Dohong, Senjata Tertua Suku Dayak Ngaju

66
Dohong
Dohong, senjata tradisional tertua yang dimiliki suku Dayak, dipamerkan dalam kegiatan Borneo XTRA-DIKSI di Pontianak. (Foto: Lydia Salsabilla/Kumparan.com)

1001indonesia.net – Selain mandau, masyarakat suku Dayak sebenarnya memiliki beragam senjata tradisional lain. Di antara senjata-senjata tersebut, ada yang bentuknya mirip keris. Namanya dohong atau duhung.

Saat ini, keberadaan dohong sudah langka. Tak heran jika di antara semua senjata Dayak, dohong merupakan yang paling asing di telinga masyarakat umum.  Padahal kalau melihat sejarah, dohong lebih dulu ada dibandingkan mandau dan senjata lainnya.

Masyarakat Dayak meyakini dohong merupakan senjata tertua yang dimiliki suku Dayak, tepatnya suku Dayak Ngaju. Masyarakat Dayak bahkan meyakini senjata ini sudah tercipta ketika manusia belum ada di dunia. Dohong merupakan senjata yang diciptakan oleh leluhur suku Dayak di alam atas.

Manusia pertama yang memiliki dohong adalah mereka yang dipercaya sebagai leluhur suku Dayak. Pada awalnya, hanya tiga orang yang memilikinya, yaitu Raja Sangen, Raja Sangiang, dan Raja Bunu.

Menurut legenda, ketiga raja tersebut memiliki dohong yang berbeda. Yang dimiliki Raja Sangen dan Raja Sangiang terbuat dari besi yang bisa mengapung.

Sementara, senjata yang dimiliki Raja Bunu terbuat dari besi yang tidak bisa mengapung. Dohong jenis ini biasa disebut sanaman leteng. Raja Bunu inilah yang diyakini sebagai manusia yang bernyawa dan bisa mati, dan diyakini sebagai salah satu leluhur dan nenek moyang suku Dayak.

Sebenarnya, senjata tradisional ini merupakan mata tombak yang bisa digunakan sebagai pisau. Sebagai pisau, senjata ini dilengkapi dengan gagang bulat dan sebuah sarung yang terbuat dari kayu. Dulu, masyarakat Dayak juga menggunakannya sebagai senjata untuk berperang.

Bentuk dasar dohong adalah pisau biasa dengan bilah simetris. Senjata ini digunakan untuk menikam atau menusuk dalam pertarungan jarak dekat. Masyarakat Dayak membawa senjata ini saat berburu, untuk melindungi dirinya dari binatang buas dalam jarak dekat.

Selain digunakan sebagai pertahanan diri dan alat berburu, senjata tradisional Dayak ini dulu digunakan juga untuk bercocok tanam. Namun, kini hanya boleh dimiliki oleh Pisur atau ketua adat masyarakat Dayak.

Kini, senjata dengan panjang sekitar 50-75 cm ini sudah menjadi semacam pusaka sehingga tidak dipakai untuk mendampingi aktivitas sehari-hari. Namun, untuk acara-acara tertentu, kadang dohong dikeluarkan sebentar.

Baca juga: Mandau, Senjata Tradisional Suku Dayak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + twenty =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.