Wayang Potehi, Pementasan Boneka Kain Asal Tiongkok

oleh Siti Muniroh

1127
Wayang Potehi
Wayang Potehi (Foto: solopos.com)

1001indonesia.net – Ada satu jenis wayang yang berkembang di Nusantara sejak lama, yang memiliki kekhasan tersendiri dibanding kesenian wayang yang lain. Wayang ini dimainkan oleh dalang dan asistennya dengan memasukkan jari-jari tangan mereka ke dalam kantong kain yang berbentuk boneka. Tiga jari tengah mengendalikan kepala boneka, sementara ibu jari dan kelingking mengendalikan gerak boneka tersebut. Inilah wayang potehi.

Istilah potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang). Kesenian ini berasal dari Tiongkok bagian selatan. Dibawa oleh para perantau Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara dalam ekspedisi perdagangan. Ini terjadi di sekitar 300 tahun yang lalu atau tepatnya pada abad ke-16 sampai 19 Masehi.

Legenda mengenai kemunculan kesenian ini cukup unik. Dikisahkan ada 5 orang pesakitan di sebuah penjara yang dijatuhi hukuman mati. Sementara empat pesakitan bersedih hati, satu dari mereka tidaklah demikian. Satu orang ini mengajak teman-temannya memainkan wayang yang terbuat dari kain dan mengambil panci serta piring sebagai musik pengiring hiburan mereka itu. Bunyi hiburan ini menggema hingga ke telinga kaisar dan akhirnya mereka diberi pengampunan.

Menurut sejarah, diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin (265-420 Masehi) dan berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Daerah perkembangannya, bermula dari provinsi Fujian, yaitu di Quanzhou dan Zhangzhou. Lalu berkembang ke provinsi Guangdong dan juga di Chaoshan, Taiwan.

Konon, menurut Edmund Scott, seseorang yang berkebangsaan Inggris yang pernah mengunjungi Banten pada 1602 dan 1625, pertunjukan kesenian ini berhubungan dengan tradisi penyembahan kepada dewa-dewi masyarakat Tionghoa dengan mempersembahkan kurban. Kurban ini dibakar. Setelah itu, para pendeta bersujud secara satu per satu di tanah.

Lakon Yang Dibawakan

Lakon-lakon yang dibawakan pada mulanya adalah lakon-lakon negeri Tiongkok seperti Si Jin Kui (Ceng Tang dan Ceng See), Hong Kiam Chun Chiu, Cu Hun Cau Kok, Lo Thong Sau Pak, dan Pnui Si Giok.

Setiap wayang bisa dimainkan untuk pelbagai karakter, kecuali Koan Kong, Utti Kiong, dan Thia Kau Kim, yang warna mukanya tidak bisa berubah.

Pada perkembangannya, lakon-lakon yang dibawakan mengambil cerita-cerita dari luar kisah klasik, seperti novel Se Yu (Pilgrimage to the West) dengan tokohnya Kera Sakti (Sun Go Kong).

Lakon Sie Djin Kui (Ceng Tang dan Ceng See) adalah kisah mengenai peperangan 2 negara. Salah satu dari dua negara tersebut dipimpin oleh seorang jenderal yang konon punya peliharaan tak kasat mata, yakni seekor harimau putih. Peliharaannya inilah yang membuat Sang Jenderal menjadi sakti mandraguna dan ditakuti lawan-lawannya.

Adapun Ceng Tang dan Ceng See yang merupakan sub-judul dari kisah Sie Djin Kui adalah episode-episode peperangan itu sendiri. Di salah satu episode ini, Sang Jenderal ini mati dibunuh oleh putranya sendiri yang bernama Sie Teng Shan.

Lakon Sie Djin Kui ini adalah lakon klasik yang sering kali dipentaskan di dalam pertunjukan wayang potehi di samping lakon lainnya, yakni Poei Si Giok alias Fang She Yu. Lakon yang disebutkan terakhir ini pernah dimainkan oleh Jet Li beberapa tahun lalu.

Bahasa yang digunakan dalam membawakan lakon pada mula kemunculan wayang potehi adalah dialek Hokkian. Pada abad ke-18, Ernst Christoph Barchewitz (seorang Jerman yang tinggal selama 11 tahun di Jawa) mengatakan bahwa pertunjukan-pertunjukan wayang potehi yang digelar di Batavia, dibawakan dalam bahasa Tionghoa.

Lambat laun, ketika mulai terjadi pengadopsian seperti ini, seperti kisah tokoh Si Jin Kui menjadi tokoh Joko Sudiro dan tokoh Li Si Bin (kaisar kedua Dinasti Tong) menjadi tokoh Prabu Lisan Puro (bagi penggemar berat ketoprak, tentu tidak asing dengan kisah tokoh Prabu ini), dialeknya pun dimainkan dengan bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Dengan perubahan bahasa yang digunakan, para penduduk non-Tionghoa pun bisa menikmati cerita yang dimainkan.

Alat Musik Pengiring

Alat musik wayang potehi terdiri atas gembreng, kecer atau simbal, suling, gitar, rebab, tambur, kendang, terompet dan piak-kou. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentimeter, mirip kentongan kecil penjual bakmi, yang jika salah pukul tidak akan mengeluarkan bunyi “trok”-“trok” seperti seharusnya.

Kombinasi harmonis dari alat-alat musik ini menimbulkan perasaan tersendiri di hati penontonnya.

Perkembangan Wayang Potehi

Di negara asalnya, wayang potehi dimainkan di pusat-pusat kota. Biasanya pada saat dilaksanakannya ritual ibadah umat Tionghoa dan acara Imlek. Di Nusantara pun, kesenian ini banyak dipentaskan di halaman kelenteng-kelenteng yang tersebar di kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa.

Di masa Presiden Soekarno, pertunjukkan wayang ini cukup populer di tengah masyarakat. Namun, di era Orde Baru atau tepatnya di tahun 1970-an sampai tahun 1990-an, kesenian ini mengalami masa suram.

Ini dikarenakan tindakan represif penguasa Orde Baru terhadap budaya Tionghoa. Perizinan pementasan juga dipersulit. Di masa inilah pertunjukan kesenian ini menjadi amat susah ditemukan.

Padahal, nilai-nilai budaya yang dibawa serta oleh orang Tionghoa sejak berabad-abad lalu telah tumbuh bersama budaya lokal dan menjadi budaya Indonesia. Ini dapat diamati dari para penggiat wayang potehi yang sebagian besar adalah penduduk asli Indonesia.

Pada mulanya, para dalang wayang ini banyak yang berasal dari keturunan Tionghoa. Namun, keberadaannya makin lama makin berkurang. Kekurangan ini kemudian digantikan oleh para dalang yang merupakan penduduk asli Indonesia. Jumlahnya pun makin banyak.

Dengan demikian, secara logis, wayang potehi sudah menjadi bagian dari kesenian lokal Indonesia. Sebagaimana kesenian-kesenian wayang lainnya yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tapi juga merupakan sarana perekat sosial, begitu pula dengan wayang potehi ini.

Kesenian wayang potehi menjadi pengikat kehidupan sosial para penggemarnya. Maka, pada saat kesenian ini direpresi, wadah perekat sosial pun lenyap.

Namun, angin segar kembali datang dengan masuknya era reformasi. Pada masa ini, wayang potehi dipentaskan kembali. Tidak lagi sembunyi-sembunyi, melainkan digelar di mana-mana. Tidak hanya dimainkan di acara perkawinan, melainkan merambah hingga ke pusat-pusat perbelanjaan, khususnya pada saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Sumber:

  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/wayang-potehi-persenyawaan-budaya-tionghoa-dan-nusantara
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Potehi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 6 =