Belajar Hidup Harmoni di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan

236

1001indonesia.net – Kegiatan bertajuk Sekolah Harmoni Indonesia kali itu terasa istimewa. Pasalnya, kegiatan keempat dari lima yang direncanakan itu berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal. Bangunan bersejarah ini merupakan cagar budaya nasional sekaligus pusat kegiatan Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Saat kami tiba, tampak kesibukan di Paseban. Beberapa orang memasang atap tambahan di depan gedung yang berdiri sejak tahun 1840 ini. Para pemudi berdatangan untuk berlatih menari. Juga para lelakinya yang tampak berembuk. Segala kesibukan ini merupakan bagian dari persiapan perayaan Seren Taun yang diselenggarakan tanggal 7 hingga 14 September 2017 mendatang.

Sunda Wiwitan

Masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan didirikan oleh Kiai Muhammad Rais atau lebih dikenal dengan Pangeran Madrais Sadewa Alibasa Kusuma Wijaya Ningrat (1832-1939). Waktu itu, Pangeran Madrais Sadewa Alibasa membangkitkan kembali ajaran leluhur Sunda sebagai upaya untuk melepaskan diri dari penjajahan baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun spiritual.

Namun, upaya untuk melepaskan diri dari keterjajahan ini tidak mudah. Pada masa prakemerdekaan, pemerintahan Hindia Belanda melancarkan politik adu domba. Komunitas adat diadu dengan kalangan santri. Tidak hanya itu, untuk membatasi gerak Pangeran Sadewa Alibasa, ia dipenjara dengan tuduhan palsu, dicap gila, dan akhirnya dibuang ke Boven Digul pada 1901-1908.

Pada zaman Jepang, dimulailah pernikahan berdasarkan agama yang diakui. Hal ini semakin mendesak komunitas adat Sunda Wiwitan. Pernikahan berdasarkan adat mereka tidak diakui dan dianggap sebagai pernikahan liar.

Diskriminasi masih terus berlangsung pada masa kemerdekaan hingga saat ini. Diskriminasi terjadi dalam administrasi kependudukan, dalam bidang pendidikan, juga dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.

Untuk itu, berbagai upaya dilakukan oleh komunitas adat Sunda Wiwitan Cigugur untuk memperjuangkan hak-hak dasar mereka yang sebenarnya sudah terjamin dalam UUD 1945. Upaya ini sekaligus meneguhkan bahwa komunitas adat di Kabupaten Kuningan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia yang mengakui kebebasan dalam menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.

Dewi Kanti menyebutkan, setidaknya ada tiga cara untuk menghancurkan sebuah bangsa, yaitu dengan mengaburkan sejarahnya, menghancurkan bukti-bukti sejarahnya sehingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya, dan memutuskan hubungan bangsa tersebut dengan leluhur mereka dengan mengatakan leluhur mereka bodoh dan primitif.

Dengan demikian, melestarikan ajaran leluhur seperti yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan ini merupakan upaya untuk merawat bangsa.

Berbagai hal telah di lakukan oleh masyarakat Sunda Wiwitan di Cigugur untuk merawat keutuhan tradisi leluhur mereka. Ada pengajaran budi pekerti, sejarah, dan kesenian bagi para generasi muda. Ada pelatihan membatik bagi anak-anak muda dan para ibu. Juga berbagai upacara tradisi yang secara rutin diadakan, seperti upacara Seren Taun yang digelar setahun sekali. Paseban Tri Panca Tunggal menjadi tempat utama di mana kegiatan-kegiatan ini berlangsung.

Paseban Tri Panca Tunggal

Diperkirakan Paseban Tri Panca Tunggal didirikan pada tahun 1860 oleh Pangeran Madrais. Istilah Paseban Tri Panca Tunggal sendiri memiliki makna yang dalam. Paseban artinya tempat berkumpul. Tri atau tiga merujuk pada naluri, rasa, dan pikir yang dimiliki manusia. Panca merujuk pada lima indra. Sementara kata tunggal merujuk pada usaha manusia untuk meraih kesatuan dengan Yang Maha Tunggal.

Dengan demikian, Paseban Tri Panca Tunggal adalah gambaran upaya manusia yang memiliki naluri, rasa, dan pikir dengan segenap pancaindranya untuk meraih kemanunggalan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Paseban Tri Panca Tunggal merupakan pusat kegiatan Komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur. Selain itu, tempat ini juga sering digunakan sebagai objek penelitian bagi studi-studi pluralisme, arkeologi, sosiologi, antropologi, dan arsitektur baik oleh para pelajar maupun akademisi dari dalam dan luar negeri.

Sekolah Harmoni Indonesia

Begitu pun dengan acara yang kami adakan selama tiga hari dua malam di sana. Sekolah Harmoni Indonesia di Cigugur ini diadakan atas kerja sama PSIK-Indonesia, FES-Indonesia, dan Pemuda Lintas Iman (PELITA) Perdamaian Cirebon.

Program ini merupakan upaya untuk mempertemukan generasi muda dari beragam latar belakang suku, agama, ras, dan golongan untuk mengenal satu sama lain dan belajar bersama dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Paseban Tri Panca Tunggal menjadi tempat yang spesial untuk acara ini. Di sini, kami semua tak hanya mendengar cerita dari media atau pihak ketiga tentang perjuangan komunitas adat dalam menjaga keutuhan tradisinya. Kami mendengar cerita langsung dari mereka yang membaktikan hidupnya untuk merawat ingatan akan sejarah leluhurnya agar bangsa ini tidak lupa jati dirinya.

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke,
Dina kiwari ngancik bihari,
Seja ayeuna pikeun jaga,
Pakena gawe rahayu
Pieun heubeul jaya di buwana.

Ada masa lalu ada masa kini
Tanpa masa lalu tidak ada masa kini
Masa kini terkait masa lalu
Yang dilakukan masa kini, untuk masa depan
Berkarya yang terbaik
Untuk kesentosaan di dunia.

*) Uraian tentang Sunda Wiwitan dan kutipan di atas diambil dari presentasi yang dibuat oleh Ibu Dewi Kanti dan dibawakan oleh Kang Abdurrahman (Ketua PELITA Perdamaian Cirebon).

LEAVE A REPLY

8 − one =