Batik Tulis Ciwaringin Cirebon, Setia pada Pewarna Alami

691
Batik Tulis Ciwaringin
Ilustrasi Batik Tulis Ciwaringin (Foto: berberita.com)

1001indonesia.net – Batik tulis Ciwaringin memiliki keistimewaan. Motifnya yang unik kaya akan muatan kearifan lokal. Batik ini juga memiliki warna yang lembut yang berasal dari bahan pewarna alami berupa campuran berbagai macam tanaman yang didapat dari lingkungan sekitar.

Kampung Batik Ciwaringin terletak di Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Desa ini bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan dengan mobil dari pusat kota Cirebon. Di desa ini, tradisi membatik telah lama ada. Kampung batik ini seakan melengkapi Kampung Batik Trusmi, kampung batik yang sangat terkenal di Cirebon.

Menjadi TKI

Batik tulis Ciwaringin sempat mengalami pasang surut. Sekitar dua dekade lalu, usaha batik tulis di Ciwaringin ini tiarap karena dianggap tidak menghasilkan uang sehingga ditinggal para perajinnya. Para pebatik yang umumnya kaum perempuan beralih profesi menjadi TKI.

Warga Ciwaringin sudah lama mengenal batik tulis. Keahlian membatik diwariskan secara turun-temurun. Diyakini, batik tulis Ciwaringin tumbuh berkembang seiring batik Cirebon. Tepatnya pada abad ke-16 ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon. Awalnya, para santri dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengerjakan batik sehingga terjadilah pertukaran budaya.

Sampai tahun 1980-an, hampir semua perempuan dewasa di desa Ciwaringin membatik di rumahnya masing-masing. Batik tulis buatan mereka kemudian dijual di sentra-sentra batik di Kota Cirebon.

Memasuki awal 1990-an, kerajinan batik tulis Ciwaringin mulai surut lantaran kalah bersaing dengan batik printing yang harganya jauh lebih murah. Puncaknya saat krisis ekonomi menerjang Indonesia pada 1997, para perajin kesulitan dana untuk modal usaha. Usaha batik tulis tidak lagi menguntungkan.

Di tengah situasi sulit, datanglah para agen pencari tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Ciwaringin. Dengan iming-iming gaji jutaan rupiah, mereka membujuk warga, terutama perempuan, untuk bekerja di Timur Tengah sebagai asisten rumah tangga. Tawaran itu disambut antusias oleh warga desa, terutama yang sedang tertekan secara ekonomi. Maka berbondong-bondonglah perempuan Ciwaringin mencari nafkah di luar negeri.

Ketika rombongan TKI pertama pulang kampung dengan dandanan dan perhiasan yang wah, mereka tampak seperti rombongan orang-orang berduit banyak. Sebagian lantas membeli tanah di desa dan membangun rumah mereka menjadi lebih bagus.

Melihat kesuksesan para TKI itu, semakin banyak perempuan Ciwaringin yang berminat ke Timur Tengah. Bekerja sebagai TKI dianggap pilihan paling mudah untuk keluar dari kemiskinan. Apa pun dilakukan warga agar bisa bekerja di sana. Bahkan mereka yang belum cukup umur dikatrol usianya agar bisa diberangkatkan.

Saat itu, hampir setiap keluarga di Ciwaringin memiliki anggota yang menjadi TKI. Tidak banyak orangtua yang melarang anaknya menjadi TKI.

Saat-saat inilah, batik tulis Ciwaringin seperti mati suri. Selain ditinggal banyak perajinnya yang menjadi TKI, tidak banyak generasi muda yang meminati usaha batik. Jika ada yang masih membatik, umumnya hanya orang-orang tua yang masih setia dengan kegiatan lama mereka.

Kembali ke Batik

Memang penghasilan yang dibawa pulang para TKI bisa memperbaiki perekonomian desa. Rumah-rumah yang tadinya reyot diubah menjadi mentereng oleh para TKI.  Namun, di balik kisah sukses tersebut, terselip sejumlah persoalan sosial.

Kasus-kasus seperti perselingkuhan, percerian, dan anak-anak yang terlantar banyak bermunculan. Kisah-kisah ini kemudian menjadi cerita yang biasa di kalangan keluarga-keluarga di Ciwaringin. Banyak orang yang punya banyak duit, tapi keluarganya tak terurus.

Karena dirasa pekerjaan sebagai TKI juga membawa dampak buruk, kesadaran untuk menghidupkan tradisi membatik di Ciwaringin muncul kembali. Pada 2009, Dinas Koperasi Kabupaten Cirebon berinisiatif menghidupkan kembali usaha batik tulis Ciwaringin.

Dinas Koperasi kemudian menggandeng beberapa pengusaha batik yang tersisa untuk membentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Sapu Jagat. Para perajin diberi pelatihan manajemen produksi, diberi peralatan kerja dan bahan baku, serta modal Rp 15 juta untuk 15 sampai 20 pebatik. Hasilnya, produksi batik tulis Ciwaringin mulai hidup lagi.

Pada 2011, para pebatik mendapat bantuan pemasaran dan pelatihan manajemen dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Indocement. Mereka juga ditawari pinjaman bergulir Rp 20 juta untuk tiap UKM batik beranggotakan 6-7 orang. Mereka diikutkan dalam banyak pameran, 5-6 kali dalam setahun. Dari pameran itu, batik mereka mulai dikenal dan pesanan mulai berdatangan dengan harga yang lebih tinggi.

Keberhasilan usaha batik ini menghidupkan kembali semangat membatik pada warga desa Ciwaringin. Satu demi satu, para mantan TKI terjun lagi ke bisnis batik. Alhasil, saat ini, kerja menjadi TKI sudah tidak lagi diminati oleh para perempuan di Ciwaringin.

Pewarna Alami

Pewarnaan batik Ciwaringin dihasilkan dari beragam tanaman yang didapat dari lingkungan sekitar di antaranya batang mangga, indigo, kulit rambutan, serta kulit jengkol. Tanaman tersebut lantas melalui proses pengolahan hingga dapat digunakan sebagai pewarna.

Misal, kulit rambutan atau batang pohon mangga direbus hingga lebih dari 7 jam sampai warna kulit tersebut muncul, kemudian disaring lalu dimasukkan ke wadah. Air rebusan itulah yang digunakan sebagai pewarna kain. Untuk mendapatkan warna yang baik, pencelupan kain dilakukan secara berulang.

Masing-masing tanaman tersebut menghasilkan warna berbeda. Kulit jengkol dan batang mahoni misalnya, bisa menghasilkan warna cokelat.  Batang mangga menghasilkan warna hijau.

Meski batik tulis Ciwaringin sudah dikenal bahkan hingga mancanegara, tapi jumlah pembeli masih terbatas. Pada umumnya, pembeli berasal dari luar negeri atau konsumen lokal kelas atas. Sedikitnya pembeli dikarenakan harga batik Ciwaringin yang relatif mahal. Satu lembar kain bisa mencapai jutaan rupiah. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya yang makan waktu lama.

Lamanya proses produksi karena kain batik harus dicelup dengan pewarna alami secara berulang untuk menghasilkan warna yang bagus. Bahkan, untuk menyelesaikan satu lembar kain batik tulis membutuhkan waktu seminggu. Itu pun jika warna yang digunakan tidak banyak dan dengan motif yang sederhana.

Memang, batik tulis Ciwaringin istimewa bukan hanya karena prosesnya yang butuh waktu lama, tetapi juga karena kekayaan dan kekhasan motifnya. Motif batik Ciwaringin tidak sembarangan, di dalamnya terkandung kearifan lokal. Motif yang banyak dibuat perajin antara lain motif batik pringsedapur, sapu jagattebu sekeret, pecutan, dan lain-lain.

Motif batik sapu jagat misalnya, mengandung makna kebersamaan. Sementara motif pecutan yang bergambar daun panjang berarti pemberi semangat. Motif batik tersebut dapat menjadi pegangan hidup bagi penduduk desa dan masyarakat pada umumnya.

Sumber:

  • Budi Suwarna, “Nursalim dan Iim Rohimah: Penjaga Napas Batik Ciwaringin”, dalam Kompas, Jumat, 21 Oktober 2016.
  • http://tabloidnova.com/News/Peristiwa/Kampung-Batik-Ciwaringin-Di-Cirebon-Kini-Jadi-Pilihan-Mata-Pencaharian
  • http://www.varia.id/2014/11/23/mengapa-batik-ciwaringin-mempertahankan-tradisionalitas/

LEAVE A REPLY

13 − twelve =