Kalosara, Simbol Keagungan Hukum Adat Suku Tolaki

292
Kalosara
Bagi masyarakat Suku Tolaki di wilayah Konawe, Sulawesi Tenggara, Kalosara menjadi simbol keagungan hukum adat dan perekat persatuan. (Foto: Siswanto Azis/Telisik.id)

1001indonesia.net – Bagi suku Tolaki di wilayah Konawe di Sulawesi Tenggara, Kalosara merupakan simbol keagungan hukum adat. Simbol tersebut diwujudkan dengan batang rotan yang dipilin melingkar. Rotan itu diagungkan sebagai pemersatu sekaligus penyelesai berbagai konflik.

Dilansir Kompas.id, Kalosara berasal dari dua kata, kalo dan sara. Kalo mengekspresikan kesatuan dan persatuan semua warga Tolaki yang berasal dari satu nenek moyang, adat dalam kehidupan kerabat, dan pola dari suatu wilayah  tempat permukiman. Sedangkan sara adalah adat istiadat. Dengan demikian, Kalosara bisa diartikan sebagai lingkaran hukum adat.

Pandangan hidup masyarakat Suku Tolaki itu diwujudkan ke dalam bentuk batang rotan (uewatu) yang dipilin melingkar. Lingkaran rotan itu dialaskan kain putih yang disimpan di atas wadah anyaman dari daun pandan hutan atau palem berbentuk persegi empat yang disebut simoleuwa.

Selain terbuat dari rotan, kalo juga bisa dibuat dari bahan lainnya, seperti emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu, dan sebagainya.

Kalosara mengekspresikan bentuk dan susunan alam semesta dan isinya. Lingkaran rotan merupakan simbol dunia atas atau Tuhan Yang Mahakuasa. Kain putih menjadi simbol dunia tengah yang dihuni manusia. Adapun wadah anyaman atau siwoleuwa adalah simbol dunia bawah.

Sementara tiga rotan yang dipilin menjadi satu menjadi simbol pertemuan tiga unsur, menggambarkan bahwa apa pun kesulitan yang ditemui masyarakat Tolaki selalu dapat diselesaikan melalui musyawarah yang mempertemukan kedua pihak yang bermasalah.

Sejarah

Bagi masyarakat Tolaki, Kalosara diyakini merupakan peninggalan Raja Wekoila, raja pertama Konawe  yang bertakhta dari tahun 948 hingga 968 M. Raja Wekoila diyakini merupakan keturunan Dewa dari langit yang berhasil mempersatukan rakyat Konawe.

Dikisahkan, pada pertengahan abad ke-10 terjadi kekacauan di wilayah Konawe karena tidak ada sosok pemimpin yang berdaya untuk menertibkan dan mengatur kehidupan masyarakat.

Kekacauan tersebut masih diperparah dengan perang saudara di tiga kerajaan yang berada di Konawe, yaitu Kerajaan Padangguni, Kerajaan Besulutu, dan Kerajaan Wawolesea.

Akhirnya setelah melalui konflik yang berkepanjangan, Kerajaan Padangguni menjadi pemenang. Setelah itu, hadir seorang tokoh perempuan bernama Wekoila di hadapan raja dari Kerajaan Padangguni, yaitu Raja Rundulangi, membawa sebuah benda sakti bernama kalo.

Wekoila kemudian menikah dengan anak Raja Padangguni yang bernama Ramandalangi. Setelah pernikahan itu, Wekoila memindahkan pusat Kerajaan Padangguni ke daerah Unaaha.

Nama kerajaan lalu berganti menjadi Konawe dengan Wekoila menjadi raja pertama. Atas penobatan itu, Wekoila menjadikan kalo sebagai alat kebesaran Kerajaan Konawe.

Melalui petunjuk Wekoila, terdapat tiga ukuran kalo sesuai penggunaannya. Pertama, kalo dengan lingkaran berukuran tubuh orang dewasa ditujukan untuk urusan golongan ningrat atau bangsawan.

Kedua, kalo dengan lingkaran berukuran bahu orang dewasa dikhususkan untuk urusan golongan toono motuo atau pemangku adat.

Ketiga, kalo yang berukuran kepala atau lutut manusia dewasa diperuntukkan bagi urusan golongan toono dadio atau masyarakat umum.

Sejak saat itu, kehidupan yang tenteram terwujud di tanah Konawe. Alhasil, kalo memiliki peran untuk mengatur hubungan kekeluargaan dan menjaga persatuan masyarakat Tolaki yang ada di wilayah Konawe.

Kalo juga dihormati sebagai simbol Kerajaan Konawe secara turun-temurun dan dijadikan sebagai simbol penerapan hukum adat.

Penggunaan

Kalosara berperan penting dalam kehidupan masyarakat Tolaki, utamanya untuk menangani konflik dan mempererat persatuan. Dalam melaksanakan upacara tradisi kalosara, kalo yang berupa lingkaran rotan berpilin tiga dialaskan wadah anyaman segi empat yang ditempatkan di tengah-tengah majelis pertemuan.

Kemudian, kedua belah pihak yang berkonflik duduk berhadapan di kedua sisi kalo. Sebagai saksi, perwakilan pemerintah dan tokoh adat juga duduk dan menyaksikan musyawarah perdamaian di dua sisi lainnya dari wadah anyaman itu.

Filosofi kalosara juga hadir pada arsitektur rumah adat masyarakat Kolaki. Bagian inti dari Rumah Laika yang disebut siwolembatohu menggunakan kaidah Kalosara sebagai pembentuknya.

Bagian loteng digunakan sebagai tempat pingitan gadis remaja dan tempat menyimpan barang-barang berharga. Ini sesuai dengan susunan Kalosara dengan rotan yang ditempatkan paling atas.

Kain putih berbentuk segi empat sesuai dengan bagian tengah rumah yang menjadi tempat berkumpulnya anggota keluarga. Sedangkan wadah berbentuk segi empat melambangkan kolong rumah yang menjadi tempat beternak kerbau. Ini menandakan bahwa pantang melakukan kegiatan yang tidak benar atau buruk.

Selain itu, Kalosara juga digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalo Sara digunakan untuk memberi tahu masyarakat tentang peristiwa penting, seperti wafatnya seseorang, pernikahan, penyampaian berita kepada pemerintah, dan sebagai undangan kepada tamu terhormat.

Anggota masyarakat yang selalu menggunakan Kalosara untuk berkomunikasi dianggap memiliki etika yang baik. Sebaliknya, anggota masyarakat yang tidak menggunakan Kalosara untuk berkomunikasi dianggap sombong.

Baca juga: Sirih Pinang, Sejarah dan Maknanya dalam Budaya Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.