Danarto, Kepergian Seorang Sastrawan

216
Danarto
Danarto (Foto: KOMPAS/Putu Fajar Arcana)

1001indonesia.net – Siang itu (10/04/2018), saya dan kawan-kawan menjemput seorang narasumber untuk mengisi pelatihan mubaligh muda di kawasan Bogor. Tak lama setelah keluar dari kampus UIN Ciputat, kami menyaksikan orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Di tengah kerumunan tersebut, tampak seorang kakek tergeletak tak sadarkan diri. Baru malam harinya saya tahu, itulah kali pertama dan terakhir saya melihat Danarto, sosok sastrawan senior yang saya pernah baca karya cerpennya.

Info kecelakaan yang dialami Danarto, saya dapat dari teman yang juga sangat menggemari karya sastra—teman saya itu bahkan pernah memenangkan sayembara cerpen yang diadakan DKJ. Ia bertanya apakah saya tahu Danarto? Ya, saya tahu Danarto. Namanya melekat dalam ingatan saya.

Dari beberapa teman yang mengenal langsung Danarto, saya menangkap dirinya sebagai figur yang ramah dan sederhana. Ia dikenal akrab sekaligus dihormati oleh teman-temannya. Sebagai seniman senior, ia banyak membantu dan memberi bimbingan seniman-seniman lain, meski ia sendiri dikenal sebagai sosok yang mandiri. Danarto jarang meminta pertolongan orang lain, apalagi mengeluh.

Sebagian besar teman-teman saya mengenal sosok kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 itu sebagai sastrawan sufi. Ia memang membawa suasana sufi pada karya sastranya. Danarto banyak menghasilkan karya sastra, beberapa di antaranya bahkan fenomenal, seperti Godlob, Asamaraloka, Adam Ma’rifat, dan Orang Jawa Naik Haji.

Tak hanya menulis sastra, Danarto dikenal sebagai seniman multitalenta. Ia juga dikenal sebagai seorang perupa dan aktif juga menulis naskah-naskah drama. Atas kiprahnya dalam dunia seni, ia pernah menerima Anugerah Budaya 1982 dan tokoh Federasi Teater Indonesia 2014.

Selama sepuluh tahun terakhir, Danarto hidup seorang diri di Jakarta. Dia memiliki keinginan untuk untuk mengunjungi makam ibunya di Sragen, Jawa Tengah. Namun, niat itu tak kunjung terwujud sampai dirinya berpulang. Teman-temannya kemudian sepakat untuk memakamkan jenazahnya di Sragen, di samping makam ibunya sesuai dengan keinginannya.

Selamat jalan Mas Danarto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 5 =