Terasering, Teknologi Pertanian pada Tanah Berlereng

1502
Terasering, Teknologi Pertanian pada Tanah Berlereng
Sawah terasering di daerah Bali. (Sumber: blingurah.com)

1001indonesia – Terasering berarti tata bertingkat atas tanah. Tanah berlereng di lempeng tanah Nusantara dibangun dengan susunan bertingkat terutama dalam pengelolaan tanaman pangan. Dalam hal tanaman padi, dibentuklah pola bertingkat dengan arah masuk air yang diperhitungkan dengan baik. Dengan cara ini, sisi lereng tidak ada yang terbuang. Tata tanah ini sekaligus berfungsi sebagai kekuatan agar bangun tanah terjaga.

Di Nusantara, pegunungan selalu menjadi pembetuk utama lanskap. Dataran selalu diikuti dengan ragam kemiringan. Pembentukan suatu desa juga selalu memperhitungkan ekosistem alam, termasuk air, perbukitan dan pegunungan.

Di Tana Toraja, misalnya, kampung selalu dibangun secara strategis untuk dapat memiliki pertahanan (yang berarti ada di tempat yang relatif tinggi di perbukitan) dan mempunyai dataran terbatas untuk dapat dibangun rumah yang besar. Begitu juga dengan pembukaan lahan.

Pembukaan lahan selalu mempunyai risiko merusak lahan dibandingkan jika mendiamkannya tetap menjadi semak hutan mengingat kemiringan yang dipunyai. Ketika membuka lahan, teknik terasering sudah diperhitungkan. Luasan dan fondasi lahan di bawah selalu harus lebih kuat daripada yang ada di atas. Sebaliknya, luasan dan fondasi lahan atas harus mampu mengalirkan air secara memadai ke bawah.

Pertanian yang dikembangkan biasanya sawah, atau kombinasi sawah dan ladang. Untuk sawah, air harus tersedia hampir di segala waktu. Untuk itu, akses terhadap sumber air menjadi penting.

Sistem terasering justru harus dapat membuat tanah tidak tergenang air. Ladang kentang, misalnya, membutuhkan terasering yang memberikan air namun tidak basah. Di tiap tangga terasering, diperkuat dengan tanaman tertentu sehingga hara tanah tidak hilang dibawa air, terutama ketika hujan.

Perlu dijelaskan bahwa terasering sudah menjadi teknologi masyarakat Austronesia, termasuk masyarakat-masyarakat Nusantara, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Filipina sendiri mendapatkan pengakuan UNESCO atas terasering mereka.

Terasering di Nusantara berkembang di hampir seluruh masyarakat, termasuk di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Lombok, Manggarai-Flores, Bali, dan lainnya. Hal ini menunjukkan adanya daya penyesuaian yang kuat masyarakat terhadap alam, tanpa harus merusak alam. Sistem manajemen air juga dikuasai dan diintegrasikan ke dapat bentuk-bentuk syair, pantun, babad atau folklor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 3 =