Bambu Gila, Permainan Tradisional dari Maluku Utara

192
Bambu Gila
Foto: wartakota.tribunnews.com

1001indonesia.net – Tarian bambu gila atau yang dikenal juga dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen berasal dari Maluku Utara. Sesuai namanya, tarian ini menggunakan sarana utama bambu. Penduduk setempat percaya bahwa bambu memiliki kekuatan mistik dan dapat dirasuki.

Permainan bambu gila sudah ada di Ternate sejak ratusan tahun silam, sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Kepulauan Maluku. Di masa lampau, permainan bambu gila dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan berat, seperti memindahkan barang yang sulit diangkat jika hanya mengandalkan tenaga manusia semata.

Selain itu, bambu gila juga digunakan oleh masyarakat Kesultanan Ternate zaman dulu sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh. Saat itu, bambu gila bisa dikerahkan dengan kekuatan supranatural untuk menyerang lawan.

Sampai saat ini, permainan bambu gila tetap dilestarikan di Ternate, tapi difungsikan sebagai permainan untuk hiburan rakyat. Permainan unik bambu gila kini bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Ternate.

Keunikan permainan bambu gila itu terletak kemampuan pawang untuk menggerakkan bambu dengan rapalan mantra dan asap kemenyannya. Kekuatan gerakan bambu bahkan sulit dibendung, meski bambu itu dipegang sejumlah orang.

Kesenian khas masyarakat Maluku itu dimainkan oleh 8 laki-laki. Tujuh orang memegang bambu dan satu orang bertindak sebagai pawang. Para pemegang bambu diharuskan bertelanjang dada, dengan celana dan ikat kepala berwarna merah.

Bambu yang dipilih dalam permainan ini tidak sembarangan. Bambu diambil dari hutan melalui ritual khusus. Biasanya bambu yang dipilih berdiameter 8 sampai 10 sentimeter. Bambu itu kemudian dipotong sepanjang 2,5 sampai 3 meter, diikatkan kain pada kedua ujungnya, dan diperlakukan secara khusus.

Pertunjukan diawali dengan pembakaran kemenyan dan pembacaan mantra oleh pawang. Asap kemenyan yang dibawa dalam wadah tempurung lalu diembuskan ke bambu yang dibawa para pemain. Proses tersebut bertujuan untuk mengundang roh-roh agar masuk ke dalam bambu.

Setelah proses itu selesai, bambu akan terasa semakin berat dan mulai bergerak-gerak sendiri. Para pemain kemudian harus memeluk bambu tersebut dengan lebih erat untuk menahan lajunya.

Selama permainan berlangsung, dimainkan alat musik tradisional sebagai pengiring. Musiknya turut memengaruhi gerak bambu. Alunan musik berjalan lambat di awal dan kemudian cepat sampai mencapai klimaksnya. Semakin cepat alunan musik, semakin liar dan kuat gerakan bambu. Orang-orang yang membawa bambu mengikuti irama menari bersama bambu.

Saat gerakan bambu menjadi liar, peserta harus bersusah payah untuk bisa menahannya. Tak jarang salah satu peserta terjatuh ataupun terseret laju bambu. Di sinilah pertunjukan tradisional ini menjadi menarik.

Pertunjukan ditutup saat sang pawang merapalkan mantra untuk menjinakkan dan menghentikan gerakan bambu tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 + 5 =