Tradisi Perang Pandan Mekare-Kare di Desa Tenganan Bali

95
Perang Pandan Makare-kare
Perang Pandan Makare-kare merupakan sebuah budaya leluhur yang berusaha dijaga secara turun temurun oleh masyarakat Bali yang tinggal di Desa Adat Tenganan Pegringsingan (Foto: baligateway.co.id)

1001indonesia.net – Salah satu tradisi unik di Bali, khususnya di Desa Bali Aga Tenganan, adalah perang pandan (mekare-kare) atau mageret pandan. Mekare-kare  merupakan upacara berupa perang menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng yang terbuat dari rotan.

Ritual mekare-kare merupakan bagian dari upacara sambah, dilaksanakan pada sasih kelima (bulan ke-5) menurut penanggalan desa setempat. Upacara ini biasanya dilaksanakan di depan Bale Patemu, mulai pukul 14.00. Warga yang menghadiri upacara adat ini datang menggunakan pakaian adat Tenganan.

Kaum pria menggunakan pakaian adat madya, terdiri atas sarung, selendang, serta ikat kepala, dan tanpa memakai baju atau hanya bertelanjang dada.

Sedangkan para perempuan memakai pakaian khas Tenganan yang berupa kain tenun Pegringsingan. Sebelum acara puncaknya dimulai, seluruh peserta berkeliling desa untuk memohon keselamatan.

Baca juga: Kain Gringsing Khas Desa Tenganan, Karangasem, Bali

Para prianya kemudian bertarung satu lawan satu. Seperti namanya, senjata yang digunakan dalam ritual perang ini adalah pandan berduri yang diikat sepanjang 25 sampai 30 cm. Pandan ini menjadi simbol dari sebuah gada. Para peserta juga membawa sebuah perisai yang terbuat dari rotan.

“Perang” tersebut wajib diikuti semua pria yang sudah dianggap dewasa di Desa Tenganan. Pelaksanaannya dilakukan bergilir selama lebih kurang tiga jam. Masing-masing babak berlangsung sekitar 3 menit. Setelah satu babak selesai, pasangan lain akan bergantian masuk untuk melakukan duel tersebut.

Saat perang berlangsung, peserta berdiri berhadap-hadapan satu lawan satu. Setiap peserta membawa seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai pada tangan kiri. Seorang wasit berada di tengah-tengah kedua peserta.

Ketika aba-aba dimulai, kedua peserta dengan serta merta saling serang dengan saling merangkul sambil memukulkan pandan di punggung lawan. Sambil dipukulkan, pandan tersebut juga digeretkan. Sebab itulah ritual ini juga dinamakan upacara mageret pandan.

Perang Pandan Makare-kare
Foto: wisata-bali.com

Tak terbayang bagaimana perihnya ketika duri-duri pandan itu melukai punggung peserta. Namun, di sinilah letak adu nyali setiap peserta diuji. Mekare-kare ini diiringi dengan musik gamelan untuk memacu semangat.

Meski sarat dengan kekerasan, duel ini bukan sekadar ajang jago-jagoan. Tidak ada rasa dendam di antara yang bertanding.

Setelah pertarungan selesai, masyarakat melakukan megibung, tradisi makan bersama-sama. Para peserta perang pandan mengobati luka-luka yang timbul dengan ramuan tradisional.

Luka-luka yang ada pada bagian tubuh terkena geretan duri daun pandan diobati dengan suatu cairan (boreh) yang dibuat dari jenis umbi tanaman, seperti lengkuwas (isen) dan
kunir (kunyit). Lengkuwas dan kunir ini diparut. Hasil parutannya dicampur dengan cuka.

Borehan tersebut kemudian dipulas pada bagian tubuh yang terluka. Pada awalnya memang terasa perih sekali, namun tidak berlangsung lama. Setelah obat ramuan meresap sampai kering, bekas-bekas luka dari perang pandan menjadi kering juga. Luka akan sembuh tanpa ada bekasnya.

Tradisi yang masih dirawat sampai sekarang ini merupakan bentuk ritual pemujaan masyarakat Tenganan kepada Dewa Indra sang dewa perang.

Baca: Desa Tenganan, Keunikan Desa Kuno di Pulau Bali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.