Gerabah Klipoh, Warisan Leluhur Masyarakat Borobudur

638
Gerabah Klipoh
Ilustrasi

1001indonesia.net – Warga di Klipoh atau Nglipoh di sekitar Candi Borobudur telah membuat gerabah selama berabad-abad. Jejaknya dapat kita lihat melalui sosok para perempuan pembawa gerabah di sejumlah panel relief candi. Sampai saat ini, gerabah Klipoh masih bertahan, meski hanya generasi tua yang masih bersemangat untuk meneruskannya. Dalam semangat kemandirian, mereka menekuni usaha gerabah.

Klipoh merupakan nama dusun yang terletak di Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 3 kilometer sebelah barat Candi Borobudur. Tempat ini sudah lama dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah. Gerabah buatan Klipoh terkenal akan kualitasnya.

Bahkan saat ini, Dusun Klipoh telah menjadi desa wisata kerajinan gerabah tradisional yang semakin ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Wisatawan yang berkunjung dapat melihat proses pembuatan atau mencoba sendiri membuat gerabah.

Hampir setiap hari rombongan siswa dari TK hingga SMA juga datang ke Klipoh. Klipoh pun menjadi tujuan wisata edukasi, tempat mereka mengamati dan belajar proses pembuatan gerabah.

Kemampuan membuat gerabah masyarakat Klipoh diwariskan turun-temurun. Di Klipoh, yang bertugas membuat gerabah adalah perempuan. Sementara kaum laki-laki bertugas mencari tanah liat untuk bahan baku dan merang untuk pembakaran gerabah.

Para perajin Klipoh dapat membuat berbagai aneka wadah, seperti kuali, bokor, cobek, dan kendil. Saat ini, sebagian besar pesanan adalah kendil berukuran kecil yang digunakan sebagai wadah ari-ari (plasenta bayi).

Keuntungan membuat gerabah tidaklah besar. Meski demikian, penduduk Klipoh, terutama generasi tuanya, tetap bersemangat mempertahankan warisan leluhurnya. Mereka bersyukur, selain sebagai upaya untuk merawat warisan leluhur, pekerjaan ini setidaknya bisa membuat mereka tetap hidup tanpa harus bergantung pada anak. Bagi para perajin, usaha gerabah menjadi jalan kemandirian hidup.

Namun, seiring perkembangan zaman, jumlah perajin gerabah Klipoh kian menyusut. Dari 257 keluarga, tinggal 60-70 persen yang masih membuat gerabah. Itu pun dilakukan oleh orang tua. Padahal dulu setiap keluarga di dusun tersebut adalah perajin gerabah (Kompas, 9/3/2017).

Simbol Kemandirian Perempuan

Pembuatan gerabah diyakini sudah ada sejak Candi Borobudur dibangun sekitra tahun 750 Masehi. Ini tampak pada adanya relief gerabah di candi tersebut. Pahatan gerabah antara lain terdapat di bagian relief Karmawibhangga, Lalitavistara, dan Jataka-Avadhana.

Dari cerita yang berkembang di masyarakat, gerabah diperkenalkan oleh dua saudara bernama Nyai Kundi dan Nyai Kalipah. Patung dua wanita itu dibangun di jalanan sebelum masuk desa. Gerabah telah lama menjadi simbol kemandirian perempuan Klipoh.

Keadaan berbalik ketika dominasi produk rumah tangga plastik dan produk pabrikan lainnya mulai terjadi pada 1980-an. Kerajinan gerabah Klipoh mendapat tantangan serius.

Belum lagi bahan baku tanah liat yang semakin sulit didapat. Dulu, tanah liat yang menjadi bahan baku gerabah mudah didapat di Klipoh. Tapi seiring maraknya pembangunan, banyak tanah terbuka menjadi tertutup bangunan. Akibatnya, saat ini perajin terpaksa membeli tanah liat dari luar Magelang.

Namun, hal ini tidak serta-merta mematikan industri gerabah Klipoh . Ini dikarenakan kemandirian yang telah terbangun sejak lama. Banyak warga tak mau bergantung kepada orang lain.

Hingga kini, meski kondisi usaha gerabah semakin sulit, banyak warga Klipoh yang tetap mempertahankan kemandiriannya melalui usaha gerabah daripada bekerja pada orang lain, seperti menjadi buruh tani, buruh bangunan, ataupun karyawan toko.

Melalui usaha gerabah, warga Klipoh hidup mandiri. Melalui semangat  kemandirian, mereka mempertahankan warisan leluhur yang telah bertahan selama belasan abad.

Tentu saja untuk membuat warisan kuno ini bertahan, tidak cukup hanya dengan mempertahankan dan menjaganya, tetapi juga perlu dikembangkan agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Generasi muda juga perlu dirangsang untuk mencintai warisan ini karena merekalah yang akan meneruskan gerabah Klipoh. Tanpa keikutsertaan generasi muda dalam usaha ini, lambat laun warisan yang sudah berumur belasan abad ini akan hilang.

Sumber:

  • Kompas, Kamis, 9 Maret 2017.
  • http://www.semarangpos.com/2015/02/27/kerajinan-gerabah-magelang-pusat-gerabah-klipoh-jadi-tujuan-wisata-edukasi-580941

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 18 =