Fort Van der Capellen, Benteng Peninggalan Belanda di Batusangkar

56
Fort Van der Capellen
Fort Van der Capellen (Foto: tribunnewswiki.com)

1001indonesia.net – Di Batusangkar ada sebuah benteng yang dibangun penjajah Belanda untuk menghadapi Kaum Padri. Bangunan pertahanan tersebut bernama Fort Van der Capellen atau Benteng Van der Capellen.

Fort Van der Capellen merupakan salah satu dari dua bentang yang dibangun Belanda di Sumatera Barat. Benteng yang lain bernama Fort de Kock, berada di Bukittinggi.

Sejarah

Dibangunnya Benteng Van der Capellen terkait dengan peristiwa peperangan antara Kaum Padri melawan Kaum Adat yang dimulai tahun 1803. Saat itu terjadi pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Padri yang ingin melakukan pemurnian agama Islam.

Saat konflik terbuka terjadi, Kaum Adat meminta bantuan Belanda yang berkedudukan di Padang. Hal inilah yang membuat peperangan yang pada awalnya terjadi akibat pertentangan dalam masalah agama kemudian berubah menjadi peperangan melawan penjajah Belanda.

Pasukan Belanda kemudian membangun benteng di wilayah Batusangkar pada 1824. Benteng tersebut dibangun di wilayah yang strategis, berada di tempat yang paling tinggi dan hanya 500 meter dari pusat kota.

Benteng tersebut dibangun selama kurang lebih selama 4 tahun. Dibangun juga parit dan tanggul pertahanan yang melingkar mengelilingi bangunan. Dengan keberadaan benteng pertahanan yang sangat strategis membuat Belanda sangat mudah menguasai wilayah sekitar Batusangkar.

Nama benteng diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat saat itu, yakni Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen.

Fort Van der Capellen menjadi benteng pertahanan Belanda sampai meletusnya Perang Dunia II. Jepang kemudian meninggalkannya ketika Jepang berhasil menduduki Sumatra.

Pada 1947, benteng ini dijadikan markas Tentara Keamanan rakyat (TKR). Pada waktu Agresi Belanda II (1948), Benteng Van der Capellen kembali jatuh ke tangan Belanda selama dua tahun.

Saat ini, Benteng Van der Capellen berfungsi menjadi kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Datar. Di tempat ini tersedia informasi tentang Kapariwisataan Batusangkar dan Tanah Datar. Di depan benteng terdapat dua meriam yang usianya lebih dari 220 tahun.

Meski sepi dari pengunjung, hingga saat ini keberadaan benteng terlihat masih terjaga dengan baik. Namun memang sudah tidak terlihat seperti masa ia dibangun dahulu. Parit-parit yang mengelilingi benteng ini telah ditimbun dengan tanah.

Baca juga: Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda di Bukittinggi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 + 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.