Kampung Ciptagelar, Hidup Harmoni bersama Alam Sekitar

611
Kampung Ciptagelar
Warga Kampung Ciptagelar menyimpan padi mereka di leuit (lumbung). Dengan cara ini, padi hasil panen mereka bertahan hingga bertahun-tahun. (Foto: Kristianto Purnomo/KOMPAS)

1001indonesia.net – Suasana tradisional masih sangat terasa di Kampung Ciptagelar di kaki bukit Gunung Halimun. Berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut membuat kampung ini selalu diliputi hawa sejuk. Semilir angin pegunungan dan suasana khas kampung yang sepi menenangkan batin siapa saja yang mengunjungi kampung yang masih memegang teguh tradisi leluhur ini.

Kampung Ciptagelar berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kampung ini menjadi pusat masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar yang merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Warga adat Kasepuhan Ciptagelar tersebar di sekitar Gunung Halimun di wilayah Sukabumi, Bogor, dan Lebak, Banten.

Konon, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar sudah ada sejak lebih dari 640 tahun lalu. Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh (tua) menunjuk pada adat istiadat lama peninggalan leluhur yang masih yang dipegang teguh masyarakat kampung. Penghormatan dan kedekatan dengan alam menjadi nilai yang menjiwai kehidupan keseharian masyarakat kampung adat ini.

Kekhasan kehidupan tradisional Kampung Ciptagelar ini mengundang banyak orang untuk datang dan menyaksikannya sendiri. Hampir setiap hari, ada saja orang yang berkunjung. Warga kampung yang terbuka akan menerima siapa saja yang datang dengan keramahan yang tulus.

Budaya Padi

Salah satu adat tradisi yang masih dipegang kukuh warga adat adalah tata cara menanam padi. Sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, padi hanya boleh ditanam setahun sekali. Mereka percaya alam memerlukan keseimbangan. Dengan diistirahatkan maka lahan sawah atau ladang memiliki waktu untuk memulihkan kesuburan.

Pupuk yang digunakan untuk bertani pun tidak boleh menggunakan bahan kimia. Warga juga tidak boleh menggunakan insektisida. Benih padi yang digunakan merupakan benih padi lokal, asli warisan leluhur. Konon, ada sekitar 180 jenis padi lokal Ciptagelar yang berhasil diidentifikasi peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Walau hanya menanam setahun sekali, ketahanan pangan tetap terjaga karena adanya leuit (lumbung) untuk menyimpan padi. Dengan disimpan di leuit, padi mampu bertahan hingga bertahun-tahun. Keberadaan leuit yang terbuat dari bambu dengan atap ijuk menjadi ciri khas Kampung Ciptagelar.

Di kampung ini, juga ada pantangan untuk menjual padi atau beras. Membuang nasi juga sangat dilarang. Ini merupakan bentuk kearifan lokal untuk kemandirian dan ketahanan pangan.

Padi memang memiliki posisi yang begitu penting bagi warga adat. Sebab itu, mulai dari menanam padi, panen, menyimpan hasil panen, hingga memasak beras, ada ritual adatnya. Dalam setahun, ada 12 ritual yang digelar terkait dengan padi. Puncak ritual adalah upacara Seren Taun sebagai wujud syukur atas panen padi.

[Baca juga: Upacara Adat Seren Taun Cigugur Kuningan]

Meskipun memegang teguh adat tradisi leluhur, warga Ciptagelar tak menutup diri terhadap kemajuan zaman. Mereka juga menggunakan perkakas rumah tangga modern. Untuk mendapatkan pasokan listrik, warga menggunakan pembangkit listrik tenaga mikro hidro dengan memanfaatkan melimpahnya air sungai yang berhulu di Gunung Halimun.

Warga Ciptagelar menyadari kehidupan mereka sangat bergantung kepada alam. Alam memberi segala hal yang mereka perlukan untuk hidup. Untuk itu, menghormati alam menjadi laku keseharian warga kampung adat di bukit Gunung Halimun ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine − three =