Candi Jago, Bakti Raja Kertanegara terhadap Ayahandanya

151
Candi Jago
Candi Jago dibangun sejak 1268 M sampai 1280 M  oleh Raja Kertanegara sebagai penghormatan bagi almarhum ayahandanya Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari ke-4. (Foto: javaloka.com)

1001indonesia.net – Candi Jago terletak di Jalan Wisnuwardhana, Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, sekitar 22 km dari Kota Malang ke arah timur. Karena letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk sekitar menyebutnya Cungkup.

Menurut kitab Nagarakretagama dan Pararaton, candi ini yang sebenarnya bernama Jajaghu. Istilah Jajaghu, yang berarti keagungan, digunakan untuk menyebut tempat suci.

Candi Jago dibangun sejak 1268 M sampai 1280 M  oleh Raja Kertanegara sebagai pendharmaan bagi ayahandanya Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari ke-4. Pada masa Kerajaan Majapahit, tepatnya selama tahun 1359, candi ini sering dikunjungi Raja Hayam Muruk.

Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Nagarakretagama dijelaskan bahwa Raja Wisnuwardhana yang memerintah Singasari menganut agama Syiwa Buddha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan yang letaknya sekitar 20 kilometer dari Candi Jago. Relief-relief yang terpahat pada bangunan Candi Jago memiliki unsur unsur dari ajaran Syiwa Buddha.

Baca juga: Nagarakretagama, Rekaman Kerajaan Majapahit pada Masa Puncaknya

Candi Jago dengan Kerajaan Singasari juga ditunjukkan dengan adanya pahatan padma (teratai), yang menjulur ke atas dari bonggolnya, menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari.

Di masa silam, ada kebiasaan raja-raja untuk memugar candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Diduga Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.

Candi Jago dibangun dengan bahan batu andesit yang disusun dalam bentuk punden berundak. Sayang saat ini hanya tersisa bagian kaki dan sebagian kecil badan candi. Bagian atap sudah lenyap konon sehingga tidak diketahui bagaimana bentuknya semula.

Bangunan Candi Jago menghadap ke barat. Secara keseluruhan, bangunan candi memiliki denah dasar berbentuk segi empat dengan ukuran 23 x 14 meter persegi. Sedangkan tingginya tidak dapat diketahui secara pasti karena atap candi sudah hilang. Namun, dari hasil penelitian yang pernah dilakukan, diperkirakan tinggi bangunan kuno ini mencapai 15 meter.

Bangunan candi ini dibangun di atas batur candi dengan ketinggian kira-kira 1 meter. Bagian kaki candi tersusun atas tiga undakan seperti teras bertingkat tiga. Pada lantai pertama dan lantai kedua candi terdapat selasar yang mengelilingi candi dan dapat dilewati manusia. Ruang utama atau garba graha candi ini terletak sedikit ke belakang. Bentuk bangunan berbentuk punden berundak, mirip bangunan pada zaman Megalitikum.

Di masa silam, bangunan punden berundak memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan terhadap para arwah nenek moyang. Berdasarkan kemiripan bentuknya ini, bangunan Candi Jago diduga juga dibangun sebagai tempat pemujaan terhadap arwah para leluhur.

Pada bagian depan candi terdapat dua tangga sempit pada sisi kanan dan kirinya yang digunakan sebagai penghubung antarlantai. Pada bagian kaki hingga pada dinding-dinding di ruangan atas candi ini dipenuhi dengan pahatan.

Pahatan-pahatan tersebut terlihat rapi memenuhi bangunan Candi Jago. Tak terlihat sedikit pun bidang kosong tanpa hiasan pahatan pada bangunan candi ini. Semua bidang candi telah dihiasi dengan berbagai motif yang menggambarkan cerita-cerita yang mengisahkan pelepasan kepergian.

Hal tersebut menjadi penguat dugaan latar belakang dibangunnya candi ini memiliki hubungan yang erat dengan mangkatnya Raja Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Budhha Tantrayana, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha.

Pada teras bagian terbawah terpahat relief cerita Tantri Kamandaka dan Kunjarakarna yang merupakan ajaran dari agama Buddha. Kisah Tantri Kamandaka yang berkaitan dengan cerita binatang.

Sedangkan Kunjarakarna mengisahkan seorang yaksa (raksasa) yang melakukan meditasi Buddha di Gunung Semeru, agar dapat dibebaskan dari wataknya sebagai raksasa dalam inkarnasi berikut. Kisah ini masih dilanjutkan pada teras kedua. Ada pendapat, Candi Jago merupakan satu-satunya candi yang memuat kisah Kunjarakarna.

Selain itu, pada teras kedua juga terpahat relief ajaran Hindu berupa penggalan kisah Mahabarata, yaitu pada kisah Pathayajna dan Arjuna Wiwaha. Teras ketiga candi ini terdapat relief-relief yang menggambarkan cerita lanjutan dari kisah Arjuna Wiwaha. Pada tubuh candi ini terdapat relief-relief yang menggambarkan peperangan Krisna dengan Kalayawana yang merupakan ajaran dari agama Hindu.

Sekitar 6 meter dari kaki candi, ada sebuah pelataran yang di tengah-tengahnya terdapat pahatan yang berbentuk tatakan arca raksasa dari batu besar berdiameter sekitar 1 meter. Pada puncak pahatan batu besar tersebut terdapat pula pahatan padma yang terlihat menjulur dari bonggolnya.

Semula pada halaman candi sebelah berdiri sebuah arca Amoghapasa yang merupakan perwujudan dari Raja Sri Jaya Wisnuwardhana. Arca tersebut memiliki delapan lengan, berlatar belakang singgasana dengan bentuk kepala raksasa yang belakang membelakangi.

Sayang bagian kepala arca tersebut telah hilang. Bagian lengan-lengannya pun sudah tidak lengkap delapan lagi karena beberapa juga telah patah.

Arca-arca lain mengelilinginya antara lain Bharakuti, Syamatara, Sudanakumara, dan Hayagriwa. Dari posisi arca Amoghapasa ke arah sebelah selatan kira-kira sejauh tiga meter terdapat arca dengan kepala raksasa yang tingginya mencapai satu meter. Saat ini, semua arca penting itu disimpan di Museum Jakarta.

Pada halaman Candi Jago terdapat sebuah arca kecil Bhairawa yang merupakan perwujudan Adityawarman ketika masih mengabdi di Keraton Majapahit. Setelah menjadi Maharajadiraja di Suwarnaddwipa, Adityawarman membuat Arca Bhairawa besar di Jambi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.