8 Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia

537

1001indonesia.net – United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan 8 situs di Indonesia sebagai Situs Warisan Dunia. Penetapan ini merupakan bagian dari program UNESCO dalam upaya menjaga kelestarian tempat-tempat penting di dunia, baik dari segi alam maupun budaya.

Dari 8 situs Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia, 4 masuk kategori situs budaya dan 4 sisanya masuk dalam kategori situs alam. Penetapan ini tentu sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia. Selain sebagai bentuk apresiasi dunia terhadap alam dan kebudayaan Indonesia, ditetapkannya 8 situs sebagai warisan dunia sangat membantu Indonesia dalam menjaga pelestarian dan perlindungan terhadap situs-situs tersebut. Penetapan ini juga akan mendorong perkembangan pariwisata di Indonesia secara berkelanjutan.

Delapan Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia sebagai berikut:

Kompleks Candi Borobudur (1991)

Candi Borobudur salah satu dari gugus Borobudur diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia.

Kompleks Candi Borobudur merupakan candi Buddha terletak di Magelang, Jawa Tengah. Bangunan bersejarah ini dibangun oleh Wangsa Syailendra pada masa kejayaannya. Kompleks Candi Borobudur memiliki luas permukaan sekitar 2.500 meter persegi.

Kompleks candi yang terdiri atas Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon ini mempunyai kualitas arsitektur, seni, dan simbolisme yang amat kaya dan beragam. Pengakuan UNESCO turut memberikan penguatan atas kekayaan gugus candi ini.

Panel laman dari candi, mulai dari selasar 1 sampai dengan 7, memberikan gambaran mengenai nilai-nilai spiritual yang didalami oleh masyarakat Nusantara. Dibangun pada abad ke-8, candi ini juga menjadi bukti pertemuan peradaban Buddha-Hindu, termasuk bagian utama dalam pembentukan peradaban Nusantara.

Kompleks Candi Prambanan (1991)

Candi Prambanan

Kompleks Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke-9 pada masa dinasti Syailendra merupakan candi Siwa terbesar di Indonesia, juga sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara. Kompleks candi ini terdiri atas sekitar 224 candi.

Candi yang terletak di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah ini dihiasi relief yang menggambarkan epik Ramayana dan diperuntukkan untuk tiga dewa besar Hindu (Siwa, Wisnu, dan Brahma). Kompleks Candi Prambanan tidak hanya kaya akan arsitektur dan budaya, tetapi juga bukti adanya hubungan yang harmonis antar-agama di masa silam. Kompleks candi ini masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1991.

Taman Nasional Ujung Kulon (1991)

Taman Nasional Ujung Kulon (Foto: Evergreen)
Taman Nasional Ujung Kulon (Foto: Evergreen)

Dikenal sebagai rumah bagi satwa badak Jawa yang masih ada. Keindahan flora Ujung Kulon sangat menarik karena adanya proses penutupan kembali setelah ledakan Krakatau mengirim gelombang laut yang menghancurkan semenanjung. Di sini terdapat hutan dataran rendah ditumbuhi banyak rotan dan palem lain, juga daerah hutan pinggir pantai dan bakau sangat indah.

Bagian yang juga sangat menarik adalah empat pulau kelompok Krakatau, tiga pulau merupakan sisa gunung api asli, sementara yang keempat adalah anak Krakatau yang muncul 45 tahun kemudian setelah meletus. Pulau-pulau tersebut menyediakan laboratorium alam yang menarik bagi ahli botani untuk mempelajari pola perpindahan di pulau baru itu.

Taman Nasional Ujung Kulon dipercaya menjadi salah satu tempat yang bisa mempertahankan populasi alaminya. Ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1980, kemudian pada 1991 Ujung kulon dinobatkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO.

Taman Nasional Komodo (1991)

Komodo adalah salah satu hewan purba yang masih hidup hingga saat ini

Terkenal karena komodo-nya. Taman ini terdiri atas beberapa pulau dengan tiga pulau utama, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. Kawasan ini curah hujannya rendah sehingga miskin flora dan fauna. Keterjalan bukit secara umum tertutup rumput dengan pohon tal dan Zizyphus yang berpencar. Terdapat tegakan pohon padat di sepanjang alur air dan epifit seperti anggrek yang tumbuh dalam keadaan yang memungkinkan.

Pulau Komodo terletak di persimpangan dua lempeng benua sehingga termasuk dalam wilayah biogeografis Wallacea diantara ekosistem Australia dan Sunda. Pulau komodo dihuni sekitar 5.700 kadal raksasa yang berpenampilan dan berperilaku agresif sehingga menarik untuk dijadikan objek para ilmuwan mempelajari teori evolusi dan diakui UNESCO sebagai warisan alam dunia sejak tahun 1991.

Situs Purbakala Sangiran (1996)

Gambaran Orang Purba dari Situs Sangiran

Situs Sangiran adalah situs yang mengandung fosil-fosil penting yang berasal dari periode jutaan tahun lampau. Informasi yang dapat digali dari kandungan fosil ini sekaligus juga menyibak lapisan-lapisan geologi yang ada di bumi Nusantara.

Situs Sangiran diakui sebagai warisan dunia. Dari situs ini ditemukan fosil Pithecanthropus Erectus/Homo Erectus atau yang dikenal sebagai “manusia kera yang berjalan tegak” dari masa 2,4 juta tahun lalu. Diperkirakan volume otak Pitecanthropus Erectus belum mencapai tingkat manusia kontemporer (Homo Sapiens), namun diduga menjadi cikal bakal manusia kontemporer—yang dapat dilacak dari alat dan cara berburu, atau tanda yang mencerminkan ingatan. Ditemukan juga fosil Meganthropus Palaeo atau manusia besar purba (mega berarti besar).

Situs Sangiran terletak di Jawa Tengah, kurang lebih 15 km sebelah utara Surakarta, tepatnya di lembah sungai Bengawan Solo. Luas areanya sekitar 56 kmdan secara administratif terletak di 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.

Situs yang secara intensif dieksplorasi oleh G.H.R. von Koenigswald  ini menandakan bahwa wilayah Sangiran—dengan perkiraan luasannya—telah dihuni pra-manusia (hominid) pada 1,5 juta tahun lalu. Juga ditemukan alat-alat berburu seperti kapak belah, pisau besar, dan batu tajam. Juga ditemukan fosil fauna, seperti badak, gading gajah, tanduk banteng, dan tanduk rusa. Pada 1996, UNESCO  menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Dunia.

Secara keseluruhan, lempeng geologi Sangiran memberikan informasi yang amat kaya mengenai tahap-tahap perkembangan manusia, kondisi alam sepanjang perkembangan tersebut, dan tentu saja mengenai bumi Nusantara.

Taman Nasional Lorenzt (1999)

Taman Nasional Lorentz

Setelah Taman Nasional Komodo, taman nasional Indonesia yang menjadi situs warisan dunia ialah Taman Nasional Lorentz yang berada di wilayah Papua Barat. Taman Nasional yang diresmikan pada tahun 1997 ini memiliki luas sekitar 2.400.000 ha dengan keanekaragaman hayati yang sangat melimpah.

Pengunjung yang datang akan takjub dengan pemandangan gletser di daerah tropis yang dipadupadankan dengan pemandangan dataran rendah sekaligus flora dan fauna yang ada di Taman Nasional ini. Selain itu, suku Asmat yang hidup di Taman Nasional ini pun membuat makin memesonanya Taman Nasional Lorentz yang resmi diakui oleh UNESCO sebagai warisan alam dunia pada tahun 1999 silam.

Hutan Hujan Tropis Sumatra (2004)

Hutan Hujan Tropis Sumatra

Diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, hutan Sumatra menjadi rumah bagi aneka jenis flora dan fauna yang unik di Sumatra, dan yang khas dari Indonesia. Orangutan Sumatra, Bunga Bangkai (Rafflesia Arnoldi) yang merupakan bunga terbesar di dunia, Gajah Sumatra, dan Harimau Sumatra, semuanya merupakan spesies langka dan unik, sekaligus mendapat perlindungan dunia.

Pengakuan UNESCO atas Hutan Hujan Sumatra, menyiratkan kenyataan bahwa Nusantara menjadi rumah bagi hutan flora dan fauna endemik—hanya ada di wilayah tertentu—rumah bagi budaya masyarakat hutan sekaligus menjadi paru-paru dunia. Meliputi wilayah sekitar 2,5 juta hektare, Hutan Hujan Sumatra memberikan perlindungan bagi beberapa spesies penting.

Laskap Budaya Subak di Provinsi Bali (2012)

Subak

Subak adalah suatu pola kemasyarakatan mengenai air, baik mengenai akses, pengaliran, maupun pemanfaatannya. Disebut pola kemasyarakatan karena masyarakat yang membentuk budaya dan penghidupan (livelihood) adalah sekaligus pengelola air tersebut. Pembagian, partisipasi, serta durasi menjadi simbol dan fungsi tugas masyarakat. Berbeda dengan pola irigasi modern yang bersifat permanen, subak mengikuti dinamika masyarakat dengan melihat kebutuhan serta pilihan-pilihan siklus produksi.

Subak didasarkan pada filosofi Bali, yaitu Tri Hita Karana yaitu adanya hubungan yang selaras antara dunia roh, manusia, dan alam. Dengan filosofi ini, tujuan jangka panjang lebih dipentingkan, yaitu kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya, daripada kepentingan sesaat. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan hari ini bukan hanya penting secara praktis melainkan juga memberikan alam yang layak bagi masa depan. Dalam bahasa modern, hal ini dikenal dengan sebutan sustainable development atau pembangunan berkelanjutan.

Dari satu sumber mata air, ada sekitar 50 petani yang bekerja bersama sehingga air dapat memberikan manfaat bagi semua anggota. Ada jejaring saluran air yang bisa dibuka dan ditutup. Jejaring ini dibangun secara bertahap dan terus-menerus. Dengan adanya pengelolaan bersama ini, pencemaran air atau perusakan galangan air oleh satu anggota saja akan memberikan dampak buruk bagi semua. Hal ini memberikan fondasi kebersamaan yaitu kepentingan bersama yang diperjuangkan bersama.

Kepentingan bersama ini dinyatakan dalam awig-awig. Dalam awig-awig juga dinyatakan hak dan kewajiban bagi anggota. Secara bergilir, anggota menjalankan tugas, termasuk menjaga air, melakukan kontrol air baku, membagi air, dan juga memelihara jejaring saluran air. Hal ini dilakukan baik di waktu siang maupun malam.

Subak merupakan pengetahuan dan teknologi yang memanfaatkan gerak alam itu sendiri. Satu mata air dapat menghidupi banyak jiwa, sekaligus dapat tetap menjaga kualitas air. Subak menjadi sebuah tawaran bagi dunia mengenai konservasi alam sekaligus pemanfaatan alam untuk banyak pihak. UNESCO menetapkan subak sebagai Warisan Dunia pada 2012.

Sumber: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCOUNESCO World Heritage Centre, dan berbagai sumber lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 16 =