Candi Sukuh, Candi di Lereng Lawu yang Bergaya Megalitik

426
Candi Sukuh
Candi Sukuh (Foto: TEMPO/Andry Prasetyo)

1001indonesia.net – Selain Candi Cetho, terdapat situs lain peninggalan Kerajaan Majapahit di lereng Gunung Lawu, yaitu Candi Sukuh. Candi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1437 M atau 1359 Saka ini terletak di ketinggian 1.186 m di atas permukaan laut, lebih rendah dari Candi Cetho.

Candi Hindu berbentuk piramida yang terpotong ini terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sekitar 20 km dari kota Karanganyar dan 36 km dari Surakarta.

Bangunan Candi Sukuh sangat unik. Banyak objek erotis berupa alat kelamin laki-laki (lingga) dan alat kelamin perempuan (yoni) di bangunan kuno ini. Di candi ini terpahat pula rahim perempuan dan kura-kura yang melambangkan kesuburan, awal kehidupan, dan bumi.

Arsitekturnya yang berbentuk piramida terpotong menyerupai bentuk candi Suku Maya di Guetemala (Amerika Tengah) atau candi Suku Inca di Peru. Bentuknya mengingatkan kita pada piramida di Mesir.

Situs Candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Inggris di tanah Jawa pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Saat itu, Johnson ditugasi oleh Thomas Stanfford Rafles untuk mengumpulkan data guna menulis The History of Java. 

Setelah masa pemerintahan Inggris berlalu, pada 1842, Van Der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam buku Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto.

Penelitian terhadap candi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans pada tahun 1864-1867, dilaporkan dalam buku Hindoe Oudheiden van Java. Pada 1889, Verbeek mengadakan inventarisasi terhadap Candi Sukuh, yang dilanjutkan dengan penelitian oleh Knebel dan WF. Stutterheim pada 1910.

Penelitian itu kemudian dilanjutkan dengan upaya pelestarian. Pemugaran pertama dilakukan oleh Dinas Purbakala pemerintah kolonial Belanda pada 1917. Pada akhir tahun 1970-an, Candi Sukuh mengalami pemugaran oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 2012 dan 2015-16, Candi Sukuh kembali dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Bangunan Candi

Arsitektur bangunan Candi Sukuh dan Candi Cetho berbeda dengan bentuk bangunan Hindu lainnya. Denah Candi Sukuh berbentuk teras berundak dengan halaman depan teras lebih luas daripada bagian belakang. Bentuk semacam ini mirip bangunan punden berundak masa megalitik, masa sebelum Hindu-Buddha masuk ke Nusantara.

Selain itu, bangunan suci di kompleks Candi Sukuh juga diletakkan di bagian paling tinggi dan belakang, berbeda dengan bangunan Hindu lainnya yang meletakkan bangunan utama di bagian tengah. Ini semakin menegaskan ciri megalitik pada candi yang terbuat dari batu-batuan jenis andesit ini.

Luas kompleks Candi Sukuh sekitar 5.500 meter persegi, terdiri atas tiga bagian teras. Setiap teras lebih luas pada bagian depan dan menyempit di bagian belakang.

Candi Sukuh

Di ruang gapura teras pertama terdapat relief yang menggambarkan bersatunya kelamin pria (lingga) dengan kelamin perempuan (yoni). Relief ini merupakan simbol cinta kasih dan asal muasal manusia.

Ada keyakinan bahwa relief itu berfungsi sebagai suwuk (mantra atau obat) untuk ngruwat (menyembuhkan atau menghilangkan) segala kotoran yang melekat. Itulah sebabnya, relief tersebut dipahatkan di lantai pintu masuk sehingga orang yang masuk ketempat suci ini akan melangkahinya. Dengan demikian, segala kekotoran yang melekat di dirinya akan sirna.

Saat ini, sekitar relief tersebut diberi pagar agar tidak rusak sehingga gapura pada teras pertama ini sulit dilalui. Untuk menuju ke teras pertama, pengunjung harus memutari gapura.

Bagian teras kedua keadaannya memprihatinkan. Gapuranya sudah rusak. Pada teras ini tidak terdapat banyak patung. Ada patung penjaga pintu atau dwarapala yang biasanya ada pada kanan kiri gapura, tapi sudah tidak jelas lagi bentuknya karena rusak.

Teras ketiga yang letaknya paling tinggi merupakan bagian kompleks yang paling sakral. Di teras ini terdapat candi utama berbentuk trapesium dengan tinggi 6 meter dan luas sekitar 15 meter pesegi yang dipenuhi relief bermakna kehidupan.

Pada bagian lain, terdapat relief yang menggambarkan arak-arakan seorang penunggang kuda dikawal puluhan prajurit bersenjata tombak. Ada pula dua ekor badak, sepasang kerbau serta seorang menunggang gajah. Relief ini pun sampai sekarang masih menjadi misteri.

Begitu unik dan penuh misteri, salah satu relief yang terpahat pada bilah batu besar berbobot sekitar 12 ton, pernah diboyong ke Amerika Serikat dalam event pameran kebudayaan Indonesia-Amerika Serikat (Kias) selama satu tahun. Dari Amerika Serikat benda ini diboyong ke Belanda untuk dipamerkan dalam event lain.

Relief ini menggambarkan Dewa Ganesha berdiri di atas satu kaki di sebuah besalen (tempat penempaan besi) sambil memegang ekor anjing. Lalu di bagian lain tergambar seseorang tengah mengerjakan embusan api, dan seorang lain lagi menghadapi sebuah meja sambil mempertunjukkan hasil karya penempaan besi, seperti keris, tombak, cangkul, palu, dan seni pahat besi yang lain.

Diperkirakan, orang-orang yang berada di besalen bersama Dewa Ganesha ini adalah keturunan raja atau keturunan dewa. Sayangnya, makna atas cerita wayang sesuai tergambar dalam relief tersebut belum terungkap tuntas.

Karena banyaknya relief yang menggambarkan alat kelamin, orang sering mengindentikkan Candi Sukuh dengan istilah candi porno atau candi erotis dan digolongkan sebagai candi yang kontroversial. Mereka juga menghubungkan relief yang disebut sebagai lambang kesuburan itu berkaitan dengan kepercayaan mistik. Memang, banyak relief Candi Sukuh sampai sekarang tak terpecahkan kerahasiaannya.

Candi Sukuh masih digunakan sebagai tempat sembahyang. Sebab itu, banyak pengunjung yang berasal dari Bali. Puncak kunjungan adalah saat liburan atau saat hari suci agama Hindu, seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Banyupinaruh untuk melakukan ritual di atas Candi Sukuh.

Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi situs warisan dunia sejak 1995. Dari atas candi tampak panorama Kota Solo, juga hijaunya persawahan dan hutan di Gunung Lawu.

LEAVE A REPLY

fourteen − one =