Tradisi Mekotek, Upacara Memohon Keselamatan Desa Adat Munggu

667
Upacara Mekotek atau Ngerebeg Desa Adat Munggu, Mengwi, Tabanan, Bali
Upacara Mekotek atau Ngerebeg Desa Adat Munggu, Mengwi, Tabanan, Bali. (Foto: wisatadewata.com)

1001indonesia.net – Tradisi mekotek atau ngerebeg merupakan upacara memohon keselamatan dan tolak bala yang dilaksanakan secara rutin setiap 6 bulan sekali atau 210 hari menurut kalender Bali oleh masyarakat Hindu di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Tabanan, Bali.

Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun dari masa kejayaan Kerajaan Mengwi yang dulu beristana di Desa Adat Munggu. Saat ini, upacara ngerebeg atau mekotek telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Awalnya, upacara mekotek merupakan acara sambutan rakyat yang mengelu-elukan pasukan kerajaan Mengwi yang pulang dari peperangan melawan Kerajaan Blambangan dan membawa kemenangan. Acara sambutan ini kemudian berkembang menjadi sebuah tradisi yang digelar secara rutin.

Makna Mekotek

Tradisi mekotek memiliki tiga fungsi. Pertama, tradisi yang berawal dari acara sambutan terhadap pasukan yang memenangkan peperangan dalam upaya memperluas wilayah Kerajaan Mengwi ini merupakan wujud penghargaan terhadap jasa para pahlawan.

Kedua, upacara adat ini berfungsi untuk memohon keselamatan atau sebagai penolak bala untuk melindungi masyarakat dari roh-roh jahat. Juga sebagai permohonan untuk mendapat berkah dan kesuburan lahan pertanian yang ada di Mengwi.

Ketiga, sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal pada generasi muda dan sebagai perekat sosial. Tradisi Mekotek diikuti oleh masyarakat dari 15 Banjar Adat di Desa Adat Mungguh, dari usia 12 hingga 60 tahun.

Prosesnya dimulai pukul 02.00 Wita dengan melakukan sembahyang bersama di Pura Puseh Munggu sebagai ungkapan terima kasih atas berkah yang dilimpahkan dan untuk memohon keselamatan. Setelah itu, peserta berjalan bersama ke sumber air dengan membawa tongkat dari kayu pulet yang sudah dikupas kulitnya sepanjang 2-2,5 meter. Kayu pulet merupakan kayu khas Bali yang sangat kuat.

Sambil berjalan, kayu diadu antara yang satu dengan lainnya sehingga menghasilkan bunyi: “tek… tek… tek.” Inilah mengapa upacara ini disebut mekotek.

Para peserta kemudian membentuk kelompok-kelompok, setiap kelompok beranggotakan 50 orang. Masing-masing kelompok lalu menyusun kayu-kayu  sedemikian rupa sehingga membentuk piramida kayu yang bisa dinaiki oleh orang. Peserta kemudian mengelilingi desa sekitar hingga sore hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + one =