Candi Ngawen, Peninggalan Buddha di Kabupaten Magelang

362
Candi Ngawen
Foto: candi.perpusnas.go.id

1001indonesia.net – Candi Ngawen merupakan satu dari sekian banyak candi di Magelang yang bercorak Buddha. Situs bersejarah ini kurang dikenal oleh masyarakat luas. Padahal lokasinya tidak jauh dari pasar Muntilan. Dari jalan Pemuda Muntilan hanya sekitar 1 km ke arah selatan.

Candi yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang ini ditemukan pertama kali tahun 1864 oleh seorang Belanda bernama N.W. Hoepermans. Ekskavasi candi dimulai pada 1920.

Bangunan kuno ini dibangun sekitar abad ke-8, tepatnya pada masa Mataram Kuno di bawah pemerintahan dinasti Syailendra. Kemungkinan besar candi ini merupakan bangunan suci seperti yang tertulis dalam prasasti Karang Tengah pada 824 M.

Sekilas, bentuk bangunannya mirip dengan bangunan candi Hindu. Ini tampak dari bentuknya yang meruncing. Namun bila diamati dengan saksama, candi ini memiliki stupa dan teras berundak yang menjadi ciri khas candi-candi Buddha. Di dalamnya juga ditemukan arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa dan arca Dhyani Buddha Amithaba.

Selain bangunannya yang mirip dengan candi Hindu, bentuk bangunan Candi Ngawen memiliki kesamaan dengan Candi Mendut, candi Buddha yang berjarak 5 km dari situs ini.

Kompleks Candi Ngawen terdiri atas lima buah candi kecil, disebut candi Ngawen I sampai dengan V. Kelimanya berjajar dari utara ke selatan. Bangunan candi menghadap ke timur. Dari kelima candi, hanya satu yang berhasil dipugar sehingga memiliki bentuk yang paling lengkap. Empat candi yang lain hanya tinggal dasarnya saja.

Candi Buddha ini memiliki keunikan. Dua di antara lima candi, yaitu candi II dan candi IV mempunyai ornamen patung singa pada keempat sudutnya. Kedua candi tersebut memiliki ukuran dan bentuk konstruksi yang sama.

Keunikan lainnya adalah adanya arca singa yang menopang empat sisi lima bangunan candi yang ada. Bentuk ukiran arca singa ini mirip lambang singa negara Singapura. Fungsinya untuk mengaliri air hujan yang keluar lewat mulut arca.

Dibanding Candi Borobudur dan Candi Mendut, kunjungan ke Candi Ngawen tergolong sepi. Untuk mempromosikan candi ini, diadakan Festival Candi Ngawen yang menawarkan atraksi seni budaya. Festival ini sudah diadakan dua kali. Festival terakhir diadakan bulan September 2016 dan diikuti oleh ribuan peserta, mulai pelaku wisata, pelaku seni, masyarakat adat, petani, pelaku UMKM, sampai anggota pramuka.

LEAVE A REPLY

four × one =