingga kematiannya, ia tidak meninggalkan banyak harta.

Sumber:

  • Cornelius Helmy, “Ketangguhan Batik Laweyan sejak Dulu Kala,” http://travel.kompas.com/read/2013/10/01/1824408/Ketangguhan.Batik. Laweyan.sejak.Dulu.Kala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − four =