Gedung Perpustakaan Nasional, Memperkuat Literasi Memajukan Peradaban

275
Foto: Yudhistira Amran/KUMPARAN

1001indonesia.net – Ketika Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ingin menata kota, sudah ada rencana untuk membangun Gedung Perpustakaan Nasional. Pada 1952, Presiden Sukarno menggagas pembangunan gedung perpustakaan di kawasan silang Monumen Nasional (Monas) sebagai ikon peradaban Indonesia. Mimpi tersebut akhirnya terwujud setelah 65 tahun. Pada 14 September 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan Gedung Perpustakaan Nasional baru yang terletak di Jalan Medan Merdeka No. 11, Jakarta Pusat.

Seperti yang dilansir Kompas (15/9/2017), dasar pemikiran keinginan Presiden Sukarno untuk membangun perpustakaan nasional adalah bahwa kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuannya. Adanya perpustakaan yang memadai merupakan salah satu elemen pokok bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu.

Namun, gagasan Presiden Sukarno ini tidak lekas terwujud karena kondisi keuangan negara saat itu yang terbatas. Baru pada 17 Mei 1980, Presiden Soeharto menandatangani Keputusan Presiden Nomor 11 tentang Perpustakaan. Payung hukum ini menjadi dasar untuk mewujudkan Perpusnas yang terintegrasi. Momen itu kemudian diperingati sebagai Hari Lahir Perpustakaan Nasional.

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kemudian memutuskan untuk membangun Gedung Perpustakaan Nasional baru dengan daya tampung yang lebih besar dan fasilitas yang lebih lengkap di pusat Ibu Kota Jakarta. Pembangunannya diselesaikan dalam kurun waktu 2 tahun 6 bulan dengan biaya sekitar Rp 465 miliar.

Gedung Perpustakaan Nasional yang baru ini melengkapi ikon peradaban lain di kawasan Monumen Nasional. Ikon-ikon peradaban tersebut antara lain pusat pemerintahan Istana Kepresidenan (di bagian utara), Museum Nasional sebagai museum keberagaman etnis (di bagian barat), dan Galeri Nasional sebagai tempat pameran karya unggul bangsa (di bagian timur).

Gedung karya Bagus Restu Adi itu berdiri di lahan seluas 11.975 meter persegi (1,1 hektare). Terdiri atas 27 lantai dengan tinggi 126,3 meter membuat gedung ini diakui sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Bangunannya sendiri berkonsep green building.

Gedung baru Perpusnas yang dulunya juga merupakan properti Perpusnas berlantai tiga itu menyediakan layanan untuk semua usia, mulai dari anak-anak berusia kurang dari 10 tahun hingga orang dewasa di atas 60 tahun. Perpustakaan juga menyediakan layanan bagi penyandang disabilitas di lantai 7.

Dari segi koleksi yang dimilikinya, Perpusnas mempunyai 4 juta koleksi, yang terdiri dari buku, majalah, rekaman video, rekaman suara, hingga naskah kuno. Khusus naskah kuno, Perpusnas memiliki 11.414 koleksi. Jumlah koleksi tersebut membuat Indonesia termasuk dalam 5 negara pemilik koleksi kuno terbanyak di dunia.

Minat baca

Upaya membangun Gedung Pepustakaan Nasional merupakan bagian dari perjuangan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya. Di tangan merekalah nasib bangsa ini berada. Sebab itu, pengelolaan perpustakaan harus bisa menyesuaikan layanannya dengan karakter mereka. Salah satunya adalah pelayanan harus juga menjangkau dunia digital, tempat di mana generasi muda sekarang banyak berinteraksi.

Masalah minat baca masih menjadi tantangan berat bagi bangsa Indonesia. Survei minat baca Indonesia menunjukkan, perbandingan buku dengan manusia di Indonesia adalah 1:1.000 sedangkan di Singapura 2:1.

Diharapkan dengan kehadiran Gedung Perpustakaan Nasional yang memiliki banyak fasilitas dan mampu menampung hingga 15 ribu pengunjung per hari ini mampu menjadi oase bagi siapa saja yang haus akan ilmu pengetahuan.

Gedung yang memiliki Zona Promosi Budaya Baca dan beragam fasilitas menarik bagi anak-anak dan generasi muda ini diharapkan juga untuk mampu memberikan sumbangsih bagi peningkatan melek literasi di Indonesia.

LEAVE A REPLY

16 + 11 =