Bajong Banyu, Cara Unik Sambut Ramadhan di Magelang

146
Bajong Banyu
Warga Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan, Magelang, Jateng saling melempar air dalam acara Bajong Banyu untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. (Foto: medcom.id)

1001indonesia.net – Warga Dusun Dawung di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, menyambut bulan suci Ramadhan dengan menggelar acara bajong banyu atau perang air. Acara yang digelar setiap tahun ini bertujuan untuk menyucikan diri sebelum berpuasa di bulan Ramadhan.

Bajong banyu berasal dari tradisi padusan atau membersihkan diri menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi itu kemudian dikemas dengan beragam atraksi dan pertunjukan seni agar menjadi lebih unik dan menarik. Seperti yang dilansir Kompas.com, bajong banyu secara harfiah berarti menyipratkan air. Dalam tradisi ini, warga saling melempar air atau perang air.

Prosesi diawali dengan pengambilan air di sumber air Sendang Kedawung yang letaknya tidak jauh dari dusun. Pengambilan air dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan warga dalam balutan busana adat Jawa menggunakan kendi.

Meski sudah ada air dari PDAM, warga tetap menggunakan air dari Sendang Kedawung. Sendang yang memberikan kehidupan bagi warga setempat ini tidak surut airnya meski di musim kemarau. Prosesi ini mengajak warga untuk menjaga lingkungan dan melestarikan alam.

Bajong Banyu
Tokoh Masyarakat mengambil air di Sendang Kedawung. Ada pesan menjaga mata air sebagai sumber kehidupan masyarakat dalam prosesi ini. (Foto: Gatra.com)

Air kemudian diarak kembali ke lapangan tengah dusun sebagai pusat kegiatan. Air dalam kendi-kendi kecil dituangkan ke sebuah gentong. Sesepuh dusun yang telah menunggu kemudian mendoakan air yang ada di dalam gentong. Sebuah doa pengharapan agar warga setempat selalu menjaga kerukunan dan diberi keselamatan dan kemakmuran.

Setelahnya, air itu dibasuhkan kepada warga yang menghendaki. Ratusan warga, baik tua, muda, pria, wanita, hingga anak-anak kemudian merangsek ke tengah lapangan untuk ikut perang air. Usai acara membasuh muka selesai, mereka langsung saling lempar air yang sudah disiapkan dalam kantung plastik. Alunan musik tradisional semakin menambah semaraknya suasana.

Meski dinamakan perang, tidak ada rasa benci atau amarah. Mereka justru antusias untuk berbasah-basahan. Tawa suka cita terlihat dari raut mereka.

Tidak ada batas tua-muda, tokoh masyarakat atau warga biasa, semua orang di lokasi acara bebas saling serang. “Perang” ini justru menjadi sarana untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi.

Baca juga: Tradisi Padusan, Mensucikan Diri Menjelang Puasa Ramadhan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.