Kain Tapis Kapal, Jejak Budaya Maritim pada Kain Lampung

1337
Kain Kapal Lampung Selatan
Kain Kapal Lampung Selatan (Foto: qubicle.id)

1001indonesia.net – Kain tapis kapal digunakan sebagai pakaian tradisional perempuan Lampung, khususnya masyarakat Lampung Selatan. Kain tenun tradisional ini berbentuk kain sarung. Dinamakan kain kapal karena motif utamanya adalah kapal. Kain ini menjadi gambaran betapa kuatnya budaya bahari pada masyarakat Lampung Selatan.

Kain tapis kapal merupakan warisan budaya yang memiliki filosofi sebagai simbol keselarasan antara kehidupan manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Motif kapal melambangkan semesta sebagai potret kehidupan maritim. Beberapa aristokrat (kaum bangsawan) bersama gajah berdiri di atas dek kapal. Pada bagian tengah terdapat sebuah rumah yang menjadi titik sentral.

Untuk membuat kain tapis kapal Lampung, diperlukan kapas dan emas yang ditenun dengan metode ikat, juga benang sutera, lilin sarang lebah (untuk meregangkan benang), akar serai wangi (untuk pengawet benang), dan daun sirih (untuk menguatkan warna).

Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan lokal. Warna merah, misalnya, didapat dari buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu pejal. Warna kuning didapat dari kunyit dan kapur sirih. Warna hijau di hasilkan dari kunyit, mengkudu, daun talom, dan daun pulasan dengan bahan campuran air jeruk dan air sirih. Warna hitam dari kulit kayu salam atau kulit kayu rambutan. Warna cokelat didapat dari kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian. Warna biru dari buah deduku atau daun talom.

Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri atas tiga bagian. Pertama, motif border atau batas. Motif border bisa terdiri atas satu, dua, atau tiga lapis dengan motif yang berbeda tiap lapisan.

Kedua, motif utama. Motif utama ini biasanya terdiri atas kapal (jung), rumah, manusia, dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal.

Ketiga, motif filler atau pengisi. Motif jenis ini mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antarmotif utama. Motif jenis ini biasanya berbentuk segitiga, kotak, helaian pakis atau motif-motif lain.

Menurut panjangnya, kain kapal dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari 1 meter. Biasanya digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.
  2. Tatibin, biasanya panjangnya 1 meteran. Digunakan sebagai hiasan dinding. Kadang-kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.
  3. Pelepai, merupakan kain kapal yang paling panjang. Ukuran panjangnya bisa mencapai 3 meter. Kain ini digunakan sebagai hiasan dinding. Biasanya, kain jenis ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

Kain kapal digunakan sebagai perlambang perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, biasanya kain kapal terdiri atas tiga bagian, Alam Bawah, Alam Manusia, dan Alam Atas. Kapal juga menjadi perlambang kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke akhir titik.

Dalam lintasan waktu, terjadi perubahan besar cara pandang orang Lampung terhadap kain kapal. Setidaknya ada dua masa perubahan kain kapal. Yang pertama adalah masa sebelum masuknya agama Islam.

Saat itu, motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalanan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Oleh sebab itu, pada masa ini motif-motif kain cenderung berwarna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas, dan dunia bawah.

Setelah agama Islam masuk ke Lampung, motif kapal tidak lagi berarti perjalanan kematian, tetapi adalah perjalanan kehidupan seseorang. Sebab itu, titik-titik penting dalam kehidupan manusia, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian, menjadi hal yang pokok. Pengaruh pandangan Islam yang kuat pada pemikiran masyarakat Lampung yang menyebabkannya.

Hal ini membawa pengaruh juga pada pilihan warna kain kapal Lampung. Warna yang tadinya cenderung gelap berubah ke warna-warna cerah.

Terancam Punah

Saat ini keberadaan kain tapis kapal semakin menghilang dari kehidupan sosial masyarakat Lampung. Penyebabnya adalah letusan Gunung Krakatau dan masuknya kolonialisme yang memaksa masyarakat untuk membuat tekstil bagi tentara perang. Padahal, kain Tapis Kapal bernilai budaya sangat tinggi. Bahkan, di beberapa museum di luar negeri, kain tapis kapal Lampung menjadi koleksi paling prestisius.

Sumber:

  • http://www.tribunnews.com/regional/2012/06/22/kain-tapis-kapal-lampung-terancam-punah
  • https://kainkapal.wordpress.com/
  • http://sen1budaya.blogspot.co.id/2013/01/mengenal-kain-tapis-asli-lampung.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + 10 =