Tradisi Haul atau Sedekah Bumi Gresik

oleh Siti Muniroh

1128
Tradisi Sedekah Bumi Gresik
Ilustrasi (Foto: metropantura.com)

1001indonesia.net – Tradisi sedekah bumi Gresik yang hingga kini dilaksanakan secara rutin setiap tahun memiliki sejarah yang panjang. Tradisi ini berawal di sekitar tahun 1590 M atau pada masa akhir pemerintahan Sunan Prapen. Saat itu Sang Sunan membangun sebuah makam beserta cungkupnya untuk kakek beliau yang tidak lain adalah Sunan Giri. Dalam proses pembangunan ini, ia juga melaksanakan upacara penghormatan terhadap kakeknya, para leluhur, dan para wali atas usaha mereka melakukan perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di Gresik.

Upacara penghormatan ini digelar dengan melihat kepada kebudayaan lokal. Suatu kebudayaan yang bernuansa agamis Hindu dan Buddha, yang merupakan kepercayaan masyarakat Gresik sebelum Islam datang kepada mereka. Upacara ini disebut haul, yakni acara memperingati hari kematian seseorang, baik orang biasa maupun seorang tokoh, yang diadakan tiap tahun pada hari wafatnya orang tersebut.

Menurut Mukhtar Jamil, seorang tokoh agama di Gresik, ada 3 alasan yang paling mendasar mengapa upacara ini digelar oleh Sunan Prapen.

Pertama, untuk mengembalikan wibawa Sunan Giri karena adanya serangan dari Kerajaan Majapahait. Setelah Sunan Giri wafat, pemerintahan digantikan oleh anaknya, yakni Sunan Dalem. Namun, baru tiga tahun memerintah, Sunan Dalem meninggal dunia. Hal ini membuat kondisi pemerintahan menjadi tidak stabil. Pemerintahan lalu digantikan oleh Sunan Prapen. Beliau ingin sekali mengembalikan kewibawaan nenek moyangnya melalui tradisi haul dengan tata cara mengungkap sejarah kakeknya.

Kedua, untuk membangkitkan semangat ibadah.

Ketiga, untuk membangkitkan semangat perjuangan dan kerukunan.

Tradisi haul yang kian berkembang hingga saat ini di Gresik, terutama di kelurahan Lumpur, didahului dengan mengadakan ziarah (nyekar) ke makam Sunan Giri, Sunan Prapen, dan sunan-sunan lain serta ke makam Ki Sindujoyo. Menurut penuturan warga terdapat dua makam Ki Sindujoyo yang satu berada di samping kanan luar makam Sunan Prapen dan yang satu terdapat di Desa Lumpur, Gresik.

Di  sekitar tahun 1965, tradisi haul ini berubah namanya menjadi Wayang Bumi atau disebut juga Sedekah Bumi. Terdapat mitologi tentang hal ini.

Syahdan, terdapat Buyut Poleng yang tidak lain berasal dari ular-ular yang menjelma menjadi manusia. Ia muncul untuk menemui seseorang dan menyuruh penduduk mengadakan Wayang Bumi dengan maksud mengenang Sindujoyo.

Tradisi ini diadakan dengan menyerahkan hasil tangkapan ikan warga yang dilakukan secara suka rela dan bergotong royong kepada panitia Wayang Bumi (hal ini dapat dipahami pula karena Gresik memiliki pelabuhan yang merupakan jalur perdagangan baik tingkat nasional maupun internasional).

Prosesi Wayang Bumi diawali dengan menyembelih sapi di Balai Gedhe, kemudian melekan (tidak tidur di malam hari) di sana, wayangan, bandungan, tandaan tiga hari tiga malam dan mecah endhas. Namun, lantaran dalam tradisi ini terdapat kegiatan yang mengandung unsur maksiat, yaitu minum-minuman keras, maka para ulama pada waktu itu berusaha untuk meluruskan tradisi Wayang Bumi.

Dengan demikian, alur acara sedekah bumi ini lalu diubah. Pertama-tama semua warga melakukan nyekar (ziarah) ke makam Sunan Prapen dan makam Sindujoyo dengan berjalan kaki (pada saat sekarang menggunakan kendaraan). Malam harinya diadakan pembacaan macapat (pembacaan riwayat Sindujoyo).

Esok harinya diadakan mujahadah dengan membaca surah yasin dan tahlil, kadang dengan khataman al-Quran 30 juz yang dibaca seharian. Malamnya diadakan pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan terkadang diisi pengajian.

Hiburannya adalah hadrah atau kasidah, kemudian pencak macan (meski tidak selamanya hiburan-hiburan ini disertakan).

Sedekah Bumi Desa Setro, Gresik

Salah satu desa yang menggelar upacara adat Sedekah Bumi adalah Desa Setro. Namun, Desa Setro menggelar upacara ini dengan latar belakang sejarah yang berbeda. Mereka melaksanakannya lebih sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang mereka terima. Kapan persisnya upacara ini dimulai tidaklah pasti.

Ahmad Junaidi, salah satu warga Desa Setro, mengatakan bahwa tradisi ini telah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda atau sekitar awal abad 19. Ada pula yang mengatakan kalau tradisi Sedekah Bumi ini telah digelar sejak lurah yang pertama, yakni pada tahun 1939 dan dilestarikan sampai saat ini.

Secara mitologis, tradisi ini juga diperuntukkan untuk memberi penghormatan kepada leluhur desa tersebut, yakni kepada Dahyang Gadang Kyai Bulu dan Nyai Bulu. Awalnya, upacara Sedekah Bumi ini bernama tegal desa, ruwahan desa, dan bersih desa. Tujuan dari pelaksanaan Sedekah Bumi adalah untuk memohon keselamatan desa dari segala malapetaka. Hal ini lantaran dahulu kala di desa ini mengalami pagebluk; kemarau yang sangat panjang dan warga desa tidak dapat menanam padi maupun tanaman lainnya.

Pada suatu ketika sekelompok penggembala kambing (cah angon) memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan. Ternyata doa anak-anak penggembala tadi dikabulkan oleh Tuhan dan turun hujan dengan lebat. Seketika itu anak-anak penggembala kambing (cah angon) tadi berjingkrak-jingkrak sangat gembira.

Maka sejak saat itu penduduk Desa Setro mengadakan tegal desa (selametan desa) untuk merayakan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara ini dilakukan di bawah pohon besar di tengah-tengah desa. Nenek moyang desa ini menyebutnya sebagai Kyai Bulu dan Nyai Bulu. Konon kedua orang ini merupakan orang yang pertama kali melakukan babad desa.

Para penduduk membawa berbagai macam makanan, terutama umbi-umbian (tela pendem) hasil bumi dan tumpeng untuk didoakan di bawah pohon Kyai Bulu dan Nyai Bulu dan selanjutnya dimakan bersama. Pohon itu sendiri oleh penduduk desa dikeramatkan.

Ia dibalut dengan kain mori (kain kafan) sebagai penghormatan kepada Kyai Bulu. Oleh orang yang kurang waras (sakit ingatan), pohon ini bagian pangkalnya dibakar sehingga lama kelamaan pangkalnya menganga. Lama-kelamaan, pohon ini tumbang.

Mulai tahun 1966, Sedekah bumi lalu diselenggarakan di balai desa. Pada tahun 2005, warga masyarakat mengadakan kreasi dan inovasi dengan mengarak tumpeng raksasa keliling desa dan berakhir di balai desa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah panen raya atau sekitar bulan Juli – September.

Sebelum acara inti ritual Sedekah Bumi, berbagai tradisi kesenian ditampilkan seperti wayang, ludruk, orkes, dan lain-lain. Acara ini diadakan pada malam hari sebelum Sedekah Bumi digelar.

Bahan bacaan:

Mustolehudin, “Merawat Tradisi Membangun harmoni: Tinjauan Sosiologis Tradisi Haul dan Sedekah Bumi di Gresik,” dalam Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 13, September-Desember 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =