Airin Efferin, Indahnya Keberagaman dalam Simfoni

607
Airin Efferin, Robert Nordling, dan Michael Hall
Dari kiri ke kanan: Airin Efferin, Robert Nordling, dan Michael Hall. (Foto: Bandung Philharmonic)

1001indonesia.net – Kelompok simfoni orkestra profesional Bandung Philharmonic yang didirikan Airin Efferin dan kawan-kawan berangkat keinginan agar Bandung memiliki orkes simfoni profesional. Orkes filharmoni yang terdiri atas musisi dari berbagai daerah ini menjadi bukti indahnya keberagaman yang dirangkai dalam harmoni.

Dalam orkes simfoni ini, berbagai jenis alat musik dengan suara yang berbeda menciptakan harmoni yang sangat indah. Inilah makna sejati dari perbedaan, yaitu membuat kehidupan menjadi lebih indah, bukannya membuat masyarakat menjadi terpecah-belah.

Menariknya, orkes simfoni profesional Bandung Philharmonic tidak hanya memainkan alat musik Barat. Alat musik tradisional Indonesia, seperti kentongan dan angklung, juga dimainkan dalam orkes simfoni yang secara resmi dibentuk oleh Airin Efferin bersama Fauzie Wiriadisastra, Putu Sandra Kusuma, dan Rony Gunawan pada Januari 2016 ini.

Orkes simfoni ini juga memainkan banyak lagu tradisional Indonesia, seperti “Es Lilin” dan “Cingcangkeling”. Bandung Philharmonic bahkan memainkan karya komponis Nusantara, yaitu komposisi “Nagarakretagama” gubahan Singgih Sanjaya dan “Borobudur” karya Budi Ngurah. Karya musik itu menjadi bagian repertoar Bandung Philharmonic.

“Nagarakretagama” dimainkan perdana oleh Bandung Philharmonic dalam pergelaran bertajuk “Destiny” di Teater Tertutup Dago Tea House pada 25 September 2016. Singgih Sanjaya memasukkan alat musik kentongan dalam komposisinya.

Sementara “Borobudur” digelar pertama pada pagelaran Earth Sea Sky di tempat yang sama pada 14 Januari 2017. Dalam karya ini, Budi Ngurah melibatkan bunyi gamelan berupa demung, slenthem, bonang, dan saron.

Kedua pagelaran tersebut melibatkan Robert Nordling sebagai pengaba merangkap direktur artistik. Robert adalah  pendiri musik Bay Chamber Symphony Orchestra di San Francisco dan konduktor di sejumlah kelompok orkestra di Amerika Serikat. Diajak pula Michael Hall sebagai direktur musik dan direktur program edukasi Bandung Philharmonic.

Inilah yang menjadi keistimewaan Bandung Philharmonic, yaitu memainkan karya klasik Barat dan menyuguhkan karya baru dari komponis Indonesia. Orkes filharmoni pertama di Bandung ini memang dibangun dengan visi “meningkatkan martabat dan peradaban batin manusia melalui dialog antara kekayaan musikal internasional dan khasanah lokal.”

Mimpi Memiliki Orkes Simfoni

Bandung Philharmonic lahir dari keinginan agar Kota Bandung memiliki orkes filharmoni. Menurut Airin, hampir semua kota di dunia yang berkelas mempunyai grup orkestra. Ia ingin Bandung sebagai kota yang telah melahirkan banyak seniman juga memilikinya. Maka, pada 2015, Airin Efferin bersama rekan-rekannya mulai berupaya untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Awalnya, tidak mudah bagi Airin untuk mendapat dukungan pendirian orkes simfoni ini. Kecuali ibunya yang sedari awal mendukungnya, tidak ada orang yang percaya padanya. Ia bahkan sering dianggap gila, bodoh, dan kurang kerjaan. Namun, ia membulatkan tekad. Dengan berani ia menghubungi guru-gurunya di Amerika Serikat, yaitu Robert Nordling dan Michael Hall, untuk membantunya.

Mereka dengan senang hati membimbing perempuan kelahiran Surabaya yang bermukim di Bandung ini beserta kawan-kawannya untuk membangun sebuah orkes filharmoni mulai dari yang paling mendasar.

Mereka diajari dari nol, bukan hanya soal musik, tapi keseluruhan hal yang dibutuhkan sebuah orkes simfoni, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan struktur organisasi, pustakawan, pengatur partitur, sistem audisi pemusik, urusan kontrak dengan pemain, bahkan sampai urusan jadwal latihan.

Airin Efferin (Foto: kbasmak1bpk.com)
Airin Efferin (Foto: kbasmak1bpk.com)

Pianis yang meraih gelar master di Southwestern Baptist Theological Seminary School of Church Music di Fort Worth, Texas, Amerika Serikat tahun 2011 ini memang tidak kepalang tanggung.

Untuk pengarah musik dan pengaba, ia langsung meminta Robert Nordling. Ia juga meminta Michael Hall sebagai pengarah musik dan pendidikan.

Airin sendiri sebenarnya punya pengalaman sebagai pengaba dan pernah belajar pangaba di Calvin College Grand Rapids, Michigan, AS.

Hal lain yang krusial adalah soal dana. Lulusan SMAK 1 BPK Penabur tahun 2005 ini hampir menjual mobil untuk mendukung dana pergelaran. Ibunya yang merasakan kesulitan anaknya terlibat menjadi pengumpan dana.

Dukungan kemudian datang dari berbagai pihak. Ada yang menyumbang satu jutaan hingga lima ratus juta. Airin melihat sumbangan itu bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan bentuk ketulusan dari semua pihak untuk membantu mewujudkan niatnya meningkatkan martabat dan peradaban batin melalui musik.

Tidak berapa lama setelah pendirian Bandung Philharmonic, semangat Airin dan kawan-kawan mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Setelah menggelar konser perdana di Gedung Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung, 18 Januari 2016 dan prekonser di Hotel Padma Bandung, 17 April 2016, kelompok orkestra simfoni ini terlibat dalam rangkaian acara peringatan Konferensi Asia Afrika ke-61 tahun 2016. Dalam rangkaian acara tersebut, Bandung Philharmonic menggelar konser bertajuk “Heroes” pada 23 April 2016.

Sumber:

  • Felix Christiono, “Airin Efferin: Membangun Visi Melalui Musik,” http://kbasmak1bpk.com/airin-efferin-membangun-visi-melalui-musik/
  • Frans Sartono, “Airin Efferin: Simfoni Damai dari Bandung,” Kompas, Jumat, 27 Januari 2017.
  • http://www.serbabandung.com/bandung-philharmonic-orchestra/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 14 =