Candi Selogriyo, Peninggalan Wangsa Sanjaya di Lereng Gunung Sumbing

93
Candi Selogriyo
Candi Selogriyo (Foto: wisatamagelang.com)

1001indonesia.net – Di lereng timur Gunung Sumbing, berdiri megah Candi Selogriyo. Bangunan suci peninggalan Mataram Hindu ini terletak di lokasi terpencil, tersembunyi di antara bukit Giyanti, Condong, dan Malang.

Candi Selogriyo berada di Dusun Campurrejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Bangunan kuno ini didirikan pada abad ke-8 M, sezaman dengan candi di dataran tinggi Dieng. Candi Selogriyo diperkirakan didirikan oleh Wangsa Sanjaya.

Candi Selogriyo terletak di puncak sebuah bukit dengan ketinggian 740 mdpl pada area seluas kurang lebih 300 meter persegi. Candi ini menghadap ke arah timur. Di dalam candi ada sebuah bilik yang sudah kosong. Menurut perkiraan, dahulu di bilik tersebut terdapat lingga-yoni yang menjadi simbol dari dewa Siwa.

Di empat sisi dinding bangunan candi terdapat lima relung yang menjadi tempat arca-arca perwujudan dewa. Arca-arca tersebut adalah Durga Mahisasuramardini (dinding utara), Ganesha (dinding barat), Agastya (dinding selatan), serta Nandiswara dan Mahakala (dinding timur).

Jika dilihat dari ukurannya, candi Selagriyo ini relatif kecil. Denah bangunannya berbentuk palang dengan ukuran 5,2 m x 5,2 m dengan tinggi sekitar 4,9 meter. Candi ini juga tidak memiliki candi pewara atau candi pendamping, tidak seperti umumnya candi-candi Hindu lainnya yang umumnya memiliki tiga candi pewara.

Salah satu keistimewaan Selogriyo adalah kemuncaknya yang berbentuk buah keben. Kemuncak tersebut disebut amalaka.

Candi Selogriyo
Foto: pendekartidar.org

Pada bulan Desember 1998, candi ini hancur karena bukit tempat bangunan berdiri longsor. Hal ini disebabkan letak candi yang berada di atas bukit dan dikelilingi oleh lereng-lereng bukit lain. Karena itu, candi ini dipindahkan posisinya supaya tidak longsor lagi. Proses rekonstruksi ulang selesai pada 2005.

Lokasi Candi Selogriyo memang terpencil. Untuk menuju ke sana, pengunjung harus menempuh jalan setapak berkelok-kelok. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan sawah dan perbukitan yang eksotik. Hal ini tentu cocok bagi yang suka petualang dan menjelajah alam sambil menikmati suasana pedesaan.

Baca juga: Kompleks Candi Dieng, Peninggalan Sejarah di Dataran Tinggi Dieng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.