Toleransi dalam Masyarakat Nusantara

72
Indonesia, Zamrud Toleransi
Ilustrasi (Sumber: Shutterstock)

1001indonesia.net – Ada ujaran “membunuh satu orang sama saja dengan membunuh seluruh kemanusiaan.” Ujaran ini dikenal dalam semua religi besar di dunia, seperti Islam, Kristiani, Yahudi, Buddha, Konfusian, maupun Hindu.

Kekuatan ujaran ini ada dalam kemampuannya merangkum seluruh pengalaman manusia untuk menghormati kehidupan (yang kini dan yang kelak) serta membangun hormat itu bersama manusia lain. Pengalaman kebersamaan dengan manusia lain inilah yang
menghubungkan kita dengan “toleransi”, yaitu praktik menghormati orang lain sambil terus mencari titik temu.

Ada baiknya kita juga melihat “toleransi” itu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pada 2005, Lembaga Nobel Norwegia memberikan penghargaan Nobel Ekonomi pada Robert John Aumann dan Thomas Schelling untuk perannya dalam meningkatkan pemahaman mengenai konflik dan kerja sama melalui analisis permainan dan teori (game theory).

Dalam model ekonomi, kerja sama dan konflik dijelaskan. Ada upaya untuk membangun kerja sama dengan membangun pemahaman dan praktik mencari titik temu.

Begitu juga dengan studi-studi sosial, misalnya yang banyak didalami oleh Dr. Tamrin Amal Tomagola, mengenai akar-akar konflik dan damai dalam masyarakat Indonesia. “Toleransi” memasuki ranah ilmu pengetahuan dan upaya-upaya dunia untuk membangun kerja sama.

Sedemikian penting “toleransi” ini hingga perlu adanya upaya pembibitan, penanaman, dan
penyuburan tanah.

Berhadapan dengan tragedi kemanusiaan, perang, konflik berkepanjangan, perebutan wilayah hidup, dan pemarjinalan pihak-pihak, “toleransi” ini menjadi suatu sikap
mental, budaya, dan juga upaya pewarisan.

Nusantara adalah simbol sekaligus pengalaman yang amat panjang dalam budi daya toleransi. Nusantara mempunyai contoh dan rujukan yang amat banyak dan penting.

Sejak sebelum Republik, sampai dengan usia lebih dari 70 tahun Republik, budi daya toleransi ini amat dikagumi oleh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan peradaban-peradaban dunia tumbuh subur di Indonesia, tanpa yang satu meniadakan yang lain. Sekaligus, ada interaksi antarperadaban tersebut.

Nusantara memiliki pengalaman toleransi dalam simbol. Sebagai contoh, “bubur merah putih” yang menyimbolkan rasa syukur dan bakti manusia pada Tuhan Sang Pencipta.

Hal ini berhubungan dengan simbol dari kelapa (daging buah kelapa dan gula kelapa) yang menyimbolkan kehidupan, serta beras yang juga simbol kehidupan.

Juga mengambil makna dari tradisi Islam Shia, serta makna dari masyarakat Jawa mengenai “nama” yang menyimbolkan kehidupan. Simbol ini diwujudkan dalam upacara
kecil di rumah-rumah, terutama masyarakat Jawa, sebagai wujud kebersamaan.

Apa pun agamanya, apa pun latar tradisinya, upacara “tingkat keluarga” ini menjadi simbol
“kembali ke keluarga, kembali ke kehidupan.” Dalam masyarakat Maluku ada “Pela Gandong” yang menjadi simbol sekaligus praktik untuk saling merangkul orang lain dengan semangat persaudaraan. Ada banyak contoh serupa lainnya.

Nusantara memiliki pengalaman toleransi dalam praktik. Masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia mempunyai kesempatan untuk berkontribusi dalam suatu peristiwa kebersamaan. Ada istilah ewuh atau sambatan untuk masyarakat Jawa, ngayah untuk masyarakat Bali. Begitu juga berbagai ragam model jimpitan atau urunan yang selalu menjadi wujud toleransi dalam keseharian.

Praktik toleransi yang satu ini kemudian diserap dalam bentuk modern dalam “negara kesejahteraan”. Dalam hal ini, Indonesia juga mengambil olah unsur-unsur dasar dari Nusantara sehingga Indonesia menjadi masyarakat yang tidak membudidayakan kasta atau stratifikasi total yang bersifat menindas.

Nusantara memiliki pengalaman toleransi dalam diri tokoh. Indonesia dikaruniai tokoh-tokoh besar yang mengusung penghormatan terhadap orang lain. Kebesaran mereka
melampaui ruang Indonesia, dan akan selalu dikagumi ratusan tahun mendatang.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai pendekar pembela kebinekaan Indonesia. Sukarno menjadi penyambung tokoh-tokoh berbeda ideologi pada masa kelahiran republik. Hatta menegaskan bahwa upaya “mencintai Indonesia yang besar” membutuhkan “cinta yang juga besar”.

Kita mempunyai ratusan tokoh lain yang mempunyai kaliber serupa, yang membuat Indonesia dikenal sebagai tanah yang subur bagi peradaban dunia untuk berkembang. Pengalaman toleransi ada dalam simbol, praktik, dan tokoh. Namun, lanskapnya ada pada wilayah geografi.

Wilayah geografi ini memberikan kita informasi dan realitas Nusantara—dari sebelum Republik sampai dengan lebih 70 tahun usia Republik. Realitas Nusantara ini tidak pernah berhenti. Realitas Nusantara ini sekaligus menjadi deposit atau sedimen dari budaya toleransi yang ditumbuhkembangkan.

Dengan “menunjuk” titik-titik pengalaman toleransi dalam lanskap geografi, ada suatu pengalaman lain yang hendak ditumbuhkan, yaitu kesadaran bahwa pengalaman toleransi
ini adalah titik-titik pertumbuhan peradaban Nusantara.

Titik-titik pengalaman ini terbentang dari barat sampai timur, seperti untaian zamrud.
Untaian ini menjadi saksi betapa kuat dan tahan lamanya pengalaman ini.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud Toleransi. Dimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

2 × 2 =