Festival Mosintuwu, Mengingat dan Merayakan Kekayaan Poso

174
Festival Mosintuwu
Foto: mosintuwu.com

1001indonesia.net – Setelah sukses digelar tahun lalu, Festival Mosintuwu akan kembali hadir tanggal 1 sampai 3 November 2018. Dengan tema “Mengingat, Merayakan Pengetahuan dan Alam Poso”, Festival Mosintuwu 2018 digelar untuk menggali potensi kekayaan desa, baik alam, budaya, maupun sejarahnya.

Kali pertama digelar pada 2017, festival ini bernama Festival Hasil Bumi. Namanya kemudian diubah menjadi Festival Mosintuwu untuk menguatkan akar kebudayaan dan visi festival sebagai gerakan kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan mosintuwu. Dalam bahasa setempat, mosintuwu berarti “membantu tanpa pamrih di kala suka maupun duka.” Mosintuwu juga berarti “menjaga keseimbangan dengan alam sekitar.”

Lewat festival ini, diharapkan semua orang dari berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, para tokoh agama, tokoh pemuda, petani, nelayan, dan siapa saja dapat terlibat secara aktif mewujudkan nilai mosintuwu sebagai gerakan kebudayaan Tana Poso.

Festival yang akan dilaksanakan kali ini, secara khusus, bertujuan untuk menjaga ingatan  kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Poso dalam mengelola alam. Menampilkannya dalam sebuah aksi pagelaran merupakan cara untuk merawat dan merayakan kekayaan pengetahuan tersebut. Upaya ini juga menjadi upaya untuk menegaskan cara khas orang Poso dalam mengelola kehidupan yang bersahabat.

Festival Mosintuwu diadakan oleh Institut Mosintuwu bekerja sama dengan masyarakat desa-desa dan kelurahan-kelurahan yang ada di Kabupaten Poso. Pada fesitival ini akan diselenggarakan Karnaval Hasil Bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan berkah alam dengan hasil pangannya.

Beragam hasil bumi akan diarak di Jalan Tentena, Poso. Pada akhir acara, setiap perwakilan desa akan melakukan atraksi dalam bentuk lagu, puisi, serta gerakan khusus yang didesain oleh desa. Hasil bumi yang dibawa dalam karnaval akan dibagikan gratis pada masyarakat yang mengikuti karnaval.

Festival Mosintuwu
Foto: mosintuwu.com

Selain karnaval, ada juga pembagian bibit sebagai sebuah aksi untuk memelihara ingatan dan pengetahuan tentang kebudayaan tanam. Ingatan ini dibagi agar pengetahuan tersebut menjadi milik bersama. Bibit tanaman juga menjadi simbol peradaban yang selaras dengan alam untuk terus dijaga.

Untuk pelaksanaannya, setiap desa membawa minimal 3 bibit asli, organik dari hutan atau lingkungan desa mereka untuk dibagikan kepada desa-desa lain. Bibit yang dibawa dari desa-desa akan diletakkan di lumbung bibit Festival Mosintuwu. Pertukaran bibit antar desa akan dilakukan setelah selesai parade Festival Mosintuwu.

Festival Mosintuwu juga menyediakan Pasar Desa, tempat masing-masing desa memasarkan hasil bumi dan olahannya. Di sini, para penjual menggunakan bungkus dari bahan alami, seperti daun-daunan dan bambu. Selain sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan, aksi ini dimaksudkan untuk merawat keterampilan yang dimiliki para leluhur dalam membuat bungkus dari bahan alami, seperti pingku dan tambego. 

Di samping itu, Festival Mosintuwu juga merupakan upaya untuk merayakan kekayaan kuliner Poso. Ada beragam acara digelar, seperti workshop kuliner, Pojok “Resep to Poso”, Moapu (pagelaran masak), Molimbu (makan bersama).

Selain acara-acara di atas, masih banyak acara lain yang digelar. Festival ini juga mengadakan beragam kompetisi, seperti kompetisi foto, lomba menulis cerita tradisi, kompetisi musik, lomba teater anak, dan kompetisi video dokumenter.

Institut Mosintuwu

Intitut Mosintuwu merupakan organisasi masyarakat akar rumput yang bekerja untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan di Kabupaten Poso. Organisasi ini berdiri sejak 2009, bersama perempuan dan anak bergerak untuk program Pendidikan, Pengorganisasian, Media, dan Ekonomi Solidaritas.

Lian Gogali, Pendiri Institut Mosintuwu
Lian Gogali, Pendiri Institut Mosintuwu

Di program Pendidikan, terdapat kegiatan Sekolah Perempuan di 80 desa; Sekolah Keberagaman untuk tokoh agama lintas iman; Sekolah Generasi Damai bersama 200 anak muda lintas agama di Poso. Selain itu, juga ada Perpustakaan Keliling Sophia di 30 desa, juga Kampung Literasi di 10 desa.

Pada program Pengorganisasian, terdapat kegiatan Tim Pembaharu Desa, Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Lingkar Diskusi dan Aksi.

Di program Media, terdapat Radio Mosintuwu, sebuah Radio Komunitas di gelombang 107,7 FM; Koran Mosintuwu; dan Multi media.

Di program Ekonomi Solidaritas terdapat kegiatan Usaha Desa, Bank Perempuan (Bank Sampah & Bank Pasar), dan Ekowisata. Sejak 2014, bersama perempuan, Institut Mosintuwu fokus pada aktivitas Desa Membangun. Di antaranya dengan membentuk Forum Desa, yaitu ruang belajar bersama kelompok perempuan dan aparatur pemerintahan desa.

Saat ini, terdapat kurang lebih 500 lulusan sekolah perempuan dan aktivis perempuan di desa yang bergabung dalam Tim Pembaharu Desa. Sejak 2016, organisasi yang didirikan dan dipimpin oleh Lian Gogali ini menjadi gerakan kebudayaan untuk kedaulatan Tana Poso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 3 =